Rusia dan Korea Selatan Paling Siap Hadapi Resesi Ekonomi

Christopher Dembik, kepala riset makroekonomi Saxo yang berada di Paris, mengatakan bahwa kedua negara tersebut memiliki suku bunga riil yang tinggi serta tercatat memiliki surplus anggaran yang dapat memberikan para pembuat kebijakan ruang untuk menyesuaikan risiko penurunan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 30 September 2019  |  10:44 WIB
Rusia dan Korea Selatan Paling Siap Hadapi Resesi Ekonomi
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank investasi asal Denmark, Saxo Bank, melaporkan bahwa jika perang dagang pada akhirnya menyeret dunia ke jurang resesi, hanya ada dua pasar negara berkembang (emerging market) yang posisinya cukup aman yakni Rusia dan Korea Selatan.

Christopher Dembik, kepala riset makroekonomi Saxo yang berada di Paris, mengatakan bahwa kedua negara tersebut memiliki suku bunga riil yang tinggi serta tercatat memiliki surplus anggaran yang dapat memberikan para pembuat kebijakan ruang untuk menyesuaikan risiko penurunan.

Menurutnya, rubel dan won dapat menjadi lebih unggul dari mata uang emerging market lainnya.

"Semua negara berkembang memiliki ruang untuk melakukan dorongan moneter atau fiskal, tetapi hanya Rusia dan Korea Selatan yang dapat melakukan keduanya. Ini akan membantu mereka tetap bertahan," kata Dembik saat berkunjung ke Moskow, seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (29/9/2019).

Meskipun resesi global bukan merupakan kekhawatiran dasar Saxo Bank, Dembik mengatakan kebuntuan perdagangan antara AS dan China membuatnya menjadi kemungkinan yang patut dicermati.

Jerman diperkirakan dapat mengarah ke resesi pada kuartal ini dan indikator awal menunjukkan ada peningkatan risiko pertumbuhan di China akan turun di bawah 6% tahun depan.

Calon gubernur Bank Sentral Eropa yang akan segera menjabat, Christine Lagarde, belum lama ini menyampaikan pandangannya bahwa ekonomi global berupaya menghindari kontraksi langsung, tetapi ketegangan perdagangan tetap menjadi kekhawatiran utama bagi pertumbuhan.

Efek merusak dari perang dagang serta ketidakpastian di beberapa kawasan mendorong Dana Moneter Internasional (IMF) untuk memangkas estimasi laju ekspansi global menjadi 3,2% pada Juli, proyeksi terendah sejak krisis keuangan satu dekade lalu.

Pembuat kebijakan di Moskow telah membangun cadangan untuk mengurangi kerentanan negara terhadap perubahan harga minyak global dan ancaman sanksi baru AS.

Inflasi Rusia telah jatuh tahun ini, sehingga memberi bank sentral ruang yang luas untuk perlahan-lahan menurunkan suku bunga.

Di Korea Selatan, inflasi menyentuh rekor terendah pada Agustus, menempatkan tingkat suku bunga riil tertinggi sejak 2014.

Menurut IMF, kenaikan pajak juga telah membantu meningkatkan kas negara dalam beberapa tahun terakhir.

Sepanjang tahun ini pula, Rusia dan Korea Selatan mencatatkan arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi mata uang lokal mereka, di mana Seoul bahkan diperkirakan untuk mencatat pembelian obligasi terbesar sejak 2007.

Obligasi Korea Selatan adalah utang negara berkinerja paling buruk di Asia tahun ini, tetapi pasar memproyeksikan mereka akan menarik aliran masuk asing terbesar dalam lebih dari 1 dekade.

Utang negara tersebut diuntungkan dari fenomena serupa yang terjadi dengan utang Jepang dan Eropa yang memiliki imbal hasil negatif, di mana kondisi itu menguntungkan bagi investor luar negeri.

"Obligasi Korea Selatan menonjol dari rekan-rekan Asia mereka atas dasar lindung nilai mata uang," kata Ronald Man, analis suku bunga dan valuta asing di Bank of America Merrill Lynch di Hong Kong.

Sementara itu, obligasi dalam mata uang ruble telah memberikan pengembalian kepada investor sebesar 23%, terbesar di pasar negara berkembang setelah Thailand.

Korea Selatan dan Rusia sangat bergantung pada ekspor dan perang perdagangan semakin menekan margin pertumbuhan yang semakin hari semakin melambat.

Di ujung lain dari spektrum di pasar negara berkembang adalah negara-negara seperti Afrika Selatan dan Turki, di mana pembuat kebijakan tidak memiliki banyak ruang gerak jika ekonomi global memburuk.

Ekonomi paling maju di Afrika tidak mampu berkembang lebih dari 2% sejak 2013, menambah tekanan pada pemerintah Afrika Selatan untuk melaksanakan reformasi.

Afrika Selatan memasuki bulan ke-70 dari siklus pelemahan pada September, menurut buletin kuartalan Bank Sentral Afrika Selatan yang dirilis Rabu (25/9/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top