Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspatriat 'Kabur' dari Dubai, Ekonomi Terancam

Pekerja asing ramai-ramai meninggalkan Dubai. Ekonomi salah satu kota paling bergengsi di Uni Emirat Arab (UEA) ini pun terancam.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Juni 2020  |  10:44 WIB
Properti Dubai, Uni Emirat Arab - Istimewa
Properti Dubai, Uni Emirat Arab - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pekerja asing ramai-ramai meninggalkan Dubai. Ekonomi salah satu kota paling bergengsi di Uni Emirat Arab (UEA) ini pun terancam.

Contoh saja Sarah Sissons. Wanita berusia 39 tahun ini memutuskan kembali ke Australia pada Mei bersama suami dan putrinya. Keputusan itu diambil hanya dalam waktu kurang dari sebulan, jauh lebih pendek dari masa 25 tahun yang dihabiskan Sissons di Dubai.

Sissons pertama kali datang ke pusat bisnis kawasan Teluk ini ketika masih remaja. Saat itu, ayahnya menjadi pilot untuk maskapai Emirates.

Dubai adalah rumah bagi saya,” kata Sissons, yang memiliki sebuah kafe kecil dan bekerja sebagai freelance konsultan sumber daya manusia.

“Tapi [biaya hidup] mahal di sini dan tidak ada kesejahteraan untuk ekspatriat. Jika saya memakai besaran uang yang sama ke Australia dan kami kehabisan segalanya, setidaknya kami akan memiliki asuransi kesehatan dan sekolah gratis,” ungkapnya.

Jutaan orang asing di kawasan Teluk menghadapi pilihan serupa ketika dampak dari pandemi virus corona (Covid-19) dan penurunan harga minyak mentah memaksa adanya penyesuaian ekonomi.

Sementara itu, para monarki Arab yang kaya raya, selama beberapa dekade, telah bergantung pada pekerja asing untuk mengubah desa-desa yang sepi menjadi kota-kota kosmopolitan.

Banyak orang asing tumbuh atau membesarkan keluarga di wilayah ini. Tapi, tanpa adanya tempat tinggal yang permanen atau tunjangan untuk menjembatani masa-masa sulit ini, keberadaan mereka menjadi tidak pasti.

Dampaknya tampak paling nyata di Dubai. Model ekonomi kota ini dibangun di atas keberadaan penduduk asing yang mencakup sekitar 90 persen dari populasinya.

Oxford Economics memperkirakan Uni Emirat Arab dapat kehilangan 900.000 pekerjaan dan melihat 10 persen penduduknya pergi. Surat-surat kabar dipenuhi dengan laporan tentang hengkangnya buruh-buruh asal India, Pakistan, dan Afghanistan.

Namun, kehilangan pekerja berpenghasilan lebih tinggi akan memberi efek pukulan menyakitkan pada sebuah kota yang diarahkan pada pertumbuhan berkelanjutan.

“Eksodus penduduk kelas menengah dapat menciptakan spiral kematian bagi perekonomian. Sektor-sektor yang mengandalkan para profesional itu dan keluarga mereka seperti restoran, barang mewah, sekolah, dan klinik akan tertekan ketika banyak yang pergi,” ujar Analis Timur Tengah di Stratfor, Ryan Bohl.

“Tanpa dukungan pemerintah, layanan-layanan tersebut dapat memberhentikan orang-orang. Mereka kemudian akan meninggalkan negara itu dan menciptakan lebih banyak gelombang eksodus,” jelasnya.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengatakan lebih dari 1 miliar pekerja di seluruh dunia berisiko tinggi terdampak pemotongan gaji atau kehilangan pekerjaan karena pandemi Covid-19.

Beberapa pemimpin Teluk, seperti Perdana Menteri Kuwait, mengimbau orang asing untuk pergi karena kekhawatiran soal kesediaan pekerjaan baru bagi penduduk setempat. Tapi perhitungan untuk Dubai, yang ekonominya bergantung pada perannya sebagai pusat perdagangan, pariwisata, dan bisnis global, berbeda.

Krisis ini kemungkinan akan mempercepat upaya UEA agar memungkinkan penduduk tinggal secara permanen. Untuk saat ini, UEA memberi perpanjangan otomatis kepada orang-orang dengan izin tinggal yang kedaluwarsa serta telah menangguhkan biaya izin kerja dan beberapa denda.

UEA juga mendorong rekrutmen lokal serta telah mendorong bank-bank untuk menyediakan pinjaman tanpa bunga berikut jeda pembayaran untuk keluarga dan bisnis yang mengalami kesulitan.

Seorang juru bicara pemerintah Dubai mengatakan pihak otoritas sedang meninjau lebih banyak bantuan untuk sektor swasta.

“Dubai dianggap rumah bagi banyak orang dan akan selalu berusaha untuk melakukan yang diperlukan untuk menyambut mereka kembali,” tuturnya, seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (10/6/2020).

Tantangan utama bagi Dubai adalah keterjangkauan. Kota ini telah menjadi basis yang semakin mahal untuk banyak bisnis dan penduduk. Pada 2013, Dubai menempati peringkat 90 sebagai tempat termahal untuk ekspatriat, menurut perusahaan konsultan Mercer.

Posisi Dubai kini melonjak ke peringkat 23, menjadikannya kota paling mahal di Timur Tengah, meskipun lebih rendah dari posisi 21 pada 2019 seiring dengan turunnya harga sewa karena kelebihan pasokan.

Pendidikan muncul sebagai faktor penentu bagi para keluarga, terutama karena semakin banyak penyedia kerja yang menghapus paket berisikan biaya kuliah.

Meski kini pilihan sekolah menjadi lebih luas dengan rentang harga berbeda, biaya sekolah menengah di Dubai adalah yang tertinggi di kawasan itu yakni sebesar US$11.402 pada 2019, menurut International Schools Database.

“Fakta ini kemungkinan akan membuat para orang tua beralih ke sekolah yang lebih murah dan mendesak pemotongan biaya,” tutur Managing Partner di MMK Capital, Mahdi Mattar. Dia memperkirakan pendaftaran masuk sekolah dapat turun 10 persen-15 persen.

Seorang eksekutif periklanan asal Kanada, Marc Halabi, kehilangan pekerjaannya pada Maret. Sejak itu, dia telah berusaha mencari pekerjaan yang bisa membuat keluarganya tetap tinggal. Tapi, dia mengakui tidak mampu bertahan lebih lama.

“Saya sedih kami akan pergi. Dubai terasa seperti rumah bagi kami dan telah memberi saya banyak peluang, tetapi ketika Anda jatuh di masa-masa sulit, tidak ada banyak bantuan, dan yang tersisa hanyalah satu atau dua bulan untuk mengambil langkah,” ungkap Halabi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi dubai ekspatriat
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top