Pascapemilu, Jokowi Ingin Silaturahmi, Ma'ruf Amin Ajak Hapus Istilah Cebong dan Kampret

Pihak pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo - Ma'ruf Amin menginginkan kembalinya persatuan dan kesatuan pascapemilu lewat rekonsiliasi dan merajut kembali tali silatnnJokowi mengaku sudah mengutus seseorang untuk bertemu dengan Prabowo dan Sandiaga agar mereka bisa berkomunikasi atau bertemu.urahmi.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 18 April 2019  |  20:59 WIB
Pascapemilu, Jokowi Ingin Silaturahmi, Ma'ruf Amin Ajak Hapus Istilah Cebong dan Kampret
Pertemuan tertutup Jokowi-Ma'ruf dengan petinggi TKN dan seluruh Ketua Umum Parpol Koalisi Indonesia Kerja, Kamis (18/4/2019) - Bisnis/Aziz R

Bisnis.com, JAKARTA — Pihak pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo - Ma'ruf Amin menginginkan kembalinya persatuan dan kesatuan pascapemilu lewat rekonsiliasi dan merajut kembali tali silaturahmi.

"Sudah sering saya sampaikan bahwa persahabatan dan pertalian silaturahmi kami semuanya, saya, dan juga pak KH Ma'ruf Amin tidak akan putus dengan pak Prabowo maupun pak Sandi," ungkap Jokowi selepas pertemuan dengan petinggi TKN dan Ketum Parpol Koalisi Indonesia Kerja (KIK) di Resto Plataran, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2019).

Jokowi mengaku sudah mengutus seseorang untuk bertemu dengan Prabowo dan Sandiaga agar mereka bisa berkomunikasi atau bertemu. "Sehingga rakyat bisa melihat bahwa pemilu kemarin sudah selesai dengan lancar aman damai," tambah Jokowi.

Sebelumnya, cawapres Ma'ruf Amin mengungkapkan hal serupa di kediamannya, di bilangan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, sebelum datang ke lokasi pertemuan, dengan mengajak menghentikan ujaran-ujaran negatif yang identik dengan pemilu.

"Ya, jangan lagi dibunyikan lagi. Selesai sampai kemarin. Kita kubur ada cebong, ada kampret, kubur saja," ungkap mantan Ketua Umum MUI dan Rais Aam PBNU ini.

Menurutnya, pembelahan akibat Pilpres 2019 dan Pileg 2019 tidak boleh berlanjut lebih lama, sebab akan membuat tubuh bangsa tidak produktif.

Sesudah pemilu, lanjutnya, kita harus menyatu lagi untuk membangun bangsa dan jangan sampai perpecahan berlanjut. Ia berharap harmonisasi hubungan antar kelompok tidak terganggu, sebab bila terganggu maka pembangunan dan stabilitas akan terganggu juga.

"Caranya tentu kita akan lalukan konsolidasi kebangsaan. Harus mengadakan dialog-dialog, pertemuan-pertemuan untuk bisa mengerti tanpa harus menyampaikan kritik. Kritik sepanjang konstruktif boleh saja. Tapi tidak boleh ada permusuhan di antara kita sebangsa," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilpres 2019

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top