Pramoedya Ananta Toer, Kenangan Abadi di Dunia Maya

Pramoedya Ananta Toer memang telah pergi untuk selamanya, tetapi karya-karyanya masih bisa dinikmati hingga generasi saat ini.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 07 Februari 2020  |  21:31 WIB
Pramoedya Ananta Toer, Kenangan Abadi di Dunia Maya
Ilustrasi foto Pramoedya Ananta Toer - Antara

PRAMOEDYA Ananta Toer memang telah pergi untuk selamanya, tetapi karya-karyanya masih bisa dinikmati hingga generasi saat ini.

Tepat pada Kamis (6/1/2020), Pram berulang tahun. Warganet ramai-ramai mengenangnya di dunia maya, dengan mencuit kutipan, mengunggah foto kover novel, hingga membagikan pandangan mereka mengenai seniman itu. Nama Pramoedya Ananta Toer masuk dalam jajaran trending topic di Twitter.

Pram memiliki nama asli Pramoedya Ananta Mastoer. Dia lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Ayahnya, Mastoer Imam Badjoeri merupakan seorang guru, sementara ibunya, Oemi Saidjah adalah anak penghulu di Rembang.

Dia menamatkan sekolah rendah Institut Boedi Oetomo di Blora. Kemudian meneruskan pendidikannya ke sekolah teknik radio Surabaya 1940-1941.  Dikutip dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Pram tak punya ijazah. Sebab, ijazah yang dikirim ke Bandung untuk disahkan tak pernah diterimanya, karena kedatangan Jepang ke Indonesia pada awal 1942.

Dalam perjalanan hidupnya, Pram meninggalkan Rembang dan Blora menuju Jakarta pada 1942. Dia bekerja di Kantor Berita Domei. Di sela-sela kesibukannya, Pram mengikuti pendidikan di Taman Siswa (1942-1943). Kursus di Sekolah Stenografi (1944-1945). Selanjutnya kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta untuk belajar filsafat, sosiologi, dan sejarah.

Cerita hidup Pram cenderung getir dan penuh perlawanan. Pram hidup di masa-masa peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Pada masa revolusi, Pram sempat menjadi prajurit resmi Tentara Keamanan Rakyat 1946. Dia tertangkap oleh militer Belanda di Cipinang pada 1947. Pram dipenjara tanpa diadili di penjara Bukit Duri hingga 1949.

Begitu Indonesia merdeka, Pram kembali mengalami hal yang sama. Pram ditahan selama 1 tahun pada masa Orde Lama. Lalu, puncaknya pada masa Orde baru, Pram menjalani masa penahanan selama 14 tahun. Dia dianggap berpandangan pro-komunis, paham yang diperangi pada masa Orba.  

Dalam sejarah sastra Indonesia, Pram terkenal sebagai sastrawan paling produktif. Tercatat, seniman yang juga anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini telah membuat lebih 50 karya sastra novel. Karya-karya itu sudah diterjemahkan ke dalam lebih lebih 41 bahasa asing.

Karya fenomenal Pram adalah empat novel yang dikenal dengan nama Tetralogi Pulau Buru, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Novel-novel tersebut ditulisnya pada saat menjalani masa tahanan di Pulau Buru.

Tetralogi ini mengisahkan sejarah terbentuknya nasionalisme di masa awal kebangkitan nasional, serta penggambaran tokoh Minke, sosok Raden Mas Djokomono Tirto Adhie Soerjo. Dia adalah Bapak Pers Nasional.

Pada tahun lalu, novel Bumi Manusia diangkat ke layar lebar. Disutradarai oleh Hanung Bramantyo, film tersebut dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, dan Sha Ine Febriyanti. Film ini berhasil menjaring 1.316.583 penonton.

Saat Orde Baru berkuasa, karya-karya Pram termasuk yang dilarang peredarannya karena dianggap pro-komunis. Namun, sejak keruntuhan orde tersebut, larangan tersebut tak berlaku lagi. Kini, siapa pun mereka bisa dengan bebas menikmati karya-karya Pram.

Pram wafat pada 30 April 2006, pada usia 81 tahun, setelah berjuang melawan radang paru-paru, komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes. Karya-karyanya tetap abadi dan terus dikenang. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
resensi buku, Pramoedya Ananta Toer

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top