Negara-negara Eropa Desak Turki Hentikan Gempuran ke Milisi Kurdi

Sejumlah negara Eropa di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mendesak Turki untuk "menghentikan" serangannya terhadap pasukan Kurdi di timur laut Suriah, sedangkan delegasi Amerika Serikat untuk PBB memperingatkan Ankara tentang konsekuensi jika negara melanggar aturan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  07:06 WIB
Negara-negara Eropa Desak Turki Hentikan Gempuran ke Milisi Kurdi
Tentara Rusia dan Suriah di Ghouta Timur, Damaskus. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA—Sejumlah negara Eropa di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mendesak Turki untuk "menghentikan" serangannya terhadap pasukan Kurdi di timur laut Suriah, sedangkan delegasi Amerika Serikat untuk PBB memperingatkan Ankara tentang konsekuensi jika negara melanggar aturan.

Pernyataan bersama itu dikeluarkan setelah pertemuan darurat DK PBB yang beranggotakan 15 negara ketika pertempuran di kota-kota di sepanjang perbatasan Turki-Suriah meningkat dan memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka.

"Kami sangat prihatin dengan operasi militer Turki," menurut pernyataan lima anggota Eropa di DK PBB masing-masing  Inggris, Prancis, Jerman, Belgia dan Polandia seperti dikutip Aljazeera.com, Jumat (11/10) 

Menurut mereka, permusuhan bersenjata yang kembali terjadi di timur laut Suriah akan semakin merusak stabilitas seluruh wilayah selain memperburuk penderitaan warga sipil dan memicu pengungsian. Pernyataan itu disampaikan oleh Juergen Schulz, wakil duta besar Jerman untuk PBB.

Beberapa saat sebelumnya, Kelly Craft, duta besar Washington untuk PBB, memperingatkan bahwa Ankara akan menghadapi dampak jika tidak melindungi populasi yang rentan terhadap serangan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

"Kegagalan untuk bermain sesuai aturan, untuk melindungi populasi yang rentan, kegagalan untuk menjamin bahwa ISIS tidak dapat mengeksploitasi tindakan ini akan memiliki konsekuensi," kata Craft kepada wartawan setelah pertemuan tertutup di New York.

Sementara itu, utusan Rusia Vasily Nebenzya mengatakan operasi Turki "adalah hasil rekayasa demografis" yang dilakukan oleh anggota koalisi pimpinan AS ketika melawan ISIS.

"Sekarang koalisi menuai buah dari kebijakan demografis mereka di bagian wilayah Suriah," tambahnya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suriah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top