Pemerintah Kirimkan 100 Guru Terpilih untuk Anak-Anak TKI di Malaysia

Pemerintah mengirimkan 95 dari 100 guru terpilih ke Malaysia. Pengiriman guru terpilih dimaksudkan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 03 November 2018 17:21 WIB
Ilustrasi: Guru mengajar di kelas. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah mengirimkan 95 dari 100 guru terpilih ke Malaysia. Pengiriman guru terpilih dimaksudkan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu.

Mereka akan ditempatkan di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di wilayah Sabah dan Sarawak.

Pengiriman guru ini dilakukan pada Kamis dan Jumat, (1 hingga 2 November 2018). Sisanya akan diberangkatkan ke Kuching, Malaysia, setelah perizinannya rampung.

PKBM atau lebih dikenal dengan istilah Community Learning Center (CLC) adalah lembaga pendidikan non formal yang diprakarsai dan dikelola masyarakat sebagai upaya memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Hingga saat ini terdapat 294 PKBM di Malaysia dengan rincian 155 jenjang sekolah dasar (SD) dan 139 jenjang sekolah menengah pertama (SMP).

Para guru itu akan melayani pendidikan anak-anak tenaga kerja Indonesia selama dua tahun. Hal ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam mencerdaskan anak bangsa di manapun mereka berada.

Mereka yang bertugas adalah guru profesional yang memiliki sertifikat pendidik yang sah dari pemerintah Indonesia dengan kompetensi meliputi pedagogi, kepribadian, sosial, dan profesinalisme.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy berpesan kepada para guru agar proaktif mencari siswa bagi PKBM. Tindkaan proaktif diperlukan karena kondisi di sana jauh berbeda dengan kondisi sekolah di kota-kota besar di Indonesia.

Muhadjir meminta para guru menggali potensi anak-anak Indonesia di tempatnya bertugas sehingga lebih banyak siswa sukses nantinya.

“Ini tanggung jawab yang besar dalam membawa nama Indonesia sekaligus pengabdian. Anda [sebagai guru] adalah wajah dari negara Indonesia yang akan berada di Malaysia,” ujar Muhadjir, dikutip dari keterangan resmi Kemendikbud, Sabtu (4/11/2018).

Mendikbud mengungkapkan, saat ini masih ada sekitar seratus ribu anak-anak Indonesia yang belum terlayani pendidikannya.

“Kita [Pemerintah] baru bisa melayani sekitar 28 ribu, sekarang mau dinaikkan sampai 50 ribu targetnya,” tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Praptono menegaskan kegiatan belajar mengajar di lokasi penempatan harus tetap berjalan meskipun pendukung delapan standar nasional pendidikan tidak tersedia sepenuhnya.

Sarana prasarana yang terbatas, kelebihan jam kerja, dan lainnya menjadi tantangan yang harus dipecahkan para guru.

“Semoga anak-anak Indonesia di Malaysia bisa terlayani pendidikannya dan meraih masa depan yang lebih baik sehingga melalui pendidikan akan memutus rantai kemiskinan dan kebodohan,” ucapnya.

Hal itu disampaikan Praptonno saat memberikan sambutan pada acara Serah Terima Guru untuk Pendidikan Anak-anak Indonesia di Malaysia, Rabu (31/10/2018), di Hotel Klagan Regency, Kota Kinabalu, Malaysia.

Hal yang sama juga diungkapkan, Diah Rizki Hutaminingsih, guru yang pernah bertugas di Malaysia. Menurutnya, anak-anak Indonesia di Malaysia sebenarnya memiliki potensi yang besar, namun kesempatan mereka memperoleh pendidikan belum sepenuhnya ada.

“Semoga anak-anak Indonesia di Malaysia bisa kembali ke Indonesia menjadi individu yang bermartabat bagi negaranya,” kata Diah.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Kinabalu Malaysia, Khrisna Djelani menjelaskan, hampir seluruh anak-anak Indonesia yang akan diajar guru-guru itu lahir dan tumbuh besar di Negeri Jiran.

Selain itu, perbedaan usia dalam satu rombongan belajar sangat beragam atau tidak sesuai dengan usia di jenjang pendidikan yang seharusnya sehingga perlu lebih sabar.

“Masyarakat setempat menganggap guru sebagai manusia super yang tahu segalanya. Jangan mudah putus asa, setidaknya bisa menjadi panutan,” katanya.

Pengiriman guru ke Malaysia ini merupakan yang ke-9 kalinya sejak 2006. Hingga saat ini sebanyak 290 guru Indonesia mengajar di 294 PKBM di Malaysia yang tersebar di wilayah Sabah dan Sarawak.

Tag : TKI, pendidikan
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top