Bukan Ganja atau Cryptocurrency, Ini yang Sedang Ngetren di Pasar

Bukan ganja, bukan pula cryptocurrency (mata uang kripto) yang sedang naik daun di tengah-tengah pasar belakangan ini.
Renat Sofie Andriani | 07 Mei 2019 09:32 WIB
Daging dari bahan nabati./REUTERS - Beyond Meat

Bisnis.com, JAKARTA – Bukan ganja, bukan pula cryptocurrency (mata uang kripto) yang sedang naik daun di tengah-tengah pasar belakangan ini.

Cryptocurrency memang belum kehilangan pamornya, tetapi ada hal lain yang menarik perhatian pasar baru-baru ini. Semakin banyak perusahaan yang memfokuskan bisnis mereka dalam segala hal yang berbau produk daging untuk vegetarian.

Beberapa hari setelah harga saham produsen daging berbahan dasar nabati Beyond Meat Inc. dibanjiri oleh tawaran investor dalam debut perdagangannya di pasar saham, perusahaan makanan lain heboh berupaya ikut menjual burger untuk para vegetarian di pasar.

Pada Senin (6/5/2019), Tyson Foods Inc. mengkonfirmasi akan memperkenalkan produk protein tanpa daging dalam beberapa bulan mendatang. Tyson dikenal sebagai perusahan pengolahan daging terbesar di Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, jaringan restoran burger AS McDonald's Corp. telah mulai menjual burger vegetarian di Jerman, sedangkan Burger King pekan lalu menyatakan bahwa menu burger vegetarian, Impossible Whopper-nya, akan dipasarkan secara nasional tahun ini.

Kemudian pada Juli tahun ini, Whole Foods akan mulai menjual burger yang dibuat oleh Lightlife, kompetitor Beyond Meat.

Bloomberg Intelligence memperkirakan keberhasilan Beyond Meat akan mendorong perusahaan seperti Kellogg Co., Conagra Brands Inc., dan Kraft Heinz Co. untuk lebih banyak mengeluarkan biaya demi inovasi pabrik.

Fenomena baru ini, tentu saja, bisa berubah menjadi bubble dan akhirnya bernasib serupa seperti dotcom crash. Tapi, setelah bertahun-tahun menjadi perhatian banyak startup dan pakar biologi di Silicon Valley, bahan makanan menyerupai daging kini menjadi semacam tren.

“Semua pemimpin perusahaan melihatnya, dan semua orang berkata, sial, kita sudah tiga tahun ketinggalan,” ujar Chris Kerr, co-founder dan chief investment officer New Crop Capital, sebuah perusahaan ventura dengan saham di perusahaan-perusahaan vegan.

Itu terjadi bukan hanya karena produsen bahan makanan menyerupai daging seperti Beyond Meat dan Impossible Foods Inc. membuat burger vegetarian yang lebih dapat diterima oleh masyarakat luas.

Namun ini juga tentang selera masyarakat yang berubah dan mencoba mengkonsumi lebih sedikit daging.

”Pergerakan cepat Tyson Foods masuk ke dalam alternatif daging adalah indikasi yang baik bahwa tren protein berbahan dasar nabati akan mengalami pertambahan pemain di sektor ini,” terang Will Sawyer, seorang ekonom di CoBank.

Raksasa produsen daging itu menjual 6,5 persen sahamnya di Beyond Meat tepat sebelum penawaran saham perdana (IPO) perusahaan.

“Itu adalah evolusi yang sangat cepat untuk sebuah perusahaan yang telah memiliki bisnis protein hewani yang sangat tradisional selama beberapa dekade dan kini memperluas produk mereka dengan cara yang tidak akan kita perkirakan 10 tahun lalu,” tambah Sawyer.

Lightlife tak mau ketinggalan tren dengan burger Lightlife-nya, yang dimiliki oleh raksasa produsen daging asal Kanada Maple Leaf Foods Inc. Menurut rilis pada Senin (6/5), burger Lightlife akan mulai tersedia di ribuan toko di AS pada Juli.

Sementara itu, McDonald's telah mulai menjual menu burger vegetarian di Jerman, jantung dari konsumsi daging, yang dibuat oleh Nestle SA.

Di AS sendiri, rencana McDonald's terkait alternatif daging sapi belum sejelas ini. Meski CEO Steve Easterbrook mengatakan timnya sedang meneliti protein nabati, bisa jadi ada kerumitan pada praktiknya.

“Kami akan tetap memperhatikan permintaan konsumen. Tim kami sangat memperhatikan dan mendiskusikan ini di antara yang lainnya,” ujar Easterbrook.

Di sisi lain, unit Morningstar Farms milik perusahaan makanan asal AS Kellogg, yang sudah membuat burger vegetarian, akan meluncurkan lebih banyak produk menyerupai daging ayam serta mengisyaratkan akan melakukan inovasi lain.

“Ini adalah ruang di mana kami merasa seolah memiliki tempat untuk menguasainya. Kami akan terus berinovasi di ruang itu,” jelas CEO Kellogg Steven Cahillane.

Kata Analis

Tren konsumen, termasuk kesehatan dan kesejahteraan, perlindungan hewan dan isu-isu lingkungan, dinilai terus memberikan daya tarik, sehingga membantu prospek pertumbuhan penjualan untuk bahan makanan daging berbahan dasar nabati.

“Generasi milenial mendorong tren ini, dan meningkatnya pendapatan memungkinkan mereka untuk memenuhi keyakinan mereka,” tutur analis Bloomberg Intelligence, Jennifer Bartashus dan Diana Rosero-Pena.

Meski burger vegetarian sudah lama ada, burger yang meraup banyak investasi adalah yang bertujuan untuk mendapatkan daging berbahan dasar nabati dengan rasa sebaik daging sesungguhnya.

Namun pada saat yang sama, berkembang pula jenis produk berharga lebih rendah yang ditawarkan peritel melalui pabrik berlabel mereka sendiri.

Layanan ritel Aldi masuk ke dalam bisnis protein berbahan dasar nabati dengan burger vegan di bawah merek Earth Grown yang jauh lebih murah ketimbang burger Beyond. Burger vegan berlabel Aldi Earth Grown telah diperkenalkan tahun lalu.

Yang pasti, menurut Sawyer, pangsa alternatif daging masih terbilang kecil dibandingkan dengan pasar protein hewani, yakni kurang satu persen dari penjualan protein hewani. Bahkan ada sebagian pihak yang melihat tren ini bakal menjadi bubble.

“Ini gila, ada berbagai perusahaan yang melihat perubahan pasar karena sikap kaum milenial. Beberapa dari mereka akan berhasil, dan sebagian besar dari mereka akan gagal,” ujar Henk Hoogencamp, anggota dewan dan penasihat untuk beberapa perusahaan makanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
burger

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top