Ketidakpastian Brexit Beratkan Langkah Perusahaan Inggris

Ketidakpastian skenario Brexit yang masih tertahan di Parlemen Inggris membuat sejumlah pelaku industri ekspor harus tetap melakukan bisnis dalam gelap
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 11 Februari 2019  |  20:30 WIB
Ketidakpastian Brexit Beratkan Langkah Perusahaan Inggris
Pengunjuk rasa anti Brexit melambaikan bendera Uni Eropa di luar Gedung Parlemen Inggris di London, Inggris, Selasa (13/11). - Reuters/Toby Melville
Bisnis.com, JAKARTA -- Ketidakpastian skenario Brexit yang masih tertahan di Parlemen Inggris membuat sejumlah pelaku industri ekspor harus tetap melakukan bisnis dalam gelap.
Sejumlah perusahaan di tenggara Inggris terpaksa tetap menjalankan usaha tanpa tahu masa depan negara pasca Brexit akan seperti apa.
Masalah bagi eksportir Inggris saat ini adalah pemerintah belum menyesuaikan sebagian besar persyaratan perdagangan global yang menguntungkan pasca Brexit, seperti saat mereka masih merupakan bagian dari Uni Eropa.
Ketidakjelasan kebijakan dagang berarti akan meningkatkan risiko barang tertahan di karantina akibat peraturan bea cukai baru yang akan mengalami perubahan selama barang di dalam perjalanan. Sebagai contoh, pengiriman ekspor dari Inggris ke Asia perlu waktu paling lambat enam pekan.
"Akan ada banyak perubahan kontrak dalam menit-menit terakhir. Perubahan bea cukai akan meningkatkan harga jual produk secara besar-besaran," kata Alex Veitch, Kepala Kebijakan di Freight Transport Association.
Beberapa perusahaan berusaha mempercepat waktu pengiriman untuk melampaui tenggat waktu Brexit.
Joe & Seph, produsen popcorn gourmet di London, telah mulai mengangkut barang-barangnya ke pasar seperti Hong Kong dan Singapura menggunakan kargo pesawat, meskipun biayanya lebih dari dua kali lipat per pengiriman.
Dilema perdagangan juga berlaku untuk impor. 
Produsen makanan haggis yang berbasis di Edinburgh, Macsween, yang membeli komoditas kacang-kacangan dari Kanada dan bawang dari India dan Mesir, kesulitan mendapatkan kontrak jangka panjang dengan pemasoknya karena ketidakpastian atas status perdagangan Inggris di masa depan.
Departemen Perdagangan Internasional Inggris mengatakan akan memprioritaskan upaya untuk menghindari gangguan terhadap hubungan perdagangan global Inggris dengan semua mitra dagangnya. 
Inggris sejauh ini telah menandatangani perjanjian perdagangan kontinuitas dengan Chili, Kepulauan Faroe dan Afrika bagian timur dan selatan, serta telah "memulai" perjanjian perdagangan bebas dengan Swiss.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top