Kasus Suap Impor Ikan: KPK Periksa 2 Orang Saksi

Adapun Desmond dan Richard dalam perkara ini telah dilarang bepergian ke luar negeri menyusul surat permintaan cegah ke Ditjen Imigrasi Kemenkumham.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  10:41 WIB
Kasus Suap Impor Ikan: KPK Periksa 2 Orang Saksi
Juru bicara KPK Febri Diansyah menyampaikan pernyataan pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (12/4). - Antara/Reno Esnir

Bisnis.com, JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua orang di kasus dugaan suap kuota impor ikan tahun 2019 di Perum Perusahaan Perikanan Indonesia (Perindo).

Kedua orang itu adalah Advisor K-Value Managing Partner Cana Asia Limited, Desmond Previn dan seorang pihak swasta Richard Alexander Anthony.

"Mereka akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka MMU [Mujib Mustofa]," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jumat (4/10/2019).

Adapun Desmond dan Richard dalam perkara ini telah dilarang bepergian ke luar negeri menyusul surat permintaan cegah ke Ditjen Imigrasi Kemenkumham. 

"Pelarangan ke luar negeri dilakukan selama 6 bulan ke depan terhitung sejak 25 September 2019," ujar Febri dalam pesan singkat, Kamis (26/9/2019) lalu.

Belum diketahui apa keterkaitan mereka berdua dalam kasus ini. Hanya saja, tim penyidik KPK tengah mengusut keterlibatan pihak lain lantaran tersangka Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda diduga tak menerima suap dari satu pihak.

Dalam kasus ini, Risyanto resmi ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga menerima uang suap dari tersangka Direktur PT Navy Arsa Sejahtera Mujib Mustofa sebesar US$30 ribu terkait kuota impor ikan.

KPK menemukan adanya dugaan alokasi fee Rp 1.300 untuk setiap kilogram ikan berjenis Frozen Pacific Mackarel atau ikan salem yang diimpor dari China.

Kesepakatan fee itu lantaran perusahaan Mujib telah mendapatkan 250 ton oleh Dirut Perindo Risyanto Suanda untuk melakukan impor ikan.
Padahal, seharusnya yang melakukan kegiatan impor tersebut adalah Perum Perindo.

Sebagai akal-akalan, impor ikan yang ke Indonesia kemudian disimpan di cold storage milik Perum Perindo guna mengelabui otoritas yang berwenang agar seolah-olah yang melakukan impor adalah Perum Perindo.

PT Navy Arsa Sejahtera selaku perusahaan importir ikan juga telah masuk daftar hitam sejak tahun 2009 karena melakukan impor ikan yang melebihi kuota.

Selain impor 250 ton, Risyanto juga menawarkan kuota impor ikan tambahan sebesar 500 ton kepada Mujib untuk bulan Oktober 2019 yang kemudian disanggupi Mujib pada suatu pertemuan.

Dalam perkara ini, KPK juga akan mendalami dugaan penerimaan sebelumnya dari perusahaan importir lain yaitu sebesar US$30 ribu, SG$30 ribu dan SG$50 ribu.

Atas perbuatannya, Mujib Mustofa disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Adapun terduga penerima, Risyanto Suanda, disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
KPK, importir

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top