Demo Pekan ke-11, Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Bakal Bangun Platform Dialog

Pemimpin eksekutif Hong Kong Carrie Lam berjanji untuk segera membangun sebuah platform dialog dengan para pengkritik pemerintah setelah aksi unjuk rasa berlangsung selama lebih dari dua bulan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  10:24 WIB
Demo Pekan ke-11, Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Bakal Bangun Platform Dialog
Pengunjuk rasa anti pemerintah meminta maaf atas kerusuhan yang terjadi di bandara Hong Kong, China, Rabu (14/8/2019). - Reuters/Thomas Peter

Bisnis.com, JAKARTA – Pemimpin eksekutif Hong Kong Carrie Lam berjanji untuk segera membangun sebuah platform dialog dengan para pengkritik pemerintah setelah aksi unjuk rasa berlangsung selama lebih dari dua bulan.

“Platform dialog itu bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan menemukan cara untuk Hong Kong dewasa ini,” ujar Lam dalam suatu briefing pada Selasa sebelum mengadakan pertemuan Dewan Eksekutif Hong Kong.

“Kami berharap untuk melihat platform itu terbuka, tepat sasaran, dan akan melibatkan pihak-pihak dari berbagai lapisan masyarakat, pandangan dan sikap politik yang berbeda,” lanjutnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Ketika bentrokan meningkat awal bulan ini antara pihak polisi dan demonstran, Lam mengatakan dialog antara kedua belah pihak dapat dilanjutkan setelah kekerasan berhenti.

Upaya Lam sebelumnya untuk mendekati beberapa pemimpin siswa ditolak setelah mereka menolak persyaratannya terkait pertemuan.

"Ini adalah sesuatu yang ingin kami lakukan dengan sangat tulus dan rendah hati. Tujuan kami adalah melakukan upaya untuk menyelesaikan perbedaan,” imbuh Lam.

Pernyataan terbarunya soal dialog disampaikan dua hari setelah pengunjuk rasa berusaha untuk mengubah pergerakan mereka dengan aksi unjuk rasa damai di pusat kota.

Protes yang diawali dari penentangan terhadap rancangan undang-undang kontroversial untuk memungkinkan ekstradisi ke China daratan telah berubah menjadi gerakan anti-pemerintah yang mencakup tuntutan pengunduran diri Lam dan penyelidikan independen tentang penyebab kerusuhan.

Meski pembahasan RUU ini kemudian ditangguhkan, kisruh mengenainya belum menemukan titik terang. Kekhawatiran masyarakat Hong Kong bahwa rencana ini tetap bakal dimajukan dan mengakhiri otonomi wilayah tersebut mendorong protes masif yang berkelanjutan.

Para pengunjuk rasa memblokir transportasi umum, seperti bus dan kereta sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Jalan-jalan utama serta bandara Hong Kong sempat lumpuh. Bentrokan antara penegak hukum dan pendemo pun tak terhindarkan.

Lam telah menolak mengundurkan diri dan menegaskan pihaknya akan tetap berupaya menjaga keamanan serta ketertiban kota pelabuhan itu.

Ia memperingatkan para pengunjuk rasa bahwa gelombang demonstrasi yang terus berlanjut merupakan sebuah tantangan atas kedaulatan China dan mendorong Hong Kong memasuki situasi yang berbahaya. Menurutnya, para pengunjuk rasa justru akan melukai ekonomi Hong Kong.

Sebagian pengunjuk rasa namun menilai pernyataan Lam justru makin memanaskan suasana karena terkesan tidak memedulikan sentimen publik. Aksi pun meluas menjadi protes terkait ketidakpuasan warga terhadap pemerintah setempat.

“Saya rasa pemerintah tidak melakukan apapun untuk memulihkan masyarakat. Mereka tidak memberikan solusi apapun untuk memecahkan masalah politik yang mereka buat sendiri,” papar Jay Leung, seorang mahasiswa yang ikut serta dalam aksi protes.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top