Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Corona di India, Lockdown Membuat Warga Miskin Khawatirkan Nasib Mereka

Tak ada yang lebih mengkhawatirkan selain kepastian masa depan apalagi di tengah ancaman virus Corona. Kekhawatiran itulah yang kini mendera warga miskin di India.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  16:19 WIB
Warga di India berjalan sambil menggunakan masker pelindung - Bloomberg/Prashanth Vishwanathan
Warga di India berjalan sambil menggunakan masker pelindung - Bloomberg/Prashanth Vishwanathan

Bisnis.com, MUMBAI - Tak ada yang lebih mengkhawatirkan selain kepastian masa depan apalagi di tengah ancaman virus Corona. Kekhawatiran itulah yang kini mendera warga miskin di India.

Berikut kisah muram warga miskin India di tengah ancaman virus Corona atau Covid-10 seperti ditulis Antara, Selasa (24/3/2020). 

Shaikh Bahaduresha, 31, yang tinggal di jalanan Mumbai selama dua bulan pada tahun lalu, tidak dapat memenuhi kebutuhannya dari hasil mengemudi taksi yang hanya menghasilkan kurang lebih 5 dolar AS sehari.

Setelah menikah pada Desember tahun lalu, istrinya menyewa satu apartemen kecil dan mereka pun pindah ke sana.

Namun, dengan sebagian besar wilayah India yang sekarang sedang dikarantina untuk melawan virus Corona, stabilitas hidup baru yang dirasakan Bahaduresha bisa runtuh.

Dia tidak lagi memiliki pelanggan taksi, yang berarti dia tidak akan mampu membeli makanan selain beras dan lentil, dan tidak akan mampu membayar sewa, yang akan jatuh tempo pada Selasa.

"Aku tidak punya tabungan. Aku dan istriku akan kembali ke jalanan lagi," kata Bahaduresha sambil menunggu,  dengan sia-sia di sebelah toko-toko yang tutup. Supir taksi itu mengatakan dia  berutang setoran kepada pemilik taksi.

"Amerika Serikat adalah negara VIP (kaya), kau bisa mengarantina AS selama sebulan dan akan baik-baik saja, tetapi di India kau harus memikirkan orang-orang miskin," ujar Bahaduresha.

Perdana Menteri Narendra Modi mendesak 1,3 miliar warga India untuk tinggal di rumah dan sebagian besar wilayah negara itu dikarantina. Hingga Senin (23/3), India telah melaporkan 471 kasus COVID-19 dan sembilan kematian.

Kumpulan orang India yang tinggal di perkampungan kumuh Dharavi di Mumbai mengatakan mereka mendukung langkah karantina itu, tetapi mereka juga butuh dukungan dari pemerintah.

Bencana kesehatan ini menyoroti betapa sulitnya bagi negara-negara untuk mengatasi wabah virus tanpa merusak mata pencaharian. Hal itu merupakan suatu tantangan yang sangat akut di negara-negara berkembang dengan populasi signifikan yang hidup pas-pasan.

"Sejauh ini, intervensi Perdana Menteri telah menempatkan tanggung jawab pada warganya, tetapi langkah intervensi itu tidak menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh negara," kata Gilles Verniers, seorang profesor ilmu politik di Universitas Ashoka dekat New Delhi. .

"Tidak ada [dari intervensi itu] yang tampak seperti suatu rencana nasional di bidang sosial," ujarnya.

Kantor Perdana Menteri India belum menanggapi permintaan untuk komentar mengenai isu tersebut.

Beberapa pasar di dekat permukiman kumuh ditutup dan para penjual yang masih menjual sayuran di trotoar mengatakan bahwa distributor mereka tidak lagi memasok persediaan.

Penduduk Dharavi mengatakan bahwa mereka menghemat makanan dan hidup tanpa makanan mahal seperti daging kambing. Khatun, 70, menangis di tempat tidurnya ketika menceritakan bahwa putranya, yang bekerja membuat lukisan acak, tidak memiliki pekerjaan lagi.

Ajay Kewat, 21, mengatakan bahwa keluarganya hanya memiliki persediaan untuk beberapa hari lagi. "Saya khawatir bahwa setelah seminggu, tidak akan ada makanan lagi," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india Virus Corona

Sumber : Antara

Editor : Saeno
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top