Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertama Kali dalam 29 Tahun, Ekonomi Australia Masuk ke Zona Resesi

Penurunan ekonomi ini dipicu oleh jatuhnya Angka konsumsi rumah tangga sebesar 1,1 persen yang membuat angka PDB turun 0,6 persen.
Renat Sofie & Lorenzo A. Mahardhika
Renat Sofie & Lorenzo A. Mahardhika - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  10:55 WIB
Kegiatan konstruksi gedung di Australia -  Bloomberg
Kegiatan konstruksi gedung di Australia - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Perekonomian Australia mengalami kontraksi pada kuartal pertama tahun ini. Kontraksi ini sekaligus mengakhiri periode bebas resesi Negeri Kangguru yang bertahan hampir 29 tahun.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (3/6/2020), data dari The Reserve Bank of Australia (RBA) menyatakan, PDB Australia turun 0,3 persen pada tiga bulan terakhir tahun 2019.

Hal ini juga menjadi penurunan pertama dalam satu kuartal sejak tahun 2011. Angka konsumsi rumah tangga juga terpangkas 1,1 persen yang membuat angka PDB turun 0,6 persen.

Sementara itu, belanja negara mengalami kenaikan 1,8 persen yang berkontribusi terhadap penambahan PDB Australia sebesar 0,3 persen. Adapun, nilai dolar Australia juga tergelincir pada posisi 69,46 sen AS setelah sebelumnya berada di angka 69,69 sen AS.

Hasil tersebut juga mengakhiri kondisi ekonomi Australia yang bebas resesi setelah berhasil terhindar dari dampak krisis finansial 1997 dan 2008. Kontraksi ekonomi pada kuartal ini diperkirakan akan semakin dalam, dengan 600 ribu karyawan kehilangan pekerjaannya dan kegiatan ekonomi yang belum normal karena pandemi virus Corona.

Kebijakan fiskal dan moneter di negara tersebut juga telah disesuaikan. The Reserve Bank of Australia telah menurunkan biaya pinjaman dengan target imbal hasil obligasi sebesar 0,25 persen. Selain itu, pemerintah Australia juga telah menyuntikkan miliaran dollar untuk membantu tempat usaha dan keluarga yang terdampak pandemi ini.

Gubernur RBA Philip Lowe mengatakan hal terpenting saat ini adalah mengembalikan usaha-usaha yang terdampak dan menggenjot konsumsi rumah tangga, serta menekan angka pengangguran. Menurutnya, dengan penurunan angka kasus positif di negara itu, beberapa sektor usaha dapat dibuka lebih cepat dari perkiraan.

“Meski begitu, pandemi ini akan memiliki efek jangka panjang terhadap perekonomian. Dalam beberapa waktu ke depan, perekonomian akan amat bergantung pada kepercayaan diri masyarakat dan pelaku usaha terhadap kondisi pandemi ini dan keuangan mereka,” jelas Lowe.

Di sisi lain, kenaikan harga komoditas mengerek naik profitabilitas sektor pertambangan sebesar 2,9 persen pada kuartal I/2020. Hal ini juga mendorong neraca transaksi berjalan Australia surplus sebanyak A$8,4 miliar.

Adapun outlook terhadap perekonomian juga dinilai membaik seiring dengan pelonggaran sejumlah protokol karantina. Pemerintah Australia juga tengah membahas paket kebijakan stimulus fiskal terbaru untuk membantu sektor konstruksi perumahan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi australia

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top