Petempur ISIS Asal Indonesia Ingin Segera Pulang

Sebagian warga Indonesia di antara ribuan petempur asing Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) menyatakan ingin kembali ke Indonesia.
John Andhi Oktaveri | 28 Maret 2019 07:38 WIB
Pasukan Demokrat Suriah (SDF) merayakan ulang tahun pertama pembebasan provinsi Raqqa dari ISIS, di Raqqa - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Sebagian warga Indonesia di antara ribuan petempur asing Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) menyatakan ingin kembali ke Indonesia.

Di antara mereka terdapat puluhan anak dan perempuan yang saat ini berada di kamp pengungsi di Al-Hol, Suriah timur. Mereka sebelumnya berada di Baghuz, kantong terakhir kelompok ISIS yang direbut oleh Pasukan Demokratis Suriah, SDF pimpinan suku Kurdi.

Salah seorang warga Indonesia, Maryam, menyebut berasal dari Bandung, Jawa Barat. Dia menyatakan ingin pulang ke Indonesia sebagaimana dikutip BBC.com, Kamis (28/3/2019).

Bersama empat anaknya, Maryam ditemui di Al-Hol pada pekan pertama bulan Maret oleh Afshin Ismaeli, seorang wartawan lepas.

"Saya dengan empat anak dan keluar dari Baghuz...kami ingin pulang ke negara asal kami, ke Indonesia," kata Maryam dalam rekaman video yang dibuat Afsin sebagaimana diikuti BBC.com, Kamis (28/3/2019). 

Afshin mengatakan kondisi di kamp itu sangat buruk dan memprihatinkan. Tidak cukup untuk menampung ribuan orang, tidak ada bantuan. Ada yang membagi makanan, tapi tak cukup untuk semua, ujarnya.

Warga Indonesia yang ditemui Afshin baru keluar dari Baghuz, namun dia mengatakan banyak pengungsi yang telah bertahun-tahun di kamp itu.

Pasukan SDF yang didukung Amerika Serikat dilaporkan telah menahan lebih dari 5.000 milisi asal Suriah dan mancanegara sejak Januari lalu. Mereka ditempatkan di berbagai penjara, sementara perempuan dan anak-anak ditempatkan di kamp pengungsi.

ISIS memang sudah kalah, namun mereka masih mungkin bangkit lagi.

Menurut salah seorang pejabat Kurdi, lebih dari 9.000 keluarga pendukung ISIS yang berasal dari luar negeri ditampung di kamp Al-Hol. Kamp itu dibangun untuk sekitar 20.000 orang, namun saat ini menampung lebih dari 70.000 orang.

Pejabat Kurdi, Abdul Karim Omar, mengatakan kepada wartawan BBC, Aleem Maqbool, dirinya sangat kecewa dengan dunia internasional, karena merasa seolah dibiarkan untuk menangani para petempur ISIS.

Abdul Karim mengatakan pihaknya kewalahan menampung para milisi yang ditahan ini. Dia mengaku sangat kecewa atas langkah sejumlah negara yang mencabut kewarganegaraan warga yang bergabung dengan ISIS. 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
terorisme, ISIS, radikalisme

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup