Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

“Kami Tak Bisa Bernapas” Bergema di Seluruh Eropa

Kematian warga kulit hitam Afro-Amerika, George Floyd di tangan polisi AS, memunculkan aksi solidaritas di seluruh Eropa kemarin.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 08 Juni 2020  |  06:47 WIB
Demonstran berkumpul untuk memprotes kematian George Floyd di dekat Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Minggu (31/5/2020). Bloomberg/AFP via Getty Images - Mandel Ngan
Demonstran berkumpul untuk memprotes kematian George Floyd di dekat Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Minggu (31/5/2020). Bloomberg/AFP via Getty Images - Mandel Ngan

Bisnis.com, JAKARTA - Seluruh negara Eropa kemarin menggelar aksi solidaritas untuk menyerukan keadilan rasial yang dipicu oleh kematian warga kulit hitam Afro-Amerika, George Floyd di tangan polisi AS.

Video insiden ketika  Floyd memohon agar tidak disiksa di Minneapolis  oleh seorang polisi kulit putih yang berlutut di lehernya, telah memicu kemarahan di seluruh dunia sekalipun penyebaran wabah Covid-19 menuntut pertemuan besar dilarang.

Ribuan orang berkumpul di luar Kedutaan Besar AS di Madrid dan berteriak, "Aku tidak bisa bernapas" yang merupakan kata-kata terakhir Floyd sebelum meninggal dunia.

"Rasisme tidak mengenal batas," kata Leinisa Seemdo, seorang penerjemah Spanyol berusia 26 tahun dari Cape Verde seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Senin (8/6/2020).

"Di semua negara tempat saya tinggal, saya mengalami diskriminasi karena warna kulit saya."

Teriakan "Kami tidak bisa bernapas" bergema di mana-mana.

"Sangat sulit untuk tinggal di sini," kata migran Senegal, Morikeba Samate, 32, salah satu dari ribuan yang telah tiba di Italia setelah mengambil risiko menyeberangi Mediterania yang berbahaya.

Kematian Floyd bulan lalu telah memicu kerusuhan sipil paling serius dan meluas di Amerika Serikat sejak Martin Luther King dibunuh pada tahun 1968.

Petugas polisi pelaku penyiksaan, Derek Chauvin, telah didakwa dengan pembunuhan tingkat dua sementara tiga rekan petugas menghadapi dakwaan yang lebih rendah. Lebih dari 1.000 orang pemrotes juga berkumpul di  di dekat kedutaan besar AS di Budapest.

Penyanyi reggae Hungaria, G Ras mengatakan kepada para pengunjuk rasa: "Jika kita ingin hidup di dunia yang lebih baik, kita perlu secara radikal mengubah cara hidup kita."

Sedangkan di Belanda, hampir 4.000 orang menghadiri dua acara serupa. Hal yang sama juga terjadi di Inggris ketika ribuan orang turun ke jalan.

Artis hip-hop Stormzy bergabung dengan pengunjuk rasa di London. Beberapa demonstran terlihat bentrok dengan polisi di dekat Downing Street.

Di Bristol, sebuah kota yang terhubung dengan perdagangan budak, patung warga kulit Edward Colston dirobohkan dan dibuang ke pelabuhan. Patung itu melambangkan perdagangan budak.

Sedangkkan di Ibu Kota Skotlandia, Edinburgh, penyanyi Lewis Capaldi termasuk di antara mereka yang Ikut demo. Di Lausanne, Swiss, demonstran berpakaian hitam bertuliskan "warna saya bukan ancaman", sementara hampir 10.000 orang berbaris di Brussels, kata polisi.

"Pembunuhan George Floyd jelas membangunkan banyak orang," komentar Ange Kaze dari Belgia.

 Beberapa bentrokan pecah di Brussels, tetapi demonstrasi oleh 15.000 orang di Kopenhagen berakhir dengan damai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eropa amerika serikat
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top