Korban Tewas Virus Corona Tembus 1.000 Orang

Korban tewas paling banyak di Hubei, China. Adapun tingkat kematian virus corona satu persen.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  08:42 WIB
Korban Tewas Virus Corona Tembus 1.000 Orang
Pejabat mengenakan pelindung di Cheung Hong Estate di distrik Tsing Yi, Hong Kong, China, pada pagi hari Selasa, 11 Februari 2020. Pemerintah Hong Kong telah mengevakuasi beberapa warganya di sebuah gedung tempat dua pasien telah dikonfirmasi memiliki infeksi virus corona, menurut Wong Ka-Hing, pengontrol di Pusat Perlindungan Kesehatan. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Korban meninggal akibat virus novel corona atau virus corona telah menembus 1.000 jiwa hingga Selasa (11/2/2020). Provinsi Hubei, China, pusat penyebaran virus, melaporkan jumlah kematian tertinggi.

Pasien meninggal di Provinsi Hubei naik dari sehari sebelumnya 91 jiwa menjadi 103 jiwa.

Dilansir dari Bloomberg, para peneliti Imperial College London dalam laporan terbarunya mencatat tingkat kematian akibat novel coronavirus diperkirakan mencapai 1 persen. Tingkat kematian ini jauh lebih rendah dibandingkan tingkat kematian akibat SARS 9,5 persen dan di atas pandemi flu babi pada 2009 yang hanya sebesar 0,4 persen.

Para peneliti telah mencoba memperkirakan seberapa parah virus itu, dan menghitung seberapa cepat penyebaran virus corona, serta berapa banyak orang yang menderita penyakit parah atau mati.

Mereka memperkirakan di provinsi Hubei China, tingkat kematian mungkin mencapai 18 persen untuk pasien dengan gejala berat.

"Dampak dari epidemi yang sedang berlangsung mungkin sebanding dengan pandemi influenza utama abad kedua puluh," ujar Neil Ferguson, seorang peneliti penyakit menular di Imperial College London.

Para peneliti mengatakan angka kematian 1 persen adalah perkiraan dari apa yang terjadi setelah semua kasus dihitung, dan setelah kasus yang sebelumnya tidak terdiagnosis menurunkan angka tersebut.

Setiap perkiraan harus dilihat dengan hati-hati mengingat banyaknya ketidakpastian yang terlibat, para peneliti memperingatkan dalam laporan mereka. Angka kematian cenderung bergeser di tengah wabah karena kasus baru dan kasus ringan ditemukan.

Para peneliti Inggris itu, memperkirakan bahwa waktu khas antara timbulnya gejala dan kematian berkisar 22 hari, yang berarti bahwa kemungkinan ada jeda waktu beberapa minggu antara pelaporan kasus dan kejadian kematian.

Secara keseluruhan, para peneliti Imperial College London memperkirakan bahwa 1,3 persen penduduk Wuhan terinfeksi virus pada 31 Januari, tetapi hanya 1 dari 19 di antara mereka yang menjalani tes, menunjukkan bahwa jumlah kasus sebenarnya bisa jauh lebih tinggi dari yang ditunjukkan data resmi.

Sementara itu, jumlah korban meninggal di China akibat virus corona naik menjadi 1.016 jiwa, dengan tambahan 108 kematian pada 10 Februari 2020, menurut Komisi Kesehatan Nasional China. Sedangkan jumlah kasus yang dikonfirmasi di China daratan naik menjadi 42.638 orang.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, virus corona

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top