Rumah Rusak Akibat Pergerakan Tanah di Sukabumi Menjadi 90 Unit

Rumah rusak dalam sehari bertambah 17 unit.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 Mei 2019  |  20:27 WIB
Rumah Rusak Akibat Pergerakan Tanah di Sukabumi Menjadi 90 Unit
Kondisi salah satu rumah yang rusak terdampak bencana tanah bergerak di Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (28/4/2019). Bencana tanah bergerak yang menerjang Kampung Gunungbatu. Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi sejak Selasa (16/4/2019) merusak 96 unit rumah dan tiga unit fasilitas umum serta mengancam keselamatan 352 warga di kawasan tersebut. - Antara/Budiyanto

Bisnis.com, SUKABUMI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat hingga kini jumlah rumah warga yang rusak akibat bencana pergerakan tanah di Kampung Gunungbatu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menjadi 90 unit.

"Dari hasil pendataan sementara pada Jumat, (3/5) jumlah rumah yang rusak di Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung ini menjadi 90 unit padahal selang sehari atau Kamis, (2/5) jumlah rumah yang rusak 73 unit sehingga bertambah 17 unit," kata Kepala Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna di Sukabumi, Jumat (3/5/2019).

Menurutnya, untuk jumlah rumah yang terancam berkurang yang awalnya 36 menjadi 19 unit karena 17 unit tersebut statusnya sudah masuk rusak berat. Bahkan tidak menutup kemungkinan jumlah yang rusak berat akan terus bertambah karena aktivitas tanah bergeser ini terus meluas.

Tidak hanya rumah, sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), masjid dan madrasah ikut rusak serta jalan Provinsi Jabar yang berada di sekitar Kampung Gunungbatu rusak berat karean aspalnya amblas akibat tanahnya terbelah.

Sementara untuk jumlah warga yang yang menjadi korban bencana sebanyak 110 kepala keluarga atau 354 jiwa, seluruh korban sudah mengungsi ke beberapa titik seperti di posko pengungsian, masjid, sekolah maupun rumah sanak keluarganya.

"Logistik bantuan untuk korban bencana mencukupi mulai dari makanan siap saji, sembako, perlengkapan makan, tidur dan MCK, vitamin, obat-obatan susu balita dan pampers tersedia. Bantuan dari pihak ketiga seperti perusahaan BUMN maupun swasta dan komunitas terus berdatangan," tambahnya.

Daeng mengatakan masa tanggap darurat bencana pergeseran tanah ini hingga 6 Mei, namun tidak menutup kemungkinan akan diperpanjang karena intensitas pergerakan tanah masih terus terjadi dan masif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bencana alam, pergerakan tanah

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top