Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Baru Covid-19 Melonjak di AS, Trump Masa Bodoh

Lonjakan kasus baru infeksi virus corona (Covid-19) di Amerika Serikat kian meresahkan. Tapi, Presiden Donald Trump terkesan bersikap tak peduli.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 Juni 2020  |  06:40 WIB
Presiden AS Donald Trump saat berkunjung ke pabrik Rawsonville Ford Motor Company di Ypsilanti, Michigan, AS (21/5/2020) - Antara
Presiden AS Donald Trump saat berkunjung ke pabrik Rawsonville Ford Motor Company di Ypsilanti, Michigan, AS (21/5/2020) - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Lonjakan kasus baru infeksi virus corona (Covid-19) di Amerika Serikat kian meresahkan. Namun, Presiden Donald Trump terkesan bersikap tak peduli.

Trump belum mengumumkan langkah-langkah baru untuk meredam bangkitnya wabah penyakit tersebut. Presiden ke-45 AS ini tetap melanjutkan jadwal pertemuan dan kunjungan normal ketika rumah sakit di AS disesaki dengan pasien.

Trump juga belum meminta warga Amerika untuk mengubah rutinitas harian mereka. Beberapa pejabat pemerintah mengatakan lockdown yang telah menggoyang ekonomi AS tidak akan diterapkan kembali.

Trump bahkan kerap terlihat tidak mengenakan masker ketika sedang bepergian atau bersanding dengan pejabat lain. Padahal, penggunaan masker merupakan salah satu tindak pencegahan utama yang didorong banyak pakar kesehatan.

Pada Rabu (24/6/2020) saja, kasus baru Covid-19 bertambah hampir 35.000 orang. Lonjakan ini justru dapat menghalangi pemulihan ekonomi sebelum akhir tahun seperti yang telah dijanjikan Trump.

Citranya menjelang pemilihan presiden (pilpres) AS juga bisa terancam. Beberapa jajak pendapat menunjukkan kandidat Partai Demokrat, Joe Biden, unggul di sejumlah negara bagian utama dan secara nasional.

Kekhawatiran atas bertambahnya jumlah korban jiwa akibat Covid-19 menjadi bobot keresahan lain setelah Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington memprediksi virus ini akan membunuh 180.000 orang di Amerika pada Oktober.

Tetap saja, para pejabat pemerintah masih terkesan meremehkan lonjakan kasus dengan mengatakan bahwa penyebaran baru ini masih dapat dikendalikan dan bahwa angka kematian belum mulai menanjak.

“Kita akan melihat hal-hal seperti ini,” tutur Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow kepada awak media pada Kamis (25/6/2020), merujuk pada meningkatnya jumlah kasus.

“Namun, ekonomi tidak akan ditutup lagi,” tegasnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Banyak gubernur negara bagian bertindak jauh lebih agresif daripada Trump. Pada Kamis, Texas memutuskan untuk menghentikan pembukaan kembali (reopening) secara bertahap setelah Gubernur Greg Abbott memperingatkan gelombang baru yang tajam.

"Hal terakhir yang ingin kami lakukan sebagai negara bagian adalah mengambil langkah mundur dan menutup bisnis,” ungkap Abbott dalam sebuah pernyataan.

Peningkatan angka kasus utamanya sangat akut di wilayah Sun Belt, terdiri dari 15 negara bagian selatan yang membentang mulai dari tenggara hingga barat daya Amerika.

Negara-negara bagian di wilayah ini termasuk yang pertama kali melonggarkan aturan jarak sosial yang diberlakukan untuk memperlambat penyebaran virus.

Pada Kamis, Wakil Presiden Mike Pence mengatakan pemerintahannya memantau negara-negara bagian tersebut. Tapi ia juga menekankan bahwa kasus-kasus di sekitar 38 negara bagian relatif stabil bahkan menurun.

“Meski selama sepekan terakhir ini kita melihat peningkatan kasus dan penyebaran di beberapa negara bagian wilayah Selatan, saya ingin meyakinkan Anda semua bahwa gugus tugas kami dan segenap jajaran pemerintahan kami bekerja terus menerus dengan para pemimpin di negara-negara itu untuk meresponsnya,” ungkap Pence.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pilpres amerika Donald Trump covid-19

Sumber : bloomberg

Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top