Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Aramco Anjlok 14 Persen, Lebih Rendah dari Nilai IPO

Saham Saudi Aramco merosot 14 persen selama kuartal I/2020, ke posisi 30,15 riyal per lembar
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  21:26 WIB
Tangki minyak Aramco terlihat di fasilitas produksi di ladang minyak Saudi Aramco di Shaybah, Arab Saudi, Selasa (22/5/2018). - Reuters
Tangki minyak Aramco terlihat di fasilitas produksi di ladang minyak Saudi Aramco di Shaybah, Arab Saudi, Selasa (22/5/2018). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Performa Saudi Aramco di pasar saham Arab Saudi belum mampu memenuhi ekspektasi yang menyertai perusahaan minyak raksasa itu sebelum Initial Public Offering (IPO) pada akhir 2019.

Bloomberg melansir Selasa (31/3/2020), saham Aramco merosot 14 persen selama kuartal I/2020, ke posisi 30,15 riyal per lembar. Angka tersebut bahkan lebih rendah ketimbang harga IPO mereka, yang sebesar 32 riyal per lembar.

Padahal, sepanjang sejarah, sebelumnya Aramco tidak pernah mencatatkan harga di bawah harga IPO. Penurunan ini turut disebabkan oleh sentimen negatif dari pernyataan Arab Saudi bahwa mereka tidak melakukan kontak dengan Rusia untuk mengakhiri sengketa pemangkasan produksi minyak.

Adapun Aramco berkontribusi 11 persen terhadap kinerja indeks utama Bursa Tadawul.

Setidaknya, kendati Aramco mengalami keterpurukan, kinerja sahamnya masih relatif lebih baik ketimbang pesaing-pesaing global mereka di negara maju dan berkembang.

Situasi ini juga sesuai dengan prediksi analis Citigroup Inc. Alastair Syme. Pada awal Maret 2020, dia menyebut bahwa di antara perusahaan minyak di pasar berkembang, Aramco menjadi satu-satunya perusahaan yang menawarkan stabilitas pembayaran dividen untuk pemegang saham minoritas.

Sementara secara umum, faktor lain yang menyebabkan gejolak di komposisi pasar saham Arab Saudi adalah penyebaran pandemi COVID-19.

Pada akhir kuartal I/2020, lima saham dengan kinerja terbaik di Tadawul berasal dari beragam sektor. Mulai dari perusahaan asuransi kecil, produsen plastik, pemilik supermarket, perusahaan pendidikan, sampai operator rumah sakit.

Menariknya, perusahaan-perusahaan tersebut bukanlah perusahaan yang punya rekam jejak konsisten. Empat perusahaan yang disebut pertama, baru pertama kali berada di titik tersebut sejak 2016, sedangkan satu yang terakhir merupakan pendatang baru di bursa Arab Saudi.

Hal ini mengindikasikan betapa sulitnya investor mencari titik terang di tengah pandemi virus corona. Diperparah dengan perang minyak, maka lengkaplah sudah fenomena luar biasa di pasar saham Arab Saudi.

“Jelas, ini adalah keadaan yang sangat tidak biasa. Sektor yang terkait kebutuhan pokok konsumen, utilitas, layanan kesehatan, dan telekomunikasi akan menunjukkan performa yang relatif lebih baik, mengingat bisnis-bisnis ini adalah lini yang paling tak terpengaruh,” ujar Head of Research Riyad Capital Faisal Potrik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saudi aramco arab saudi
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top