Tanda Bahaya Pelemahan Ekonomi Dunia Kembali Menyala

Di Amerka Serikat, indeks aktivitas pabrik secara tak terduga turun ke level terendah sejak 2009 hingga berdampak pada turunnya saham serta imbal hasil obligasi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  16:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonomi global menunjukkan tanda peringatan yang lebih jelas ketika data ekonomi terbaru menunjukkan manufaktur yang terjebak dalam kemerosotan, pelemahan ekspor serta penurunan sentimen.

Di Amerka Serikat, indeks aktivitas pabrik secara tak terduga turun ke level terendah sejak 2009 hingga berdampak pada turunnya saham serta imbal hasil obligasi.

Sementara itu, momok deflasi muncul setelah Korea Selatan, pemimpin utama perdagangan internasional, melaporkan penurunan harga konsumen dan Bank Sentral Australia memangkas suku bunga acuannya ke rekor terendah.

Di tengah perang dagang antara AS dan China masih berkecamuk, para eksekutif industri dari Jerman hingga Jepang dan Rusia mengeluhkan bisnis yang sepi, diikuti dengan revisi proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Kepala strategi investasi di Oppenheimer Asset Management, John Stoltzfus, mengatakan penurunan manufaktur AS adalah lampu kuning untuk ekonomi negeri Paman Sam.

"The Fed sangat mungkin untuk memotong suku bunga lagi pada akhir Oktober sebagai akibat dari penurunan ini dan selama situasi perang perdagangan tetap ditutupi ketidakpastian," katanya, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (2/10/2019).

Meskipun indeks manufaktur China mengalami perbaikan dan belanja konsumen global sebagian besar masih cukup solid, ekonomi dunia secara keseluruhan memberikan sinyal bahwa rebound belum akan terjadi dalam waktu dekat dengan meningkatnya ketegangan dagang dan ketidakpastian Brexit.

Kondisi ini meninggalkan AS, China, Inggris, dan Uni Eropa di bawah tekanan agar segera dapat mengatasi perselisihan antara mereka. Sementara itu para bankir di bank sentral dan pemerintah pusat juga harus memutar pikiran untuk mencari opsi yang dapat mendorong permintaan.

"Mungkin ada beberapa preseden sejak 1930-an prospek pertumbuhan global yang sangat dipengaruhi oleh gangguan kebijakan perdagangan," kata Kepala Ekonom Fitch Ratings Ltd. Brian Coulton.

Ekonom UBS Group AG memperkirakan pertumbuhan global 2019 hanya akan mencapai 2,3% untuk saat ini, turun hampir 1% lebih rendah dari pada awal kuartal ketiga.

Para bankir di Danske Bank memperingatkan kemungkinan resesi global terjadi dalam dua tahun ke depan sebesar 30%. Adapun, indeks manufaktur global sedikit meningkat pada bulan September, tetapi lapangan kerja turun untuk bulan kelima.

Selain kekhawatiran terhadap ketegangan perdagangan, ada pula masalah industri yang lebih spesifik yakni pelemahan pada otomotif di Jerman dan semikonduktor di Korea Selatan.

Raksasa suku cadang mobil Jerman, Continental AG, bulan lalu menyusun rencana restrukturisasi besar-besaran yang dapat memengaruhi sebanyak 20.000 karyawannya di seluruh dunia.

Bank-bank sentral di seluruh dunia memerangi perlambatan dengan pemotongan suku bunga dan mengeluarkan stimulus moneter.

Pada saat yang mereka juga meningkatkan seruan kepada pemerintah untuk ikut serta dengan langkah-langkah fiskal, mengatakan bank sentral tidak dapat bekerja sendiri menyelamatkan ekonomi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi dunia

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top