Pemuda Dituntut Miliki dan Mendorong Minat Baca

Pegiat literasi berpandangan, semangat Peringatan Sumpah Pemuda yang ke-90 harus diawali dengan meningkatkan minat membaca.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 28 Oktober 2018 23:55 WIB
Nirwan Arsuka (sebelah kiri) selaku Penanggung Jawab Pustaka Bergerak menjelaskan soal minat baca anak yang disebut rendah di Indonesia.

Bisnis.com, JAKARTA — Pegiat literasi berpandangan, semangat Peringatan Sumpah Pemuda yang ke-90 harus diawali dengan meningkatkan minat membaca.

Dalam sesi "Merawat Budaya Indonesia" pada MilenialFest 2018, Nirwan Arsuka, Penanggung Jawab Pustaka Bergerak mengatakan pustaka dalam hal ini buku harus mendatangi manusia, bukan sebaliknya. 

"Relawan pustaka bergerak dan mereka mengandalkan kekuatan dengan jaringan," ujar Nirwan di Djakarta Theater, Minggu (28/10/2018).

Sejumlah cara selama ini sudah ditempuh pemerintah dengan mengadakan program buku gratis melalui Pos Indonesia setiap tanggal 17 ke sejumlah perpustakaan relawan di seluruh Indonesia. Program ini bisa menjadi langkah yang baik karena menjadi yang pertama kali dilakukan di dunia.

Dia berpendapat anak Indonesia memiliki minat baca yang baik tetapi akses pada bacaan rendah. 

Proses distribusi ke daerah-daerah oleh relawan dilakukan dengan sangat beragam, dari mulai menggunakan mobil, motor, sampai dengan delman atau kuda.

"Misi Pustaka Bergerak mau pakai kuda dan perahu supaya bagaimana bisa dapat akses ke daerah tersebut," terangnya.

Menurut Nirwan para relawan Pustaka Bergerak kerap sakit hati karena minat baca rendah sabgat sering dikutip hasik riset UNESCO. Padahal, tak hanya anak kecil, minat baca bapak Indonesia juga rendah. 

"Relawan kami dulunya mengejar anak masuk kampung, ke tepi sungai, kejar ke dermaga membawakan buku. Sekarang mereka tak cuma didatangi pembaca tetapi didatangi juga sekarang oleh pembajak," katanya.

Misalnya kata Nirwan buku bawaan relawan bisa dibajak alias dicegat anak kampung ketika tak sengaja lewat sekalipun kampung itu bukan tujuannya. Relawan akan disuruh membuka lapak. Ada juga yang disuruh bermalam di kampung C padahal seharusnya bermalam di kampung D untuk membuka lapak buku.

Selain itu tidak banyak buku bagus dengan daya analisis. Sebaliknya, lebih banyak beredar buku yang isinya ceramah kepada anak. Nirwan menilai konten buku di Indonesia umumnya menyuruh anak-anak saleh dan patuh saja.

"Padahal sebelum saleh mereka harus nakal dulu, main dulu," kata Nirwan seraya tertawa.

Saat ini kata Nirwan ada sekitar 2000 simpul pustaka di Indonesia. Adapun sumber pengumpulan buku berasal dari ibu ibu. 

Beberapa buku juga banyak hasil hibah dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang punya akses mudah pada buku. Umumnya alasan para TKI dan TKW mengirimkan buku karena mereka mau nasib buruk tidak terulang ke generasi berikutnya.

Tag : minat baca, sumpah pemuda
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top