Panitia Reuni Akbar 212 Minta Polisi Ungkap Insiden Ledakan di Monas

Penyelenggara Reuni Akbar Mujahid 212 mendesak pihak Kepolisian untuk mengusut insiden ledakan di Lapangan Monas, sehari sebelum Reuni Akbar 212 berlangsung.
Yusran Yunus, Aziz Rahardyan | 08 Desember 2018 01:45 WIB
Ketua Panitia Penyelenggara Reuni Akbar Mujahid 212, Bernard Abdul Jabar (kedua dari kanan) bersama beberapa panitia penyelenggara lainnya, menyampaikan keterangan pers tentang penyelenggaraan Reuni Akbar Mujahid 212 yang digelar pada 2 Desember 2018/Bisnis - Yusran Yunus

Bisnis.com, JAKARTA - Penyelenggara Reuni Akbar Mujahid 212 mendesak pihak Kepolisian untuk mengusut insiden  ledakan genset di Lapangan Monas, sehari sebelum Reuni Akbar 212 berlangsung.

Genset tersebut meledak di salah satu panggung acara dan didekatnya ditemukan satu handphone yang dilakban atau diisolasi.

Panitia menduga kejadian tersebut sebagai upaya untuk mengggalkan Reuni Akbar 212. 

Ketua Panitia Penyelenggara Reuni Akbar Mujahid 212  Bernard Abdul Jabar mengungkap kejadian ledakan genset tersebut terjadi pada 1 Desember 2018 selepas waktu Salat Maghrib. Tidak ada korban dari kejadian tersebut.

"Di lokasi kejadian, kami juga menemukan satu buah handphone yang sudah dilakban dengan rapi. Kami menduga itu akan dipergunakan untuk memicu ledakan. Tidak lama setelah menemukan itu, kami melapor ke polisi dan tim gegana menyisir lokasi," ujarnya pada konferensi pers "Pernyataan Bersama GNPF-Ulama, FPI dan PA 212", Jumat (7/11/2018) sore.

Bernard menyebutkan panitia menahan diri untuk tidak mengekspose kejadian tersebut ke publik. Alasannya adalah untuk mencegah terjadinya kepanikan baik peserta yang malam itu sudah memadati Monas maupun masyarakat lainnya,  

Setelah kejadian itu, pihak panitia dibantu aparat keamanan dan petugas pengamanan internal, memperketat pengamanan di Monas 

"Kami tidak terpengaruh dengan kejadian tersebut dan mempersiapkan seluruh rangkaian persiapan hingga terselenggaranya acara pada esok harinya, yang diperkirakan dihadiri oleh lebih dari 8 juta peserta. Tidak hanya dari umat Islam, tetapi juga umat agama lainnya," ujar Bernard.

Dia berharap pihak Polri bisa segera mengungkap siapa pelaku di balik kejadian tersebut berikut dengan motifnya serta mengumumkan kepada publik secara transparan.

Penjelasan Polisi

Ihwal ledakan tersebut, Polisi sebenarnya sudah memberi penjelasan. Seperti dikutip Tempo.co, ledakan terjadi di sekitar panggung utama Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu malam 1 Desember 2018.

Diduga ledakan berasal dari mesin generator listrik (genset) yang berada di belakang panggung utama di sisi Barat Monas.

"Barang buktinya sudah dievakuasi," kata Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Roma Hutajulu saat dihubungi, Sabtu malam 1 Desember 2018.

Roma menerangkan, ledakan terjadi sekitar Pukul 19.20 WIB. Suaranya cukup keras namun tak sampai menimbulkan korban. Saat dihubungi Tempo, dia menambahkan bahwa  polisi masih menyelidiki penyebab ledakan tersebut.

"Kami juga sedang periksa beberapa saksi yang mengetahui ledakan itu," kata Roma.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Sektor Gambir Ajun Komisaris Besar Johaness mengatakan genset meledak diduga karena korsleting. "Tapi masih diselidiki," katanya sambil menambahkan "Ada handphone di genset tersebut."

Bisnis.com mencoba menghubungi Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono, Jumat (7/12/2018) malam. Namun yang bersangkutan tidak merespons. Kapolres Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu pun tidak bisa dihubungi.

Hingga tulisan ini dibuat, Bisnis belum mendapatkan penjelasan terbaru pihak Kepolisian terkait pernyataan Panitia Reuni Akbar 212.

Sumber : TEMPO.CO

Tag : Reuni Akbar 212
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top