Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dampak Virus Corona: Inilah Bentuk Kenormalan Baru yang Terjadi

Denyut ekonomi saat ini lebih banyak digerakkan oleh orang-orang yang beraktivitas di rumah.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 23 April 2020  |  17:13 WIB
Ilustrasi - Softpedia
Ilustrasi - Softpedia

Bisnis.com, JAKARTA - Munculnya pandemi virus corona (Covid-19) yang terjadi secara tiba-tiba pada awal tahun ini, memberi dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, bahkan telah mengubah tatanan perekonomian dunia.

Kondisi ini tak hanya sekadar mendisrupsi perekonomian tetapi juga telah menginterupsi pergerakan ekonomi. Berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya dimana proses keterpurukan menuju resesi berjalan secara bergilir hingga masih bisa diantisipasi, sedangkan krisis akibat Covid-19 saat ini terjadi secara simultan.

Banyak industri yang sebelum masa krisis begitu berjaya, tiba-tiba harus jatuh secara mendadak. Sebut saja industri pariwisata, penerbangan, ritel, olahraga, otomotif, MICE, dan berbagai industri yang sangat bergantung pada berkumpulnya massa.

Di sisi lain, tidak sedikit industri yang sebelumnya baru akan tumbuh, tiba-tiba sangat melesat dan pamornya menjadi sangat tinggi akibat perilaku konsumen yang melakukan berbagai kegiatannya di rumah. Perubahan perilaku ini berhasil mengubah tatanan bisnis yang baru.

Managing Partner Inventure Yuswohady mengatakan ketika banyak negara yang melakukan lockdown atau karantina dan pembatasan sosial berskala besar seperti di Indonesia, maka aktivitas ekonomi akan lumpuh.

Banyak tempat usaha dan tempat hiburan yang harus tutup mulai dari kantor, pabrik, mal, restoran, bioskop, hingga tempat hiburan lainnya sehingga satu-satunya aktivitas ekonomi yang masih berjalan adalah di dalam rumah.

Denyut ekonomi saat ini lebih banyak digerakkan oleh pelaku ekonomi yang beraktivitas di rumah. Yuswo menyebutnya sebagai stay at home economy, yang memberikan kompensasi kelumpuhan ekonomi secara total.

Stay at home economy ini berperan krusial sebagai genset darurat di saat perekonomian secara keseluruhan sedang mengalami blackout. Namun, sebagai penyelamat sementara, stay at home economy ini mungkin hanya bisa menyangga 1,2, atau 3 kuartal ke depan,” ujarnya dalam seminar virtual dengan topi The Rise of Stay @HomeEconomy.

Kenormalan Baru

Perubahan gaya hidup masyarakat akibat Covid-19 ini lambat laun akan membentuk kenormalan baru yang akan terus bertahan secara permanen setelah krisis berlalu dan pada akhirnya akan mengubah tren perekonomian di masyarakat.

Adopsi digital, sambungnya, akan menjadi katalis utama yang menggerakan perekonomian, baik oleh konsumen maupun produsen. “Tak berlebihan kalau saya menyebutkan bahwa setelah wabah virus Corona ini berakhir, maka akan terjadi renaissance of digital adoption,” tuturnya.

Sejumlah industri yang mengandalkan digital berkembang begitu pesat. Dunia e-commerce merupakan salah satu yang mendapat berkah. Namun, masyarakat kini tak lagi hanya berbelanja untuk produk-produk fesyen, travel, atau elektronik saja, tetapi makin berkembang ke arah pembelanjaan grocery dan kebutuhan dasar sehari-hari.

“Peritel dan minimarket juga akan menyesuaikan diri dengan mengembangkan omni-channel (O2O) dengan mengandalkan penjualan secara digital,” tuturnya.

Penjualan secara digital pada sektor ritel akan mendorong penerapan teknologi 4.0 seperti virtual dan augmented reality (VR/AR). Sebab, untuk mengurangi risiko ancaman wabah virus di kemudian hari, teknologi ini akan menciptakan pengalaman belanja layaknya di toko fisik meskipun konsumen berada di rumah.

Yuswo memperkirakan usai pandemi covid-19, fenomena VR/AR pada sektor ritel akan menjadi bentuk kenormalan baru. Kondisi ini akan menyebabkan makin banyak toko ritel fisik yang menjadi ghost store karena hanya berfungsi sebagai storage atau gudang.

Selain peritel, para pelaku usaha kuliner juga kini sangat mengandalkan penjualan melalui digital dan food delivery. Bahkan, tren ghost kitchen kian menjamur karena kebiasaan masyarakat memesan makanan secara online akan makin mengkristal sehingga resto-resto banyak yang mengubah model bisnis ke arah online delivery services.

Sementara itu, di dalam dunia kerja, Yuswo sebelumnya sempat meramalkan dalam buku Millenials Kill Everything akan membunuh tempat kerja dan jam kerja 9 to 5 karena mereka lebih senang bekerja secara remote atau mobile.

Namun rupanya, bekerja di kantor dalam rentang waktu tertentu telah dibunuh lebih cepat oleh Covid-19 yang memaksa karyawan bereksperimen menjalankan kerja di luar kantor atau Work from Home.  Usai krisis Covid-19 berakhir, bisa saja kondisi work from home ini akan menjadi permanen dan membentuk new mainstream.

“Ketika karyawan telah terbiasa dengan remote working sedangkan tuntutan efisiensi overhead dan fleksibilitas aset menjadi tinggi, penggunaan cloud services akan menjadi keharusan sehingga menjadi peluang bagi perusahaan cloud bertumbuh secara eksponensial,” tuturnya.

Selain bekerja dari rumah, kebiasaan baru yang juga muncul saat pandemi Covid-19 ini adalah belajar dari rumah. Jutaan anak-anak di seluruh tanah air saat ini “dipaksa” untuk belajar secara online, sebuah kebiasaan baru yang sebelumnya sulit untuk dikembangkan.

Aplikasi-aplikasi belajar online seperti RuangGuru yang sebelumnya tak pernah mencapai mainstream seperti halnya platform belanja online, ojek online, atau travel online, justru telah berkembang sangat cepat akibat pandemic saat ini, apalagi ditambah dengan adanya dukungan dari pemerintah, suatu hal yang tak dapat terjadi dalam kondisi normal.

Selain itu, beberapa industry yang mendapatkan momentum melakukan lompatan besar dalam kondisi saat ini antara lain telemedicine, home fitness, home furnishing, hingga video streaming. “Setelah berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan di rumah karena social distancing, masyarakat akan terbiasa dengan menikmati berbagai layanan dari rumah. Pasca krisis, dampaknya bisa permanen karena telah menjadi kebiasaan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

normal Virus Corona covid-19 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top