Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Benarkah Perusahaan Rokok Ikut Mencari Vaksin Virus Corona?

Seorang perokok aktif dan pasif lebih rentan terinfeksi virus Corona. Berbekal daun tembakau, korporasi rokok pun mencari sistem pertahanan untuk melawan virus ini.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 01 April 2020  |  19:25 WIB
Sejumlah pekerja pabrik rokok menghitung uang Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran saat pembagian di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (21/5/2019). - ANTARA/Yusuf Nugroho
Sejumlah pekerja pabrik rokok menghitung uang Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran saat pembagian di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (21/5/2019). - ANTARA/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen rokok mungkin tidak terpikirkan untuk menjadi salah satu dari sekian pihak yang berlomba mencari vaksin guna mengatasi penyebaran virus corona, namun hal itu ditepis oleh Philip Morris International Inc. dan British American Tobacco Plc.

Kedua perusahaan rokok ini sedang berusaha merancang sistem pertahanan untuk melawan virus corona dengan bahan sederhana yakni daun tembakau.

Dilansir melalui Bloomberg, BAT mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan uji pra-klinis vaksin nabati melalui anak perusahaan bioteknologi di AS, Kentucky BioProcessing.

Sementara itu, Philip Morris mengatakan unit bisnisnya di Kanada, Medicago, akan segera memulai uji coba vaksin berbahan dasar tumbuhan terhadap manusia musim panas ini.

"Kami percaya kami telah membuat terobosan yang signifikan," kata David O'Reilly, direktur riset ilmiah BAT, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (1/4).

Big Tobacco atau produsen rokok terbesar dunia, sudah tidak asing dengan bidang bioteknologi.

Kentucky BioProcessing, misalnya, terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. terkait pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola pada 2014, meskipun obat ini tidak pernah dipasarkan. Dalam prosesnya, Medicago menggunakan partikel mirip virus yang tumbuh di kerabat dekat tanaman tembakau.

Vaksin nabati meniru virus dan memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenalinya dan membuat respons kekebalan, tanpa dapat menginfeksi atau menggandakan diri.

Sementara itu, Kentucky BioProcessing baru-baru ini mengkloning sebagian dari urutan genetik Covid-19, yang menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi.

Antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi. Menurut BAT, metode ini mengaktifkan vaksin lebih cepat daripada metode konvensional, mengurangi waktu yang dibutuhkan dari beberapa bulan menjadi sekitar enam pekan.

Perlombaan untuk menemukan vaksin menjadi sangat penting karena para pemimpin dunia terus mempertanyakan berapa lama status darurat dan lockdown harus diberlakukan tanpa memadamkan prospek ekonomi masa depan.

Keterlibatan perusahaan tembakau dalam perang melawan Covid-19 mungkin dianggap sebagai paradoks seperti yang dikatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa merokok dapat meningkatkan risiko reaksi yang lebih parah terhadap penyakit ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hm sampoerna merokok BENTOEL INTERNASIONAL
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top