Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Online Selamatkan Marks & Spencer dari Skenario Bisnis Terburuk

Marks & Spencer Group Plc mengatakan perusahaan mampu keluar dari skenario terburuk yang telah diperkirakan akibat pandemi virus corona atau Covid-19.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 Mei 2020  |  18:26 WIB
Ilustrasi - Suasana di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat
Ilustrasi - Suasana di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Marks & Spencer Group Plc mengatakan perusahaan mampu keluar dari skenario terburuk yang telah diperkirakan akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

Ketika wabah menyebar, peritel asal Inggris ini memperkirakan dalam skenario terburuk bahwa penjualan produk pakaian dan rumah tangga akan turun 70 persen dalam empat bulan hingga Juli 2020. Sementara itu, bisnis makanan diperkirakan anjlok 20 persen.

Namun, perusahaan mencatat penurunan sejauh ini secara keseluruhan penurunan lebih dapat terkontrol karena dorongan dari penjualan online dan di toko makanan yang tetap terbuka selama lockdown.

M&S bereaksi dengan cepat terhadap pandemi ini dengan membatalkan pesanan pakaian sekitar 100 juta pound (US$122 juta). Perusahaan juga membatalkan pembayaran dividen tahun 2019 dan diperkirakan juga tidak akan membayar dividen di tahun ini.

Peritel ini telah berusaha untuk membalik kondisi setidaknya selama dekade terakhir. Strategi yang diluncurkan pada tahun 2016 menargetkan untuk menutup sekitar 100 toko, menghasilkan lebih dari sepertiga dari pendapatannya secara online, dan menggandakan bisnis makanannya dalam lima tahun. Tahun lalu, M&S mengakuisisi 50 persen saham dari toko bahan pokok online online Ocado Group Plc.

M&S mengatakan rencana untuk lini bisnis makanannya untuk menggantikan penjualan Waitrose mulai September sudah sesuai rencana. Perusahaan juga berencana untuk mulai menjual pakaian di Ocado.com dalam upaya untuk meningkatkan bisnis pakaian.

“Pandemi telah memberi kesempatan perusahaan untuk mempercepat upaya memutar haluan usaha dengan sejarah perubahan budaya yang lambat,” kata Chief Executive Officer Steve Rowe, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (20/5/2020). 

“Perusahaan telah membubarkan banyak kelompok kerja, komite, dan mengelaborasi proses manajemen demi tim yang lebih kecil yang dapat membuat keputusan lebih cepat,” katanya.

Tujuan strategis yang lebih luas seperti mengurangi cakupan desain pakaiannya dan bekerja dengan pemasok yang lebih kecil juga telah dipercepat oleh krisis pandemi ini. M&S tengah melakukan negosiasi ulang sewa, tetapi Rowe mengatakan tidak ada perubahan dalam rencananya untuk menutup sebanyak 120 toko.

Meskipun penjualan produk pakaian dan rumah tangga turun 75 persen dalam enam pekan hingga 9 Mei, penjualan makanan turun hanya 8,8 persen. Bisnis pakaian sudah mulai pulih, dengan penjualan online produk pakaian dan rumah tangga naik 20 persen dalam tiga minggu terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eropa ritel marks & spencer Virus Corona
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top