Bersih-Bersih P2P Lending di China Demi 'Best Practice'

Sebanyak 118 P2P lending di China gulung tikar hingga 20 Juli 2018.
Nindya Aldila | 19 November 2018 01:00 WIB
Ilustrasi teknologi finansial. - Flickr

Bisnis. com, JAKARTA -- Bersih-bersih peer-to-peer (P2P) lending di China bakal menguntungkan industri yang sudah berdiri.

Hal itu disampaikan oleh Ning Tang, CEO Creditease saat diwawancarai Bloomberg. Dia berharap, inisiasi ini akan menciptakan sistem yang lebih terorganisir bagi industri pinjaman online.

“Karena kami sedang bekerja sama dengan regulator dan asosiasi agar menaati bingkai kerja industri sesuai best practice,” katanya, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (18/11/2018).

Tang menilai, perekonomian China memang sedang melambat, tetapi dia meyakini, pertumbuhan ekonomi yang inklusif bakal didorong oleh teknologi.

Menurutnya, untuk menciptakan atmosfer industri P2P lending yang lebih baik, diperlukan regulasi yang dapat mengikuti kecepatan inovasi seiring dengan pertumbuhan fintech di China.

Fintech menciptakan kesempatan di era ekonomi baru, yakni dengan memperkuat ekonomi baru seperti ekonomi skala kecil.

“Kalau sekarang Anda pergi ke restoran atau hotel di China, dan banyak data tentang mereka yang bisa digunakan untuk credit analytic yang. Data itu memberikan kesempatan untuk menjalankan bisnis lending yang lebih baik.”

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan sebanyak 118 P2P lending di China gulung tikar hingga 20 Juli 2018. Data National Internet Finance Association of China menunjukkan pinjaman outstanding mencapai US$192 miliar dengan jumlah peminjam sebesar 50 juta.

Dengan rata-rata bunga pinjaman sebesar 10,2% hingga semester I/2018, China mencatat kredit bermasalah pada setiap P2P lending bervariasi dari 0% -- 35%.

Tag : fintech
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top