Argentina Diminta Selidiki Mohammad bin Salman Terkait Perang Yaman dan Kasus Khashoggi

Human Rights Watch meminta Argentina untuk menggunakan klausul kejahatan perang dalam Undang-Undang Dasar-nya untuk menyelidiki peran Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman dalam kasus Jamal Khashoggi dan Perang Yaman.
Annisa Margrit | 28 November 2018 00:20 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman (kiri) berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump (kanan) di Gedung Putih, Washington, DC, AS, Selasa (20/3). - Reuters/Jonathan Ernst

Bisnis.com, JAKARTA – Human Rights Watch meminta Argentina untuk menggunakan klausul kejahatan perang dalam Undang-Undang Dasar-nya untuk menyelidiki peran Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman dalam kasus Jamal Khashoggi dan Perang Yaman.

Konstitusi Argentina memungkinkan negara itu untuk melakukan investigasi terkait kejahatan perang dan penyiksaan di yurisdiksi internasional. Dengan demikian, di manapun dua kejahatan tersebut dilakukan, Pemerintah Argentina bisa membawanya ke meja hijau.

Dilansir dari Reuters, Rabu (28/11/2018), Human Rights Watch (HRW) mengungkapkan telah mengirim permohonan ke hakim federal Ariel Lijo. Namun, pihak Lijo belum memberikan komentar atas hal ini.

Argentina juga akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, yang digelar di Buenos Aires pada pekan ini. Mohammad bin Salman (MbS) dijadwalkan hadir dalam pertemuan ini.

“Kami menyerahkan informasi ini kepada para jaksa di Argentina dengan harapan mereka akan menyelidiki MbS atas peran dan tanggung jawabnya dalam kejahatan perang di Yaman dan penyiksaan warga sipil, termasuk Jamal Khashoggi,” papar Direktur HRW Timur Tengah dan Afrika Utara Sarah Leah Whitson.

Ada beberapa kasus yang memanfaatkan yurisdiksi internasional dan sukses. Salah satunya adalah ketika Hakim Baltasar Garzon di Spanyol memerintahkan penahanan atas mantan diktator Chile Augusto Pinochet di London, Inggris pada 1998.

Perang Yaman berlangsung sejak 2015, setelah gerilyawan Houthi mengambil alih ibu kotanya, Sanaa. Pasukan koalisi negara Arab yang dipimpin Arab Saudi pun menyerang Yaman untuk mengembalikan kedudukan pemerintah yang sah.

Tidak hanya menyerang secara militer, Arab Saudi juga memblokir pelabuhan utama Yaman yang berakibat pada terhambatnya akses makanan dan obat-obatan bagi rakyat negara di Teluk Aden itu. Bencana kemanusiaan, seperti kelaparan, pun terjadi dan hal ini memicu kecaman dari dunia internasional.

Adapun Khashoggi adalah kolumnis Arab Saudi yang bekerja untuk The Washington Post. Dia dibunuh oleh orang-orang terdekat MbS ketika berada di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki pada awal Oktober 2018.

Khashoggi diduga dibunuh karena sering mengkritik kebijakan Pemerintah Arab Saudi, terutama MbS. Namun, Pemerintah Arab Saudi mengklaim MbS tak tahu menahu soal pembunuhan itu.

Sumber : Reuters

Tag : argentina, arab saudi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top