Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Negara Uni Eropa Ramai-Ramai Tolak Hydroxychloroquine untuk Obat Covid-19

Setelah Prancis melarang penggunaan hydroxychloroquine (HC) untuk perawatan pasien Covid-19, kini Italia dan Belgia  turut menangguhkan  penggunaan obat itu  terkait masalah keamanan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 28 Mei 2020  |  09:17 WIB
Negara Uni Eropa Ramai-Ramai Tolak Hydroxychloroquine untuk Obat Covid-19
Obat Hydroxychloroquine. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah Prancis melarang penggunaan hydroxychloroquine (HC) untuk perawatan pasien Covid-19, kini Italia dan Belgia  turut menangguhkan  penggunaan obat itu  terkait masalah keamanan meski Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro membanggakan obat tersebut.

Prancis kemarin mencabut sebuah dekrit yang mengizinkan dokter untuk menggunakan obat tersebut untuk pasien virus corona yang sakit parah.

Sedangkan, badan pengawas obat Italia dan Belgia menangguhkan atau memperingatkan penggunaannya kecuali dalam uji klinis.

Beberapa hari setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunda percobaan global terkait masalah keamanan obat, Universitas Oxford juga menghentikan uji coba hydroxychloiroquine internasional kurang dari seminggu setelah dimulai.

Sebuah hasil penelitian observasional yang diterbitkan di Lancet terhadap hampir 100.000 pasien di 671 rumah sakit, menyatakan  bahwa hydroxychloroquine, yang dipromosikan oleh spesialis penyakit menular kontroversial Prancis Didier Raoult, akan  meningkatkan angka kematian.

Sementara itu, hasil penelitian oleh Institut Pasteur Prancis menyatakan bahwa antibody 98 persen orang dengan virus corona ringan mampu menetralkan virus sebulan kemudian seperti dikutip TheGuardian.com, Kamis (28/5/2020).

Hal itu meningkatkan harapan bahwa setiap orang yang menderita penyakit tersebut dapat menikmati kekebalan.

Uni Eropa sebelumnya meluncurkan program  pemulihan senilai €750miliar atau  yang terbesar dalam sejarah untuk membuat benua itu bangkit kembali setelah kehancuran ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19.

Kini Amerika Latin menyusul Eropa dan AS dalam jumlah infeksi harian baru wabah itu.

Komisaris urusan ekonomi Uni Eropa, Paolo Gentiloni, menyebut paket itu sebagai "terobosan Eropa" untuk "mengatasi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa Virus Corona covid-19 Chloroquine
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top