PILPRES 2019: Sandi Akui Ada Propaganda

Calon wakil presiden Sandiaga Uno tidak mau meributkan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut ada propaganda Rusia di Indonesia dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019. Sandi mengakui ada propaganda, tapi untuk memastikan harga kebutuhan pokok stabil dan berjuang demi rakyat.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 05 Februari 2019  |  06:54 WIB
PILPRES 2019: Sandi Akui Ada Propaganda
Sandiaga Uno. JIBI/Bisnis - Jaffry Prabu Prakoso

Bisnis.com, JAKARTA - Calon wakil presiden Sandiaga Uno tidak mau meributkan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut ada propaganda Rusia di Indonesia dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019.  Sandi mengakui ada propaganda, tapi untuk memastikan harga kebutuhan pokok stabil dan berjuang demi rakyat.

Sandi mengatakan bahwa tidak betul kalau Prabowo-Sandi menggunakan propaganda Rusia, apalagi konsultan asing. Kalaupun ada fitnah seperti itu, Sandi minta untuk sebut nama.

“Tuduhan Pak Presiden itu jangan kita tanggapi, kalau saling serang-menyerang akhirnya pilpres yang kita inginkan, satu pilpres yang damai sejuk tidak tercipta,” kata Sandi di Jakarta, Senin (4/2/2019).

Sandi menjelaskan bahwa dia bersama Prabowo fokus dengan narasi politik yang disampaikan sejak awal terdaftar menjadi peserta pilpres, yaitu masalah kesenjangan ekonomi.

Sandi mengakui ada propaganda, tapi untuk memastikan harga kebutuhan pokok stabil dan berjuang demi rakyat.

“Rakyat yang merasa ditinggalkan oleh pemerintah dari segi keseharian mereka menghadapi tekanan ekonomi, menghadapi ketidakadilan, dan menghadapi kesenjangan,” jelas Sandi. 

Sebelumnya, Presiden Jokowi  saat menghadiri deklarasi Forum Alumni Jawa Timur mengungkapkan adanya cara-cara propaganda ala Rusia karena menyebarkan berita bohong. Ini dilakukan oleh salah satu tim sukses tanpa menyebut yang bersangkutan. 

Komentar tersebut dijawab Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia melalui akun Twitter resmi Kedubes Rusia Russian Embassy, IDN (@RusEmbJakarta).

“Sebagaimana diketahui istilah ‘propaganda Rusia’ direkayasa pada tahun 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden. Istilah ini sama sekali tidak berdasarkan pada realitas,” tulisnya.

Propaganda Rusia merupakan ungkapan dari media AS terkait dugaan kolusi antara agen intelijen Rusia dengan tim kampanye Capres dari Partai Republik Donald Trump, untuk memengaruhi hasil Pilpres 2016 demi mengalahkan calon dari Partai Demokrat Hillary Clinton.

“Kami menggarisbawahi bahwa posisi prinsipil Rusia adalah tidak campur tangan pada urusan dalam negeri dan proses-proses elektoral di negara-negara asing, termasuk Indonesia yang merupakan sahabat dekat dan mitra penting kami,” tambah admin. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sandiaga uno, Pilpres 2019

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top