Ini 5 Program Prabowo-Sandi di Bidang Pangan

Salah satu sektor yang menjadi perhatian pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam kampanye Pilpres 2018 adalah sektor pangan.
JIBI | 17 November 2018 10:42 WIB
Petani merontokkan padi hasil panen di areal persawahan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/10/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -- Salah satu sektor yang menjadi perhatian pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam kampanye Pilpres 2018 adalah sektor pangan.

Menurut pasangan tersebut, ada banyak hal yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintahan Jokowi saat ini.

"Sektor pangan adalah salah satu titik lemah yang insyaallah akan diperbaiki Prabowo-Sandi," ujar Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo seperti dilansir Tempo, Sabtu (17/11/2018).
 
Untuk itu, tim pasangan Prabowo-Sandiaga merumuskan sejumlah langkah untuk membenahi sektor pangan dan pertanian. Berikut ini adalah lima program yang ditawarkan pasangan nomor urut 02 tersebut:

1. Realokasi dana infrastruktur

Drajad mengatakan pasangan Prabowo-Sandiaga akan menyisir proyek-proyek infrastruktur yang telah direncanakan dan menunda proyek yang dinilai belum mendesak. Dana yang awalnya dialokasikan untuk proyek-proyek itu bakal dialihkan untuk meningkatkan infrastruktur di pedesaan dan pertanian secara besar-besaran.

Tujuannya, menopang peningkatan produksi pertanian dan pangan, termasuk irigasi, jalan, dan fasilitas pengolahan serta penyimpanan.

2. Pembenahan Bulog

Bulog juga akan dibenahi kembali, baik dari sisi pendanaan maupun aset. Pembenahan ini diyakini bakal berpengaruh terhadap Nilai Tukar Petani (NTP), karena NTP berkaitan dengan harga dasar dan harga maksimal untuk komoditas tertentu yang dijaga oleh Bulog.

"Selain itu, juga harus dirombak tata kelolanya agar tidak menjadi sarang korupsi, termasuk dengan adanya pengawasan dari masyarakat," lanjutnya.

3. Mekanisasi sektor pertanian

Anggota tim kajian analisis Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Sapto Waluyo memandang salah  satu cara memperkuat ketahanan pangan adalah dengan meningkatkan produktivitas. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan mekanisasi di sektor pertanian.

Metode ini, tuturnya, sudah diterapkan di Jawa Barat pada masa Ahmad Heryawan menjabat sebagai gubernur. Mekanisasi pun akan diikuti pendampingan terhadap para petani.

Naiknya produktivitas dipercaya bakal menahan kebutuhan impor karena kebutuhan nasional bisa dipenuhi sendiri. Sehingga, alih-alih impor, Indonesia justru bisa menjadi pengekspor.

4. Penerapan teknologi pada sistem pergudangan

Sapto mengemukakan pemasangan teknologi baru di sistem pergudangan dapat membenahi persoalan pertanian yang ada saat ini. Contohnya, hasil panen tidak mudah busuk meskipun tidak segera dikirim.

"Di Nusa Tenggara Barat, kami lihat masalahnya adalah mereka tidak punya pergudangan yang memadai untuk menyimpan hasil panen," ungkapnya.

5. Menggalakkan diversifikasi pangan

Impor pangan dinilai masih cukup tinggi bukan hanya karena produksi di dalam negeri masih kurang, tapi ada juga komoditas yang tidak diproduksi di dalam negeri. Untuk itu, Sapto menjelaskan bahwa solusinya adalah dengan menggalakkan diversifikasi pangan sesuai daerah masing-masing.

"Buktinya kata Pak Budi Waseso [Kepala Bulog], stok beras kan cukup, tapi semua minta begitu [impor]. Padahal, belum tentu semua memakan beras," ucapnya.

Bahan pangan lain seperti gandum, yang menjadi bahan baku terigu, juga dinilai bisa diganti. Menurut Sapto, sempat ada riset yang membuktikan gandum dapat disubstitusi dengan sorgum walaupun kualitasnya tidak sehalus terigu gandum.

"Enggak apa-apa, masyarakat harus dibiasakan hidup keras, jangan dimanjakan sementara negara menombok," sambungnya.

Tetapi, Sapto menegaskan jika ada orang yang mengambil rente, maka harus dilawan.

Sumber : Tempo

Tag : prabowo subianto, Pilpres 2019
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top