5 Tahun, Satu Science Techno Park Ditargetkan Masuk Level Internasional

Kemenristekdikti menargetkan 5 tahun ke depan ada empat kawasan sains dan teknologi (science techno park/STP) masuk level utama di dalam negeri dan satu ke tingkat internasional.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  19:59 WIB
5 Tahun, Satu Science Techno Park Ditargetkan Masuk Level Internasional
Science Techno Park Institut Pertanian Bogor. - stp.ipb.ac.id

Bisnis.com, DENPASAR – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan 5 tahun ke depan ada empat kawasan sains dan teknologi (science techno park/STP) masuk level utama di dalam negeri dan satu ke tingkat internasional.

"Kawasan sains dan teknologi (KST) yang sudah ada paling top level madya. Kalau akan memilih untuk dijadikan yang utama, tentu yang paling siap, yang ada di perguruan tinggi atau di lembaga pemerintah nonkementerian (LPNK)," kata Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Patdono Suwignjo, saat menyampaikan sambutan membuka Seminar Internasional KST/STP dan Business Gathering di Denpasar, Bali, Selasa (27/8/2019).

Dalam menjawab tuntutan perkembangan inovasi, pemerintah telah mengeluarkan Program Nawacita Presiden yang salah satu programnya adalah membangun STP di berbagai daerah.

Kebijakan pemerintah untuk membangun dan mengembangkan STP di berbagai daerah, menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah.

KST didesain untuk menjembatani kebutuhan industri dengan hasil riset yang berdasarkan pada potensi sumber daya alam dan manusia di setiap daerah.

Sebelumnya pemerintah menargetkan akan membangun 100 KST/STP dalam 5 tahun (2015-2019). Namun, lanjut Patdono, setelah dievaluasi, Kemenristekdikti dan Bappenas menyadari target tersebut tidak realistis.

Patdono mengemukakan, berkaca dari pengalaman di sejumlah negara, untuk menjadi kawasan sains dan teknologi yang matang diperlukan waktu sangat lama. Sebagai contoh, di Korea Selatan sampai 35 tahun dan Swedia 28 tahun.

"Jika di Indonesia membuat 100 STP dalam 5 tahun, jelas tidak realistis. Oleh karena itu, untuk 5 tahun ke depan, kita perlu membuat target yang lebih realistis, yakni kami ingin empat yang utama, dan satu yang sudah internasional," ucapnya.

Dia tidak memungkiri untuk membuat KST/STP itu tidak mudah. Biaya yang dikeluarkan sangat besar karena membutuhkan infrastruktur yang banyak, sehingga kalau anggaran pemerintah terbatas, harus fokus berapa STP yang ditargetkan dan betul-betul STP yang sudah jadi.

Kemudian juga ada kelemahan karena di Indonesia ini belum ada STP yang memiliki anchor industry atau kolaborasi industri jangkar yang besar.

"Sehingga kemampuan untuk mencetak pengusaha pemula berbasis teknologi atau startup itu belum begitu bagus, karena ada komponen utama yang tidak ada yaitu anchor industry," ujarnya.

Menurut Patdono, di luar negeri STP yang sukses itu salah satu cirinya di dalam STP ada "anchor industry" atau industri besar yang beroperasi di dalam STP, kemudian akan menarik perusahaan-perusahaan lain yang tertarik dengan industri besar itu.

"Anchor industry akan membuat penelitian-penelitian, kemudian penelitiannya dibawa ke STP, di samping perguruan tinggi yang ada di sekitar STP juga membuat penelitian," ungkapnya.

Patdono menambahkan jika dilihat di semua negara yang memiliki STP, anchor industry mau masuk masuk ke STP kalau ada fasilitas dari perusahaan seperti lahannya murah, kemudian ada insentif keuangan berupa pajak.

"Ini yang pemerintah belum memberikan insentif keuangan bagi anchor industry, meskipun melalui PP 45 Tahun 2019, pemerintah sudah memberikan insentif kepada perusahaan yang melakukan riset yang mau terlibat dalam pendidikan vokasi," katanya.

Oleh karena itu, ke depan pihaknya ingin membangun "startup" yang tidak melibatkan kolaborasi industri jangkar anchor industry.

Sementara itu, Kemal Prihatman selaku Plt. Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya Kemenristekdikti mengatakan sepanjang 2015 - 2019, pihaknya berupaya mengembangkan KST melalui fasilitasi pengembangan kelembagaan capacity building, penguatan penghiliran hasil riset dan pengembangan inovasi, serta pengembangan sarana dan prasarana.

Fasilitasi itu diberikan kepada 18 lokus binaan KST Kemenristekdikti meliputi: Pondok Pusaka Techno Park, STP Riau, STP Universitas Andalas, STP Sumatra Selatan, STP Kalimantan Utara, STP Papua Barat, Sumbawa Technopark, STP ITS, STP Jepara, Technopark Ganesha Sukowati Sragen, Solo Technopark, KST Universitas, UGM Science Techno Park, STP UI, STP IPB, Oil Palm Science Techno Park (OPSTP) Medan, ITB Innovation Park, dan Coffee and Cocoa Science Techno Park (CCSTP) Jember.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sains, teknologi

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top