Kepak Sayap Ani Yudhoyono yang Tak Pernah Patah

Kristiani Herawati, nama lahir putri dari Sarwo Edhie Wibowo. Sang Ayah adalah Jenderal Tentara yang disegani penguasa Orde Baru, karenanya nasib keluarga asal Purworejo itu tak pernah menentu.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 01 Juni 2019  |  15:33 WIB
Kepak Sayap Ani Yudhoyono yang Tak Pernah Patah
Ani Yudhoyono dan Susilo Bambang Yudhoyono. - Instagram@aniyudhoyono

Bisnis.com, JAKARTA -- Kristiani Herrawati, istri Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kini telah berpulang.

Perempuan baja putri seorang anggota TNI, dan kemudian menjadi pendamping hidup seorang prajurit, Ani Yudhoyono--panggilan akrabnya--telah merasakan pahit getir kehidupan.

Sepanjang sejarahnya, Soeharto selaku penguasa Orde Baru (Orba), tak segan menyingkirkan lawan politik, sekaligus siapapun yang berpotensi sebagai pesaing.
Dari sederet nama petinggi militer, Sarwo Edhie--ayah Ani Yudhoyono--merupakan sosok paling potensial.

Jika Jenderal Abdul Haris Nasution telah diapkir sejak semula Orba berdiri, maka Sarwo Edhie kala itu masih menapak jenjang permulaan karir.

(Foto dokumentasi) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) menerima \"Sungkeman\" dari Ibu Negara Ani Yudhoyono dalam rangka Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1432 H di Istana Negara, Jakarta, Rabu (31/8/2011)./ANTARA-Widodo S. Jusuf

Saat prahara 1965-1966 meletus, Sarwo merupakan Komandan pasukan elite Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Saat itu, Sarwo dikenal akrab dengan petinggi puncak AD, Jenderal Ahmad Yani, perwira kesayangan Soekarno.

Rentetan peristiwa G30S, kemudian memaksa Sarwo memimpin pasukan RPKAD menghadapi gerombolan tentara juga simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dinilai berada di balik aksi kudeta berdarah tersebut. Apalagi, Yani adalah salah seorang korban tewas pada peristiwa tersebut.

Prestasi Sarwo pun mengkilap selama aksi pembersihan orang dan kelompok yang dicurigai sebagai PKI. Selama hari-hari pertama G30S, pasukannya berhasil merebut Bandara Halim Perdanakusuma serta RRI. Lantas pembersihan berlanjut ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sarwo pernah membanggakan telah menumpas sekitar 3 juta orang PKI. Pada masa genting itu, dia disebut-sebut pernah berupaya menemui Soekarno di Istana Bogor yang membuat Letkol Soeharto murka.

Tak pelak, Sarwo Edhie merupakan sosok yang punya kotribusi besar membidani kelahiran Orba. Namun, Soeharto yang telah duduk di puncak singgasana, seakan tak mau ada seorang pun menyaingi.

Selama periode 1965-1966, Ani Yudhoyono masih berusia belasan tahun. Gadis berusia belia itu menyaksikan segala kebijakan penguasa Orba menyudutkan sang ayah.

Pada 1967, Sarwo Edhie malah “dibuang” ke Sumatra. Dia ditugaskan menjabat sebagai Pangdam Bukit Barisan di Medan, Sumatra Utara (Sumut).

Sekilas, penugasan itu merupakan hal lumrah bagi prajurit. Namun, kabar yang lebih menggelegar segera menyusul, bahwa Sarwo Edhie kemungkinan diberikan kedudukan di Moskow, Uni Soviet selaku Duta Besar.

Ani Yudhoyono bersama suami, anak-anak, menantu, dan para cucu dalam sebuah acara keluarga./Instagram @aniyudhoyono

Sejak perkara itu muncul, keluarga Ani Yudhoyono merasakan tangan kekuasaan yang mencekik kehidupan sang ayah maupun keluarganya. Kabar terakhir yang kemudian jadi perintah Sarwo Edhie yaitu memimpin barisan militer di Irian Jaya pada masa genting 1968-1970, selama persiapan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) berlangsung.

Tak ada peluang karir lebih tinggi bagi kakek dari Agus Harimurti Yudhoyono dan Edi Baskoro Yudhoyono itu. Taruhan nyawa sudah pasti disodorkan kepada ayah mertua SBY.

Kesetiaan dengan menunaikan tugas berliku Sarwo Edhie, ternyata tak cukup membuat tenang Soeharto yang berkuasa hingga 1998. Tentara yang dibesarkan dalam banyak pertempuran akan cepat bosan jika kebiasaan bersama prajurit dilucuti. Inilah yang kemudian diperintahkan Soeharto kepada Sarwo.

Dia diminta menjadi Gubernur Akabri di Magelang, setelah selesai penugasan di Irian Jaya. Boleh jadi bagi Sarwo Edhie, penugasan di Akabri sama sakitnya dengan Soekarno yang dijauhkan dari panggung pidato akibat penahanan rumah, tak bisa bercengekrama dengan rakyat banyak.

Namun, di sanalah, Ani Yudhoyono mulai memetik hikmah dari perjalanan karir sang ayah. Sarwo Edhie berhasil membentuk salah seorang prajurit lulusan terbaik Akabri, SBY.

Sosok ini kemudian meminang Ani pada 1976. Jadi menantu sang jenderal, SBY kelak kemudian berhasil duduk sebagai orang nomor satu di negeri ini, memberikan Ani gelar Ibu Negara.

Kisah kerelaan hati sang anak menghadapi situasi rumah di mana sang ayah selalu lebih setia terhadap perintah negara, telah banyak dikisahkan Ani Yudhoyono dalam buku “Kepak Sayap Putri Prajurit” yang terbit pada 2010.

Apalagi, penguasa saat itu seakan tak bersahabat dengan sang ayah. Hal ini membuat keadaan keluarga serba sulit. Ani sejak muda menyesap kegetiran tersebut.

Pelajaran Berarti
Menyerap nilai keteguhan tentara, disiplin, serta cara berpikir strategis dan taktis layaknya perwira tentara seolah menjadi kebiasaan yang telah lama dijalankan Ani Yudhoyono. Pelajaran berarti itu kemungkinan besar telah mengasah dirinya menjadi pendamping SBY agar tak mengulang kisah sang ayah.

Karir militer sang suami terbukti jauh lebih moncer dari Sarwo Edhie. Bermula sebagai jebolan terbaik Akabri, SBY muda berani meminang anak Jenderal.

Ani Yudhoyono bersama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kamar perawatan di National University Hospital (NUH), Singapura pada awal 2019./Instagram @aniyudhoyono

Sesaat setelah menikah, Ani harus rela mendapati kenyataan sang suami menuju palagan di Timor Leste. SBY diperintahkan mengomandoi Batalyon Linud 305 dalam operasi Seroja.

Tentunya, ini merupakan hal yang biasa bagi Ani, yakni merelakan orang dicinta bagi negara telah dipupuk sejak jadi anak tentara. Sejak saat itu pula, Ani mendorong dan mendampingi SBY memanjat karir hingga ke puncak.

Jelang masa senja Orba, SBY sempat menjabat Kastaf Kodam Jaya serta Pangdam II/Sriwijaya. Terakhir, karir militernya membawa SBY ke kursi Ketua Fraksi ABRI MPR.

Seluruh jabatan tinggi itu merupakan anugerah dari dunia militer buat SBY. Namun, sewaktu angin politik perubahan berhembus, Ani pula yang tak segan mengiyakan langkah SBY meninggalkan dinas militer.

Pada 2000, Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden menggantikan BJ Habiebie. Saat itu, Gus Dur, sapaan akrab presiden yang terpilih setelah Pemilu perdana usai Orba runtuh itu, meminta SBY duduk di jajaran kabinet.

SBY mundur dari karir milter, sedangkan Ani mengiyakan sang suami pensiun dari dunia di mana dirinya dilahirkan dan dibentuk. Keputusan ini boleh jadi hal luar biasa yang mampu diambil oleh sosok dengan cara pandang strategis.

(Foto dokumentasi) Ibu Negara Ani Yudhoyono menyemangati ribuan anak-anak yang hadir dalam acara puncak peringatan Seabad Kebangkitan Nasional di lapangan Monas, Jakarta, Minggu (11/5/2008)./ANTARA-Widodo S. Jusuf 

Betul saja, SBY berhasil membangun klan politik baru, mengarusutamakan lagi garis pewaris salah satu pendiri Orba, Sarwo Edhie. Bahkan, manuver penting sang suami, ikut didukung Ani, yaitu mundur dari kabinet Megawati Soekarnoputri dan mendirikan Partai Demokrat.

Ani pun duduk sebagai Wakil Ketua Umum Partai Demokrat. Periode 2004-2014, Ani menikmati posisi sebagai Ibu Negara.

Tentunya, posisi itu bukan sekadar takdir, melainkan hal yang diperjuangkan wanita baja itu sejak berada di lingkungan keluarga.

Kini, Ibu Ani telah tiada. Namun, sepeninggalnya, telah lahir klan politik baru bernama Partai Demokrat serta “Cikeas”, semua ada berkat Ani yang tak kenal lelah mengepakan sayap luka derita sang Ayah dan terbang bersama mimpi sang Suami.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ani yudhoyono, fokus

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top