Jokowi Pakai Gaya Komunikasi Baru, Bisa Gerus Elektabilitas Prabowo

Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai aneh bila Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandi, menanggapi model kampanye yang dilakukan oleh Jokowi. Apalagi sampai mengatakan tidak tepat.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 05 Februari 2019  |  07:07 WIB
Jokowi Pakai Gaya Komunikasi Baru, Bisa Gerus Elektabilitas Prabowo
Calon Presiden Joko Widodo berorasi di depan massa Forum Alumni Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Belakangan gaya komunikasi Presiden Joko Widodo cenderung lebih tegas dan keras, terutama dalam menikapi serangan lawan politik yang memakai hoaks.

Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai aneh bila Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandi, menanggapi model kampanye yang dilakukan oleh Jokowi. Apalagi sampai mengatakan tidak tepat.

“Tepat atau tidak satu model kampanye tidak tergantung pada penilaian lawan politik. Tapi tergantung pada kebutuhan yang ada sebagai strategi yang akan diterapkan,” kata Ray, dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/2/2019).

Jika kubu Prabowo-Sandi menilai model kampanye yang dilakukan oleh petahana sebagai tidak tepat, katanya, justru hal itu menimbulkan pertanyaan. Apakah itu berarti oposisi agak khawatir model kampanye menyerang Jokowi ini sedikit banyak akan berimplikasi terhadap elektabilitas Prabowo. 

“Dengan seolah-olah menyebut pak Jokowi yang khawatir tapi sebenarnya yang terjadi justru kekhawatiran mereka. Model kampanye menyerang yang akan dilakukan oleh Jokowi akan dapat mengungkap berbagai kelemahan yang mungkin selama ini belum terungkap kapada publik,” kata dia.

Sebut saja soal adanya bantuan tim ahli dari orang asing untuk pemenangan Prabowo. Ini, kata Ray, satu isu yang sudah lama beredar, tetapi akan lebih bernilai politik manakala diungkapkan oleh petahana.

Lebih lagi, lanjut Ray, setelah hampir 4 bulan bertahan terus, dan efektif membuat suara tidak merosot, maka selanjutnya dalam rangka menambah daya tarik elektabilitas pola yang dipergunakan adalah kampanye menyerang. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute Karyono Wibowo menilai bahwa perubahan gaya komunikasi Jokowi yang lebih tegas, menyerang, ingin menunjukkan bahwa ia pun mampu melakukan perlawanan.

Hal itu, sangat wajar, karena sejak Jokowi belum jadi presiden, lalu sampai dilantik, bahkan hingga 4 tahun ini sebagai Presiden, serangan yang dilancarkan secara bertubi-tubi dari segala penjuru, dengan hoaks dan kebencian.

Dari tuduhan kriminilasi ulama, PKI, tenaga asing, sampai tidak bela ulama. Seragan dari kebijakan sampai personal.  Maka, komunikasi perlawanan yang dilakukan oleh Jokowi, kata dia, merupakan hal yang wajar.

“Di tengah hoaks, sikap lembut, datar, egaliter, tidak tepat lagi, malah bisa terpojok,” tegas dia.

Meski begitu, ia menyarankan agar Jokowi untuk juga berhati-hati dan memilah pada isu apa harus dilawan secara langsung atau cukup oleh tim kampanye, hingga para menteri.

“Pak Jokowi harus dilihat dulu, serangan mana yang harus direspon, apa cukup menterinya. Karena kalau semua direspons oleh Jokowi terjebak oleh lawan. Ini juga harus diperhatikan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top