Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sentimen Positif Perang Dagang Dongkrak Saham Global

Saham Eropa, Asia dan saham berjangka AS beringsut naik berkat meningkatnya optimisme investor terhadap agenda perundingan dagang bulan ini yang berhasil meredam keresahan pasar mengenai data ekonomi global yang beragam.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 24 September 2019  |  16:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Konfirmasi kelanjutan perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Steven Mnuchin mendorong saham global.

Saham Eropa, Asia dan saham berjangka AS beringsut naik berkat meningkatnya optimisme investor terhadap agenda perundingan dagang bulan ini yang berhasil meredam keresahan pasar mengenai data ekonomi global yang beragam.

Dilansir melalui Reuters, indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik, tidak termasuk Jepang naik tipis 0,1% berkat kenaikan saham China (mainland) sebesar 0,6% setelah wakil kepala perencana negara mengatakan Beijing akan meningkatkan upaya untuk menstabilkan pertumbuhan.

Nikkei Jepang naik 0,2% setelah libur pasar pada Senin (23/9/2019), sedangkan saham Eropa juga berada di jalur dibuka lebih tinggi, dengan Euro Stoxx 50 pan-Eropa naik 0,26%, DAX Jerman berjangka naik 0,24% dan FTSE berjangka naik 0,33%.

Saham berjangka AS naik 0,38% berkat konfirmasi yang disampaikan Mnuchin, bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He akan berkunjung ke Washington pada pekan pertama pada Oktober.

Menurut Kepala Layanan Eksekusi CLSA Takeo Kamai, meskipun pergerakan Nikkei cukup baik, pasar masih membutuhkan katalis yang lebih banyak agar penguatan berlanjut. Hal ini, tambahnya, juga berlaku untuk pasar AS.

Sentimen positif lainnya datang dari China yang dikabarkan telah memberikan keringanan untuk pembelian kedelai AS bebas tarif.

Kepala Ekuitas Asia di SEI Investment Co. John Lau, semua mata kini tertuju pada kelanjutan perundingan dagang AS-China pada awal Oktober meskipun tidak banyak harapan bahwa keduanya akan langsung mencapai sebuah kesepakatan.

"Jika ternyata ada sebuah kesepakatan yang tercapai, ini akan menjadi penggerak pasar yang sangat signifikan," ujarnya seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (24/9/2019).

Perselisihan antara dua ekonomi terbesar di dunia telah berlangsung selama lebih dari setahun, mengguncang investor dan menekan pertumbuhan global.

Senada dengan Lau, Masahiro Ichikawa, ahli strategi senior di Sumitomo Mitsui DS Asset Management mengatakan bahwa kabar dari Washington memang memberikan dampak penguatan tetapi pasar tidak sepenuhnya optimistis terhadap prosesnya.

"Sepertinya ada negosiasi di balik layar yang kita tidak ketahui," ujarnya mengutip perubahan yang tidak biasa pada sikap pemerintah yang bahkan dipertanyakan oleh Presiden AS Donald Trump.

Jumat (20/9/2019), pemerintah China membatalkan agenda kunjungan ke pusat pertanian AS di Montana dan Nebraska, yang merupakan atas undangan Washington.

Pengumuman itu disampaikan hanya beberapa saat setelah Trump menyatakan bahwa dia tidak tertarik untuk melakukan perjanjian sementara dengan Beijing untuk meningkatkan pembelian hasil pertanian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top