Kertajati Dibidik Jadi Pusat Embarkasi Haji Jabar

Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan tertarik menjadikan kawasan aerocity Kertajati, Majalengka, Jawa Barat (Jabar) sebagai pusat asrama haji embarkasi Jabar pada 2019.
Wisnu Wage Pamungkas | 18 Oktober 2018 15:13 WIB
Ilustrasi-jemaah calon haji - Antara/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, BANDUNG -- Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan tertarik menjadikan kawasan aerocity Kertajati, Majalengka, Jawa Barat (Jabar) sebagai pusat asrama haji embarkasi Jabar pada 2019.

Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) Virda Dimas Ekaputra mengatakan Kemenag sudah melakukan survei langsung ke Kecamatan Kertajati terkait embarkasi haji 2019, pada pekan lalu. Di lokasi tersebut, rencananya akan dibangun 4 menara apartemen dengan kapasitas 1.000 kamar dan bernilai investasi Rp500 miliar oleh PT PP Properti Tbk.

"Izin sudah keluar, tinggal Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sebentar lagi dari Bupati Majalengka. Kalau IMB keluar November 2018, mudah-mudahan Desember 2018 sudah dimulai " paparnya di Gedung Sate, Bandung, Jabar, Kamis (18/10/2018).

Virda mengungkapkan pihaknya pun mengincar pembangunan asrama haji karena sudah ada dalam masterplan aerocity. Bahkan, lahan yang telah disiapkan mencapai 17 hektare (ha), meski baru 80% yang terealisasi. Namun, dia mengaku kurang gencar berkomunikasi karena beberapa daerah lain pun sudah mengajukan diri menjadi embarkasi haji Jabar ke Kemenag, seperti Indramayu dan Sumedang.

Menurut Virda, Kemenag berharap asrama haji yang dibangun nantinya lebih mirip hotel bintang 3. Saat musim haji, asrama akan disewa Kemenag dari PT BIJB sedangkan di luar musim haji dapat disewakan untuk umrah atau keperluan komersial lainnya.

Namun, hal ini akan dimatangkan kembali baik dari sisi desain maupun konsep bisnis. PT BIJB mengharapkan dapat segera berkonsolidasi dengan PP Properti, terutama agar penyelesaian fisik bangunan asrama bisa selesai sebelum keberangkatan haji tahun depan.

Adapun Kemenag sudah memberi gambaran kebutuhan asrama haji yakni kesediaan kamar minimal 200 unit. Lalu, ada aula besar untuk kepentingan pertemuan calon haji.

“Konsolidasi dengan PP Properti terkait metode apa [yang akan digunakan], supaya Juni 2019 ada 200 kamar dan aula yang harus selesai. Paling utama kamar dan aula, siapa tahu ada [metode] yang instan,” tuturnya.

Untuk membangun 200 kamar, biaya yang dibutuhkan diperkirakan sekitar Rp100 miliar. Dana itu termasuk untuk tanah dan akses jalan menuju asrama.

Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah Jabar Iwa Karniwa menyatakan pengembangan aerocity Kertajati dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) termasuk yang ditawarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar kepada Asian Development Bank (ADB) sebagai tindak lanjut pertemuan 21 September 2018.

“ADB tadi [tertarik] cukup signifikan terkait BIJB, lalu Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Light Rail Transit (LRT) Bandung Raya,” ujarnya.

Kontribusi ADB dan swasta dipandang penting karena APBN maupun APBD yang dibelanjakan untuk menurunkan kesenjangan ekonomi ternyata hanya 9%.

Pekan lalu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil memastikan akan menghimpun informasi secara utuh terkait embarkasi dan asrama haji karena kebutuhan haji terutama asal wilayah utara dan Priangan ke embarkasi terdekat sudah mendesak. Di sisi lain, Sumedang dan Indramayu juga sudah melakukan persiapan agar bisa ditunjuk membangun asrama haji.

“Semua ingin berebut, saya harus putuskan yang adil sesuai parameter yang ada,” ucapnya.

 

Tag : Ibadah Haji, bandara kertajati
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top