Hong Kong Hadapi Kondisi Ekonomi yang Sulit

Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan memberikan sebuah peringatan bahwa pusat keuangan Asia tersebut kini memasuki era ekonomi yang sangat sulit di tengah penurunan perdagangan hingga pertumbuhan yang melambat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  11:35 WIB
Hong Kong Hadapi Kondisi Ekonomi yang Sulit
Deretan gedung pencakar langit di kawasan bisnis Hong Kong menjelang terbenamnya matahari, Kamis (13/6/2019). - Reuters/Tyrone Siu

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan memberikan sebuah peringatan bahwa pusat keuangan Asia tersebut kini memasuki era ekonomi yang sangat sulit di tengah penurunan perdagangan hingga pertumbuhan yang melambat.

Dalam blog resminya, Chan menuliskan bahwa industri seperti ritel, katering, dan transportasi mengalami kerugian yang paling terasa akibat kerusuhan berkepanjangan yang terjadi di Hong Kong baru-baru ini.

"Perasaan tertekan pada masyarakat mempengaruhi industri konsumer pada tingkat yang berbeda," tulis Chan seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (11/8/2019).

Dia menambahkan, kerusuhan yang terjadi di jalan-jalan utama telah merusak citra Hong Kong setelah 22 negara mengeluarkan peringatan perjalanan ke kota tersebut.

Chan menegaskan bahwa hal ini tentu dapat merugikan industri pariwisata, bisnis, dan investasi lebih lanjut.

Menurutnya, pemerintah kota saat ini tengah mencermati perkembangan dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China untuk mengantisipasi dampak pada pasar keuangan dan industri teknologi.

"Langkah AS untuk menyebut China sebagai manipulator mata uang tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Amerika," kata Chan.

Diapit oleh para pemimpin bisnis, Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di pusat keuangan Asia tersebut sangat khawatir tentang kejatuhan ekonomi akibat kerusuhan protes, yang dimulai pada Juni dan menjadi makin intens.

"Beberapa orang menggambarkannya seperti tsunami ... pemulihan ekonomi akan memakan waktu lama," kata Lam, seperti dikutip melalui Reuters.

Aksi yang dimulai sebagai tanggapan masyarkat terhadap RUU ekstradisi dengan cepat meluas dengan seruan menuntut demokrasi Hong Kong, pengunduran diri Lam, dan bahkan mengusir wisatawan dari mainland China.

Protes tersebut merupakan tantangan dari para populis terhadap Xi Jinping, sama seperti perang dagang yang meningkat antara China dan Amerika Serikat yang memberikan dampak negatif terhadap ekonomi Hong Kong.

Lusinan perusahaan Hong Kong telah memperingatkan tentang potensi pengurangan pendapatan, sedangkan pejabat kota memperingatkan setiap hari bahwa protes telah merusak mata pencaharian masyarakat dan dapat memicu resesi.

Lam mengatakan Dewan Eksekutif kota pekan ini akan melanjutkan pertemuan yang ditangguhkan pada pertengahan Juni untuk mempersiapkan tanggapan kebijakan yang akan mempertimbangkan sebuah langkah berani.

"Untuk memulihkan kondisi Hong Kong, dari segi sosial maupun ekonomi, caranya sama. Kita harus menghentikan kekerasan yang meluas," ungkapnya.

Dia mendesak para pemilik properti untuk memudahkan kewajiban sewa pada pedagang yang kesulitan, tetapi menolak permintaan untuk penyelidikan perilaku polisi selama demonstrasi berlangsung.

Para generasi muda yang berada di garis depan demonstrasi khawatir tentang China yang melanggar kebebasan Hong Kong, pada saat yang sama mereka juga prihatin dengan masalah lain seperti biaya hidup yang mahal dan kebijakan perumahan yang berpihak pada orang kaya.

Melonjaknya harga properti telah meningkatkan harga sewa dan berdampak besar pada harga barang dan jasa.

Tahun lalu, Oxfam mengatakan ketimpangan pendapatan kota berada pada titik tertinggi dalam lebih dari 4 dekade terakhir.

Beberapa pengembang properti Hong Kong berbicara untuk pertama kalinya, mendesak agar kerusuhan segera berakhir dalam sebuah pernyataan yang ditandatangani oleh 17 perusahaan, termasuk CK Asset Holdings Ltd., yang didirikan oleh taipan properti Li Ka-shing, pria terkaya di kota itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top