Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

KPK Tahan Tersangka Kasus Bakamla Rahardjo Pratjinho

Tersangka Rahardjo ditahan selama 20 pertama terhitung per 14 Januari 2020 hingga 2 Februari 2020. Selama proses penyidikan, dia ditahan di rumah tahanan klas 1 Jakarta Timur cabang KPK.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  20:26 WIB
Tersangka Kasus Bakamla Rahardjo Pratjinho saat digelandang ke mobil tahanan - Bisnis
Tersangka Kasus Bakamla Rahardjo Pratjinho saat digelandang ke mobil tahanan - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Direktur Utama PT CMI Teknologi Rahardjo Pratjinho, Selasa (14/1/2020).

Dia ditahan menyusul pemeriksaan sebagai tersangka terkait dugaan suap Pengadaan Perangkat Transportasi Informasi Terintegrasi Tahun Anggaran 2016.

"Hari ini KPK melakukan penahanan terhadap tersangka atas nama RJP [Rahardjo Pratjinho], Direktur Utama PT CMIT," ujar Pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri.

Tersangka Rahardjo ditahan selama 20 pertama terhitung per 14 Januari 2020 hingga 2 Februari 2020. Selama proses penyidikan, dia ditahan di rumah tahanan klas 1 Jakarta Timur cabang KPK.

Dalam pantauan Bisnis, dia keluar pada 19.41 WIB mengenakan rompi tahanan warna oranye khas KPK dan tangan terborgol. 

"Saya enggak ngerti," kata Rahardjo sambil bergegas masuk ke mobil tahanan KPK.

Rahardjo ditetapkan sebagai tersangka pada Juli 2019 berdasarkan pengembangan perkara suap pengadaan Satelit Monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla) tahun anggaran 2016 yang telah menjerat Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah.

Selain Rahardjo, KPK juga menetapkan Ketua Unit Layanan Pengadaan Leni Marlena dan Anggota Unit Layanan Pengadaan Juli Amar Ma'ruf sebagai tersangka. Sementara Pejabat Pembuat Komitmen Bambang Udoyo yang juga terjerat kasus ini ditangani oleh POM AL.

Para tersangka diduga melakukan perbuatan melawan hukum terkait pengadaan Perangkat Transportasi Informasi Terintegrasi (Backbone Coastal Surveillance System) pada Bakamla tahun 2016.

Perkara ini bermula pada 2016 ketika Bambang Udoyo selaku Direktur Data Informasi diangkat menjadi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kegiatan Peningkatan Pengelolaan Informasi, Hukum, dan Kerjasama Keamanan dan Keselamatan Laut.

Sementara itu, di tahun yang sama Leni dan Juli Amar diangkat sebagai Ketua dan Anggota Unit Layanan Pengadaan di Lingkungan Bakamla Tahun Anggaran 2016.

Pada tahun anggaran 2016 terdapat usulan anggaran untuk pengadaan Backbone Coastal Surveillance System (BCSS) yang terintegrasi dengan Bakamla Integrated Information System (BIIS) sebesar Rp400 miliar yang bersumber pada APBN-P 2016 di Bakamla RI.

Pada awalnya, anggaran untuk pengadaan BCSS yang terintegrasi dengan BIIS belum dapat digunakan. Namun, ULP Bakamla tetap memulai proses lelang tanpa menunggu persetujuan anggaran dari Kementerian Keuangan.

Kemudian, ULP Bakamla mengumumkan Lelang Pengadaan BCSS yang terintegrasi dengan BIIS dengan pagu anggaran sebesar Rp400 miliar dan nilai total Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar Rp399,8 miliar. 

Pada 16 September 2016, PT CMI Teknologi ditetapkan selaku pemenang dalam pengadaan BCSS yang terintegrasi dengan BIIS.

Kemudian, Kemenkeu melakukan pemotongan anggaran pada awal Oktober 2016 sehingga pengadaan tersebut kurang dari nilai HPS. Namun, ULP Bakamla malah tidak melakukan lelang ulang. Akan tetapi, dilakukan negosiasi dalam bentuk Design Review Meeting (DRM) antara pihak Bakamla dan PT CMIT terkait dengan pemotongan anggaran untuk pengadaan tersebut.

Negosiasi yang dilakukan tersebut adalah negosiasi biaya untuk menyesuaikan antara nilai pengadaan dengan nilai anggaran yang disetujui atau ditetapkan oleh Kemenkeu serta negosiasi waktu pelaksanaan.

Adapun hasil negosiasi yaitu harga pengadaan BCSS yang terintegrasi dengan BIIS menjadi sebesar Rp170,57 miliar dan waktu pelaksanaan dari 80 hari kalender menjadi 75 hari kalender.

Selanjutnya, kontrak pengadaan kemudian ditandatangani Bambang Udoyo selaku PPK dan Dirut PT CMIT Rahardjo Pratjinho  dengan nilai kontrak Rp170,57 miliar termasuk PPN, yang bersumber dari APBN-P TA 2016 dan berbentuk lump sum.

Dalam perkara ini, diduga negara dirugikan senilai Rp54 miliar yang menguntungkan diri sendiri dan atau pihak lain. 

Adapun Bambang Udoyo sebelumnya telah divonis bersalah selama 4 tahun 6 bulan di Pengadilan Militer Jakarta karena terbukti bersalah dalam kasus suap pengadaan satelit monitoring di Bakamla.

Atas perbuatannya, Leni Marlena dan Juli Amar Ma'ruf disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Rahardjo Pratjinho disangkakan melanggar pasal 2 ayat (1) UU  tentang tindak pidana korupsi.

Adapun, PPK Bambang Udoyo dalam kasus ini ditangani oleh POM AL dikarenakan pada saat menjabat selaku PPK dia adalah anggota TNI AL.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KPK
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top