Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS dan China Berebut Kuasa di Jenewa

Persaingan terbaru antara AS dan China akan memuncak minggu ini di Jenewa. World Intellectual Property Organization (WIPO), sebuah badan di bawah PBB akan memilih direktur baru pekan ini.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 03 Maret 2020  |  12:24 WIB
Pengunjung di Kantor Pusat PBB di New York, AS  -  Bloomberg
Pengunjung di Kantor Pusat PBB di New York, AS - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Persaingan terbaru antara AS dan China akan memuncak minggu ini di Jenewa, ketika sebuah badan di bawah PBB  yang mengurus soal kekayaan intelektual World Intellectual Property Organization (WIPO) akan memilih direktur baru pekan ini. 

Sepuluh kandidat mencalonkan diri untuk memimpin WIPO, yang akan menggantikan Francis Gurry, seorang Australia yang telah berada di pucuk organisasi itu sejak 2008. Amerika Serikat yang tidak mengajukan calon mendukung Daren Tang, CEO Kantor Kekayaan Intelektual Singapura yang bergelar master dari Universitas Georgetown di Washington.  

AS sebelumnya telah melakukan kampanye untuk menjegal Wang Binying, kandidat dari China. Para diplomat AS melobi lebih dari 80 pemerintah yang akan memilih, dengan alasan bahwa Beijing dapat menggunakan kepemimpinan WIPO untuk mencuri teknologi.

China membalas dengan mengecam upaya AS sebagai kampanye kotor dan mengunggulkan Wang karena telah bekerja di WIPO selama tiga dekade dan memiliki gelar dari University of California di Berkeley dan Columbia University.  Beijing juga menuduh Washington mengancam akan memblokir pinjaman dari Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) bagi negara-negara yang memilih Wang. Tuduhan ditolak oleh AS.

Pertarungan yang intens itu menggarisbawahi meningkatnya persaingan AS-China bahkan setelah kedua negara mencapai perjanjian perdagangan fase satu, awal tahun ini. Seiring dengan ketegangan yang meningkat antara dua rival dalam berbagai forum dunia, perang tarif sebelumnya telah melemahkan perdagangan global, mencekik rantai pasokan dan meningkatkan kekhawatiran Perang Dingin baru.

"Dari kekayaan intelektual hingga keamanan dunia maya, mulai dari kekuatan militer tradisional hingga perang dagang dan merembet ke ketidakpercayaan sosial pada tingkat warga, persaingan AS-China semakin memotong semua aspek hubungan kedua negara," kata Bates Gill, seorang profesor studi keamanan Asia-Pasifik di Universitas Macquarie Australia, dilansir Bloomberg, Selasa (3/3/2020).

Lembaga multilateral menjadi medan pertempuran baru antara AS dan China. Pada Juni tahun lalu, Qu Dongyu dari China mengalahkan oposisi Amerika untuk menjadi kepala Organisasi Pangan dan Pertanian PBB. Kemudian pada Januari 2020, anggota Departemen Luar Negeri AS, Mark Lambert menjadi utusan khusus untuk Korea Utara yang difokuskan pada perlawanan pengaruh China di organisasi internasional.

Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro berpendapat bahwa China tidak boleh memimpin WIPO karena komitmennya untuk melindungi kekayaan intelektual tidak sesuai dengan standar Barat. Dia juga menuduh China menginginkan pengaruh yang lebih besar atas PBB untuk memajukan tujuan-tujuan politik seperti mengisolasi Taiwan.

Ditanya tentang ancaman untuk menyangkal pinjaman Bank Dunia dan IMF, juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus mengatakan Amerika Serikat tidak melakukannya.

"Kami bekerja dalam kemitraan dengan badan-badan itu untuk melindungi norma-norma dan nilai-nilai internasional, termasuk melindungi kekayaan intelektual. Tuduhan konyol seperti ini mungkin bisa membantu mengungkapkan hasrat membara satu negara untuk memangku kepemimpinan WIPO," katanya.

Sementara itu, Zhao Lijian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, menyebut Wang paling kompeten, kompetitif, dan berpengalaman di antara para kandidat. Dia juga menuduh AS munafik karena berusaha menolak seorang wanita yang memenuhi syarat untuk jabatan tersebut.

"Untuk menindas China, AS melakukan semua yang bisa dilakukan untuk menekan negara-negara lain agar tidak memberikan dukungan bagi kandidat kami di bawah slogan 'Siapa Saja, Tetapi Bukan China,'" kata Zhao.

Bahkan, Zhao mengungkapkan keduanya telah mencoba mengancam dan memeras negara-negara itu dengan memotong bantuan atau mengunakan cara memalukan lainnya.

Seorang pejabat China yang enggan disebutkan namanya, mengatakan baik Beijing maupun Washington sebenarnya memiliki masalah dengan perlindungan kekayaan intelekstual, begitu juga dengan Eropa.

Namun menurut pejabat itu, China telah membuat banyak kemajuan, berkomitmen untuk melindungi kekayaan intelektual dan telah membentuk kerangka hukum.

Anggota Komite Koordinasi WIPO akan bertemu pada Rabu dan Kamis pekan ini untuk memberikan suara. Pemilihan akan berlangsung dalam putaran, dengan kandidat yang menerima suara paling sedikit dikeluarkan dari masing-masing surat suara berikutnya.

Masih ada perebutan kursi kepemimpinan untuk lima lembaga PBB tahun depan. Hasil dari pemilihan pemimpin WIPO kemungkinan akan menjadi awal dari meningkatnya persaingan untuk jabatan yang sebelumnya dihapus dari politik kekuatan besar.

"Pengaruh pada lembaga-lembaga internasional merupakan bentuk kekuatan penting di abad ke-21, karena dapat membentuk aturan dan norma tata kelola global," kata Zhang Baohui, seorang profesor dan direktur Pusat Studi Asia Pasifik di Lingnan University di Hong Kong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china pbb amerika serikat
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top