Beban Tarif Trump akan Memantul dari China ke Ekonomi Global

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim China akan membayar tarifnya, seorang penjual furnitur Mack Yuan yang berasal dari jantung komersial di kota Zhejiang, memiliki pendapat berbeda.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 02 Juni 2019  |  13:45 WIB
Beban Tarif Trump akan Memantul dari China ke Ekonomi Global
China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim China akan membayar tarifnya, seorang penjual furnitur Mack Yuan yang berasal dari jantung komersial di kota Zhejiang, memiliki pendapat berbeda.

"Kami tidak membayar tarif apapun," ujar Yuan, pemilik Dakang Holdings Co. yang menjual sekitar setengah produknya ke AS, termasuk ke Walmart Inc. dan Costco Wholesale Corp., seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (2/6).

Kepercayaan dirinya berasal dari desain produk untuk barang-barang seperti kursi kantor dan kursi gaming, produk yang sangat diminati dan tidak mudah diganti oleh pembeli AS.

Yuan mengatakan, penerapan tarif tambahan tidak mempengaruhi penjualan di AS, bahkan Walmart menaikkan harga jual barangnya hampir mencapai 10%.

Seorang juru bicara Walmart menolak mengomentari kasus-kasus tertentu.

Dampak kenaikan tarif Trump pada US$200 miliar impor China menjadi 25% dari 10% dari 10 Mei mulai riuh melalui alur rantai pasokan.

Bukti dari perusahaan-perusahaan China menunjukkan bahwa kenaikan tarif akan memberikan pukulan terhadap produk-produk kelas bawah sementara meninggalkan banyak perusahaan dengan nilai pasar yang lebih tinggi pada posisi aman.

Yang sudah tampak lebih pasti adalah bahwa kenaikan biaya akan terasa di seluruh ekonomi global.

Dalam beberapa kasus, harga akan naik untuk konsumen Amerika, merugikan laba perusahaan China dan Amerika, dan menyeret pertumbuhan negara lain yang terperangkap dalam parang dagang jika ekspansi global melambat.

Tao Dong, Vice Chairman Greater China area di Credit Suisse Private Banking, Hong Kong, mengatakan bahwa China mungkin akan mengalami kerugian paling besar karena surplus perdagangannya dengan AS.

“Ada banyak negara lain mengalami surplus terhadap China, jadi jika ekonomi Beijing melambat, banyak negara lain juga akan mengalami penurunan," kata Tao.

Cina menambah beban keseluruhan pada Sabtu (1/6), ketika negara itu menaikkan tarif pembalasan atas barang-barang Amerika senilai US$60 miliar.

Ketika beberapa perusahaan China bergulat dengan kenaikan tarif terbaru Trump, yang lain bersiap-siap untuk mengatasi tarif 25% untuk produk China senilai US$300 miliar lainnya, termasuk pakaian anak-anak, mainan, ponsel dan laptop, yang hingga saat ini masih bebas bea impor.

Itu berarti hampir semua ekspor China ke AS akan ditarik ke dalam perang dagang. Bloomberg Economics memperkirakan konflik tarif penuh dapat memangkas sekitar US$600 miliar dari pertumbuhan global pada tahun 2021.

Foshan Dongfang Medical Equipment Manufactory Ltd., pembuat kursi roda di provinsi selatan Guangdong, khawatir tarif yang lebih tinggi akan menempatkannya dalam pertempuran dengan pesaing Taiwan yang telah mematok harga produk 20% lebih tinggi sebelum kenaikan tarif terbaru, kata direktur penjualan Amy Zhou.

"Klien menjadi berhati-hati di mana-mana. Tahun lalu cukup sulit, tetapi tahun ini lebih buruk," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup