Kerusuhan Hong Kong, Saham Cathay Anjlok Pascateguran Keras China

Saham Cathay Pacific Airways Ltd. anjlok ke level terendah dalam 1 dekade terakhir setelah China memberikan teguran keras terhadap karyawan perusahaan yang bergabung dalam kegiatan protes anti-Beijing di Hong Kong.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  17:44 WIB
Kerusuhan Hong Kong, Saham Cathay Anjlok Pascateguran Keras China
Ilustrasi - Pesawat Cathay Dragon - Bisnis/philippineflightnetrwork.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Saham Cathay Pacific Airways Ltd. anjlok ke level terendah dalam 1 dekade terakhir setelah China memberikan teguran keras terhadap karyawan perusahaan yang bergabung dalam kegiatan protes anti-Beijing di Hong Kong.

Penjualan saham maskapai penerbangan ini tercatat turun 4,9% menjadi HK$9,80 pada Senin (12/8/2019), yang merupakan penutupan terendah sejak Juni 2009.

Sementara itu, saham perusahaan induk Cathay, Swire Pacific Ltd. tercatat turun 6,2%, penurunan tertajam dalam hampir 4 tahun terakhir menjadi HK$76,70.

Jumat (9/8/2019) malam, Otoritas Penerbangan Sipil China (CAAC) mengeluarkan sejumlah tuntutan kepada maskapai yang sebagian besar operasionalnya dilakukan di Hong Kong, termasuk melarang karyawan yang mendukung protes baru-baru ini untuk terbang ke wilayah mainland serta meminta perusahaan untuk mengirimkan informasi tentang semua anggota awak yang terbang ke China untuk verifikasi dan otorisasi.

Menanggapi hal ini, seperti dilansir melalui Bloomberg, Cathay menyatakan bahwa tuntutan tersebut akan ditanggapi dengan sangat serius.

Perusahaan diketahui telah menangguhkan izin terbang seorang pilot yang ditahan saat berpartisipasi dalam aksi protes dan memecat dua pekerja dengan alasan pelanggaran aturan.

"Langkah ini meningkatkan sikap Beijing terhadap perusahaan yang dianggap mendukung, atau setidaknya mentoleransi, partisipasi karyawan dalam aksi protes yang telah berlangsung selama lebih dari 2 bulan," seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (12/8/2019).

Selama akhir pekan, baik sosial media maupun pemberitaan ramai dengan bukti-bukti dalam bentuk foto dan video terkait sikap pihak berwenang Hong Kong yang menjadi lebih agresif terhadap para demonstran, di mana polisi anti huru hara terekam kamera menyerang demonstran di sebuah stasiun kereta bawah tanah.

Bagi Cathay, kepentingan bisnis penerbangan memaksa perusahaan untuk memilih jalan yang dapat menyulut kemarahan para pekerja, atau orang-orang China, yang merupakan pasar penting bagi perusahaan.

Meskipun maskapai penerbangan itu tidak mengungkapkan risiko gangguan bisnis di mainland, penerbangan yang berasal dari mainland dan Hong Kong merupakan penyokong atas sekitar setengah dari pendapatan perusahaan.

"Perintah otoritas China tidak hanya dapat mengancam penerbangan langsung Cathay ke China tetapi juga ke Eropa dan Amerika Serikat, karena rute-rute tersebut terbang di atas wilayah udara China," tulis analis Jefferies Hong Kong Ltd., Andrew Lee dalam sebuah catatan.

Federasi Kru Kabin Hong Kong menyesalkan tuntutan regulator China dan mengkritik CAAC karena membuat kebijakan yang membatasi hak-hak hukum dan kebebasan rakyat Hong Kong, serta merusak prinsip 'One Country, Two Systems" yang menjadi dasar hukum pemerintahan kota tersebut.

Cathay dikendalikan oleh perusahaan keluarga asal Inggris, Swire, meskipun maskapai ini mencantumkan Air China Ltd., yang dikelola pemerintah, sebagai pemegang saham terbesar kedua.

Sebagai salah satu merek dagang yang paling terkenal di Hong Kong, Cathay menjadi target rentan bagi Beijing pada pekan lalu setelah beberapa karyawan perusahaan mengambil bagian dalam kegiatan mogok kerja yang mengakibatkan pembatalan ratusan penerbangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
demo Hong Kong

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top