Peluk Prabowo, Nenek Irah Bantah Dibayar Rp500 Ribu

Nenek Irah atau Papuk Irah, panggilan akrab Sumirah, warga Kampung Telaga Mas, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) membantah dirinya telah dibayar saat diajak naik ke atas panggung oleh Calon Presiden Prabowo Subianto pada saat kampanye di Lapangan Karang Pule, Selasa (26/3/2019).
Newswire | 28 Maret 2019 06:54 WIB
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyampaikan orasi politiknya dalam kampanye terbuka di lapangan Karang Pule, Mataram, NTB, Selasa (26/3/2019). - Antara

Bisnis.com, MATARAM  - Nenek Irah atau Papuk Irah, panggilan akrab Sumirah, warga Kampung Telaga Mas, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) membantah dirinya telah dibayar saat diajak naik ke atas panggung oleh Calon Presiden Prabowo Subianto pada saat kampanye di Lapangan Karang Pule, Selasa (26/3/2019).

Nenek yang hidup sebatang kara ini mendadak viral setelah diajak Prabowo naik panggung pada kampanye di Lapangan Karang Pule, Kota Mataram pada Selasa (26/3/2019). Namun, seusai kampanye Prabowo, mendadak muncul video nenek Irah di media sosial (medsos) kemudian viral bahwa seolah-olah Papuk Irah telah menerima uang Rp500 ribu dari Tim Prabowo.

Atas video Papuk Irah yang sempat viral tersebut, Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra Haji Bambang Kristiono atau akrab disapa HBK dan istrinya Hj Dian Bambang melakukan silaturahmi dan tatap muka ke tempat kos Papuk Irah, Rabu (27/3/2019).

"Demi Allah, saya tidak terima uang Rp500 ribu atau dibayar untuk naik panggung sama Prabowo," ujar Papuk Irah, di hadapan HBK dan Hj Dian Bambang.

Menurut Papuk Irah, dirinya menghadiri kampanye terbuka Prabowo di Karang Pule itu atas kemauannya sendiri karena dari dulu ingin bisa melihat Prabowo.

"Saya sempat dilarang menghadiri kampanye Prabowo tersebut sama Ibu Kaling, tapi saya nekat datang sampai di depan panggung karena ingin lihat Prabowo langsung," katanya lagi.

Papuk Irah yang sehari-harinya berprofesi sebagai pemulung dan hidup sebatang kara. Papuk Irah mengaku untuk tempat tinggal, dia harus membayar sewa/kos sebesar Rp500 ribu sebulan.

Menanggapi hal tersebut, HBK di hadapan Papuk Irah dan puluhan warga di lingkungan Papuk Irah tinggal mengatakan, akan menghadapi dan atasi hoaks atau berita bohong ini dengan cara-cara yang damai, sejuk dan bermartabat.

"Kita tidak akan terprovokasi, kemudian menyerang balik dengan cara-cara yang sama, karena kita yakin dan percaya bahwa kebenaran itu tidak akan pernah tertukar," ujarnya pula.

HBK memberikan pesan khusus kepada para pengurus, kader, simpatisan, caleg Partai Gerindra NTB serta relawan 02 bahwa peristiwa kampanye terbuka Prabowo Subianto di Karang Pule, Sekarbela telah menampilkan miniatur peristiwa 212 Jakarta di Kota Mataram.

"Masyarakat datang berbondong-bondong ke tempat kampanye akbar Bapak Prabowo Subianto dengan penuh kesadaran dan keikhlasan untuk meneriakkan suara perubahan. Tidak ada rekayasa politik maupun bayar-bayaran, mereka datang murni didorong oleh rasa kesadaran bahwa negara ini memang butuh perubahan," kata HBK.

Karena itu, HBK berharap semua tidak memanipulasi ketulusan dan keikhlasan hati nurani seseorang, sebagai berita hoaks.

"Sebagai Panglima Perang Prabowo, saya akan hadapi dan atasi berita-berita hoaks tersebut dengan cara-cara yang damai, sejuk dan bermartabat. Kita tidak akan pernah terpancing apalagi terprovokasi dengan berita-berita murahan seperti ini," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
prabowo subianto, Pilpres 2019, Kampanye Terbuka

Sumber : Antara
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top