Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ditemukan Variasi Baru dari Virus Corona

Variasi baru ini disebut lebih agresif ketimbang variasi lama yang pertama kali ditemukan di Hubei, Wuhan, China. Namun, masih harus ada penelitian lebih lanjut karena sampel masih sedikit.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 Maret 2020  |  17:13 WIB
Tim Medis Rumah Sakit Pertamina Jaya memeriksa suhu tubuh seorang pegawai di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (4/3/2020). Pemeriksaan kondisi suhu tubuh bagi pegawai maupun tamu tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19. ANTARA FOTO - Aprillio Akbar
Tim Medis Rumah Sakit Pertamina Jaya memeriksa suhu tubuh seorang pegawai di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (4/3/2020). Pemeriksaan kondisi suhu tubuh bagi pegawai maupun tamu tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19. ANTARA FOTO - Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Para peneliti dari School of Life Sciences Peking University dan Institut Pasteur of Shanghai, China, mengatakan bahwa dua jenis virus corona (covid-19) baru telah menyebabkan infeksi di seluruh dunia.

Peneliti mengatakan hasil penelitian menunjukkan perkembangan variasi baru lonjakan kasus corona virus kemungkinan disebabkan oleh mutasi dan seleksi alam, selain rekombinasi.

"Temuan ini sangat mendukung kebutuhan mendesak untuk studi komprehensif secepatnya yang menggabungkan data genom, data epidemiologis, dan grafik catatan gejala klinis pasien dengan penyakit COVID-19," kata para peneliti, Rabu (4/3/ 2020).

Temuan yang diterbitkan sehari sebelumnya dalam National Science Review, jurnal dari Chinese Academy of Sciences itu menemukan jenis yang lebih agresif dari virus corona baru menyumbang sekitar 70 persen dari strain yang dianalisis, sementara 30 persen disebutkan kurang tipe agresif.

Jenis virus yang lebih agresif ditemukan lazim pada tahap awal wabah di Wuhan, Provinsi Hubei, China, tempat virus corona pertama kali terdeteksi akhir tahun lalu. Namun, frekuensi virus jenis ini telah menurun sejak awal Januari.

Para peneliti mengingatkan bahwa data yang diperiksa dalam penelitian mereka masih sangat terbatas. Mereka menekankan bahwa studi tindak lanjut dari kumpulan data yang lebih besar akan diperlukan untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang evolusi dan epidemiologi corona virus.

Studi ini muncul tak lama setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi virus yang menyebar cepat telah menginfeksi lebih dari 93.000 orang di seluruh dunia, dengan setidaknya 3.100 kematian. Sebagian besar kasus tersebut dilaporkan di China, walaupun jumlah infeksi harian baru di luar negeri kini telah melebihi yang ada di China.

Korea Selatan, Italia, Iran dan Jerman semuanya telah mencatat kenaikan tajam dalam kasus-kasus virus seperti flu dalam beberapa hari terakhir. Saat ini banyak negara memberlakukan pembatasan perjalanan pada daerah-daerah yang terkena virus di seluruh dunia.

Wabah ini sekarang telah menyebar ke lebih dari 70 negara, sementara WHO telah memperingatkan bahwa COVID-19 akan segera mencapai sebagian besar, negara-negara di seluruh dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china virus Virus Corona

Sumber : Tempo

Editor : Andya Dhyaksa

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top