PPDB Zonasi Perlu Dikaji, Siswa Cerdas Tersingkir karena Rumahnya Jauh dari Sekolah

Siswa yang tidak berprestasi secara akademik, namun rumahnya dekat dengan sekolah, dipastikan akan diterima karena tidak diberlakukan seleksi tes uji kompetensi kecerdasan anak.  Sementara siswa yang berprestasi secara akademik, namun karena lokasi rumahnya berjauhan dengan sekolah dipastikan tidak diterima.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 19 Juni 2019  |  17:29 WIB
PPDB Zonasi Perlu Dikaji, Siswa Cerdas Tersingkir karena Rumahnya Jauh dari Sekolah
Ilustrasi-Aksi demo warga Jatim yang menuntut penghapusan sistem zonasi pendaftaran peserta didik baru (PPDB) di depan Grahadi Surabaya, Rabu (19/6/2019). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, LEBAK - Sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru 2019 dinilai perlu dikaji dengan matang.  Daya tampung sekolah yang terbatas menimbulkan kondisi yang tidak diinginkan.

Siswa yang tidak berprestasi secara akademik, namun rumahnya dekat dengan sekolah, dipastikan akan diterima karena tidak diberlakukan seleksi tes uji kompetensi kecerdasan anak.  Sementara siswa yang berprestasi secara akademik, namun karena lokasi rumahnya berjauhan dengan sekolah dipastikan tidak diterima.

Pengamat pendidikan dari Kabupaten Lebak Tuti Tuarsih mengatakan penerapan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada ajaran tahun baru 2019/2020 dengan sistem zonasi perlu dikaji ulang. Tuti menilai PPDB Zonasi belum efektif dan berpotensi menimbulkan permasalahan.

"Kita berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat mengubah sistem zonasi itu," kata Tuti Tuarsih saat dihubungi di Lebak, Rabu (19/6/2019).

Kebijakan Kemendikbud yang merealisasikan penerapan PPDB dengan sistem zonasi disambut positif para pengelola sekolah di daerah.

Penerapan sistem zonasi itu untuk melayani kemudahan bagi siswa yang lokasinya berdekatan dengan sekolah bersangkutan.

Manfaat PPDB itu dapat menghemat biaya, karena siswa lokasi ke sekolah cukup dekat.

Selain itu juga pemerataan pendidikan dan memutus mata rantai sekolah-sekolah favorit berbasis nasional maupun internasional.

Selama ini, sekolah-sekolah favorit di berbagai daerah pada PSB dipastikan diserbu masyarakat.

Bahkan, masyarakat berani mengeluarkan uang agar anaknya diterima di sekolah favorit tersebut.

Namun, penerapan PPDB yang memprioritaskan siswa yang lokasinya berdekatan sekolah dapat menimbulkan polemik dan mengundang permasalahan.

Penerapan sistem zonasi bisa menimbulkan kendala di lapangan karena jumlah siswa alih jenjang dan daya tampung sekolah belum memadai.

Saat ini, daya tampung sekolah-sekolah berstatus negeri relatif terbatas, namun wajib melaksanakan sistem zonasi.

Tuti berharap dalam penerimaan siswa baru sekolah tetap menerapkan seleksi.

Tahun 2019 jumlah siswa yang diterima sebanyak 216 akibat terbatasnya daya tampung. Tapi, kata Tuti, jumlah siswa yang sudah mendaftar melalui zonasi di atas 300 siswa.

"Kami minta Kemendikbud dapat mengkaji ulang kebijakan PPDB dengan sistem zonasi itu," ujar Kepala SMAN 1 Warunggunung Kabupaten Lebak ini.

Menurut Tuti, pengkajian PPDB dengan sistem zonasi itu, di antaranya siswa berprestasi secara akademik, namun lokasinya berjauhan dengan sekolah dipastikan tidak diterima.

Di samping itu, guru mengalami kesulitan untuk memutuskan siswa diterima di sekolah bersangkutan, meski alamat rumah siswa saling berdekatan dengan sekolah.

Penerapan PPDB hanya dinilai dari jarak radius antara siswa dan sekolah bersangkutan.

Siswa yang tidak berprestasi secara akademik, namun rumahnya dekat dengan sekolah, dipastikan akan diterima karena tidak diberlakukan seleksi tes uji kompetensi kecerdasan anak.

"Kami minta ke depan penerapan zonasi dikaji secara matang, sehingga tidak menimbulkan permasalahan," kata guru teladan nasional itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ppdb

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top