TSUNAMI SELAT SUNDA: Lippo Group dan PMI Bantu Korban Bencana

Dalam kunjungan pekan lalu, sejumlah langkah konkret dilakukan seperti memberikan bantuan pembangunan instalasi air bersih, perbaikan sejumlah perahu nelayan, perbaikan gedung sekolah yang rusak, serta bantuan peralatan belajar.
M. Taufikul Basari | 08 Januari 2019 15:22 WIB
Warga menjemur baju di daerah terdampak tsunami Selat Sunda, di kawasan Carita, Pandeglang, Banten, Jumat (28/12/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Lippo Group, Theo L Sambuaga bersama Palang Merah Indonesia (PMI) berkolaborasi membantu masyarakat yang terkena musibah bencana alam tsunami Selat Sunda. 

Grup Lippo menyambangi salah satu daerah terdampak parah akibat bencana alam tsunami di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Mereka juga mengirim bantuan untuk korban tsunami lewat PMI.

“Grup Lippo memiliki komitmen tinggi, untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana. Kami sudah menyalurkan bantuan melalui PMI. Lippo Group siap membantu sepenuhnya langkah pemerintah, termasuk PMI dalam meminimalkan dampak bencana,” kata Theo, dalam keterangan pers, Selasa (8/1/2019).

Theo L Sambuaga mendorong PMI untuk segera mendatangkan bantuan lima ton beras yang sangat dibutuhkan masyarakat. Bantuan beras itu merupakan bagian dari bantuan-bantuan tanggap darurat sebelumnya, di mana PMI bekerja sama dengan pihak swasta, termasuk Lippo Group.

Dalam kunjungan pekan lalu, sejumlah langkah konkret dilakukan seperti memberikan bantuan pembangunan instalasi air bersih, perbaikan sejumlah perahu nelayan, perbaikan gedung sekolah yang rusak, serta bantuan peralatan belajar.

Ketua Umum Pengurus Pusat PMI, Ginandjar Kartasasmita mengatakan, PMI bersinergi dengan pengusaha dan swasta untuk bersama-sama meminimalkan dampak bencana.

Selain memberi bantuan, PMI mengadakan pertemuan dengan seluruh pengurus PMI Provinsi Banten dan kabupaten/kota di Serang, yang dipimpin oleh Sekretaris PMI Banten, Rachmat.

Pertemuan dilaksanakan di kantor PMI Banten itu membahas upaya yang dilakukan petugas PMI di lapangan serta kendala yang dihadapi serta langkah-langkah untuk mengatasinya.

Masyarakat pesisir pantai itu didominasi oleh komunitas nelayan. Saat tsunami melanda Kecamatan Sumur, pada Sabtu malam (22/12), tercatat 37 orang meninggal dunia, serta merusak ratusan bangunan seperti rumah, sekolah, instalasi air, dan perahu nelayan.

Pekan lalu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk menghindari lokasi pesisir pantai di sekitar Selat Sunda dalam radius 500 meter yang berada pada elevasi rendah (elevasi kurang dari 5 meter di atas permukaan laut).

Penetapan zona waspada tsunami itu didasari atas perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau, serta dengan mempertimbangkan kondisi lereng atau tebing dasar laut ataupun kondisi potensi kegempaan di Selat Sunda.

 

Tag : Tsunami Selat Sunda
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top