Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Petani Eropa Peringatkan Risiko Kelangkaan Bahan Pangan Segar

"Konsumen di kota akan segera mulai kekurangan buah dan sayuran segar," kata Sebastien Heraud, seorang petani di wilayah Dordogne Prancis barat daya dan pemimpin Koordinasi Rurale, sebuah serikat pertanian.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Maret 2020  |  17:42 WIB
Stroberi - greenwells.com
Stroberi - greenwells.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pembatasan perjalanan di beberapa negara di Eropa membuat para petani kekurangan tenaga untuk panen.

Setiap musim semi, petani-petani di Huelva, Spanyol biasanya bekerja dengan bantuan 200 pekerja yang sebagian besar berasal dari Maroko dan Rumania untuk memanen buah beri dan mengirimkannya ke pabrik.

Tapi kali ini hanya ada kurang dari 100 pekerja yang merupakan penduduk lokal. Perusahaan seperti Cristobal Picon tidak tahu bagaimana mereka harus beroperasi di musim panen kali ini.

"Hasil panen yang buruk mungkin masih bisa diatasi tetapi ketika hasil produksi 80 persen sudah siap dipetik namun tidak ada yang bisa mengerjakannya seseorang akan merasa tidak berdaya," ujar Picon, seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (27/3).

Dari Huelva ke Hamburg dan Newcastle ke Naples, para petani Eropa berjuang untuk menemukan pekerja untuk memproses buah-buahan dan sayuran yang sudah matang dengan cepat, yang seringkali harus dikerjakan dengan tangan dan dalam waktu singkat untuk menjaga kualitas.

Mereka biasanya bergantung pada pekerja musiman dari Eropa Timur atau Afrika Utara, tetapi kekhawatiran akan virus corona membuat ratusan ribu pekerja migran tidak bisa meninggalkan rumah.

Kontrol di perbatasan yang tidak pernah dikekang sebelumnya juga menghentikan banyak dari mereka yang mau melakukan perjalanan ke Eropa Barat.

Stroberi dan asparagus sudah dibiarkan membusuk di Spanyol, Italia, dan Prancis selatan.

Masalah ketenagakerjaan membuat beberapa orang di bisnis ini khawatir bahwa pembeli di kota dapat menghadapi kekurangan bahan pangan segar.

Di samping kekhawatiran tenaga kerja, mereka juga ragu hasil panen dapat sampai ke konsumen karena pasar-pasar ditutup dan jaringan transportasi ikut terdampak pembatasan.

"Konsumen di kota akan segera mulai kekurangan buah dan sayuran segar," kata Sebastien Heraud, seorang petani di wilayah Dordogne Prancis barat daya dan pemimpin Koordinasi Rurale, sebuah serikat pertanian.

"Bahkan kita yang bisa panen kesulitan menjual," tambahnya.

Pemerintah Prancis, Austria dan Jerman telah menggerakkan generasi muda yang tidak terdampak virus corona untuk turun dan mengamankan suplai pangan di perkebunan.

Meskipun langkah ini akan terhalang oleh kurangnya pengalaman dan kebijakan untuk menjaga jarak dengan orang lain yang dapat melipatgandakan beban keuangan petani di musim panen kali ini.

Beberapa dari mereka yang tidak menunggu bantuan pemerintah.

Meyerhof, sebuah peternakan di Willich, beberapa mil dari perbatasan Belanda di Jerman barat, memiliki ladang penuh asparagus yang perlu dipanen dalam beberapa pekan ke depan.

Meyerhof mengunggah permintaan di Facebook. Dalam sehari, 500 orang telah mengajukan aplikasi untuk membantu proses panen.

"Kita bergerak dari situasi di mana orang-orang tidak peduli dari mana makanan mereka datang pada enam pekan lalu. Sekarang semua orang terus membicarakan hal ini," kata Jack Ward, kepala kelompok industri British Growers.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sayuran Virus Corona
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top