Bangun Ibu Kota Baru, Pemerintah Ingin Gunakan Dana Abadi RI-UEA

Pemerintah mengupayakan beragam alternatif pembiayaan pembangunan Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur yang membutuhkan lebih dari Rp400 triliun. Salah satunya dengan skema dana abadi antara Indonesia-Uni Emirat Arab.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 05 Oktober 2019  |  08:40 WIB
Bangun Ibu Kota Baru, Pemerintah Ingin Gunakan Dana Abadi RI-UEA
Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan - Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah mengupayakan beragam alternatif pembiayaan pembangunan Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur yang membutuhkan lebih dari Rp400 triliun. Salah satunya dengan skema dana abadi antara Indonesia-Uni Emirat Arab.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan pemerintah sedang menggodok skema agar dana abadi atau sovereign wealth fund bentukan Indonesia dan Uni Emirat Arab dapat digunakan membangun infrastruktur ibu kota baru.

"Kemarin Presiden [Joko Widodo] sudah kasih arahan. Nanti Bu Ani [Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati] besok minggu depan itu akan datang timnya kemari, nanti ketemu dengan tim kami. Kemudian ketemu dengan Bu Ani, nanti kita finalisasi, Bu Ani nanti akan ke Abu Dhabi untuk finalisasi," kata Luhut saat ditemui di kantornya, Jumat (4/10/2019) malam.

Kalau itu jadi, kata dia, maka itu akan menjadi seperti private equity milik pemerintah. Ekuitas ini dapat digunakan untuk investasi pembangunan, terutama pembangunan infrastruktur.

"Jadi pemerintah chip in nanti, mungkin brownfield project yang sudah ada, mereka taruh uang," ujarnya.

Selain dengan UEA, kata dia, dana abadi juga sedang diupayakan bersama Amerika Serikat, yaitu oleh lembaga Internasional Development Finance Corporation.

"Sehingga itu nanti bisa seperti equity bisa seperti juga cadangan nasional. Bisa juga nanti untuk membangun ibu kota. Jadi infrastruktur project kan banyak yang mau masuk. Dengan begitu akan banyak sekali mengurangi APBN kita, mempercepat prosesnya," ujar dia.

Pembahasan itu, kata dia, akan dilakukan pekan depan dengan CEO IDFC Adam Boehler. Menurutnya, skema pembiayaan proyek infrastruktur melalui dana abadi bukan barang baru di dunia. Sejumlah, negara, kata dia, sudah mengimplementasikan konsep tersebut.

Dia juga yakin penggunaan dana abadi untuk pembangunan infrastruktur, tidak akan mengalami masalah ke depan. Adapun dia berharap dapat menggunakan dana sekitar US$10 miliar hingga US$20 miliar dari skema itu.

"Bisa lebih tergantung nanti bagaimana kita ini dipercaya, saya kira Indonesia pasti dipercaya lah, katakanlah kita punya 30 miliar di situ, ya sama aja menambah cadangan devisa kita," kata Luhut Pandjaitan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Luhut Pandjaitan, Ibu Kota Dipindah

Sumber : Tempo.co

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top