Sutopo Purwo Nugroho: Melaporkan Bencana Sambil Berjuang Melawan Kanker yang Mendera

18 September 2018, sebelum terjadi bencana gempa dan tsunami di Donggala dan Palu Sulawesi Tengah, Sutopo Purwo Nugroho mengabari apa terjadi. Tapi kali itu, ia bukan mengabarkan kondisi bencana, hal yang identik dengan tugasnya sebagai humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Sutopo mencuitkan hal yang lebih pribadi, soal kondisi kesehatannya sebagai pengidap kanker.
Saeno | 02 Oktober 2018 10:35 WIB
Sutopo Purwo Nugroho - twitter

Bisnis.com, JAKARTA  -  Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho selalu tampil memberikan informasi terkait bencana di Indonesia. Tanpa diminta, Sutopo seperti sudah memilih protap untuk mengabarkan apa yang terjadi dengan sejelas-jelasnya. 

18 September 2018, sebelum terjadi bencana gempa dan tsunami di Donggala dan Palu Sulawesi Tengah, Sutopo Purwo Nugroho mengabari apa terjadi. 

Tapi kali itu, ia bukan mengabarkan kondisi bencana, hal yang identik dengan tugasnya sebagai humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Sutopo mencuitkan hal yang lebih pribadi, soal kondisi kesehatannya sebagai pengidap kanker.

"Ya Allah berikanlah kekuatan dan kesabaran menjalani ujian sakit ini. Berikanlah aku kesembuhan ya Allah. Efek kemoterapi memang sungguh menyakitkan. Mual, muntah, pusing, nafsu makan hilang, dada terasa sesak dan nyeri, dan lainnya. Bersyukurlah bagi yang diberi nikmat sehat," begitu ujar pemilik akun Sutopo_PN ini.

Cuitan Sutopo bukan untuk menyampaikan keluh kesah dirinya kepada seisi jagat. Ia justru menyatakan perlunya bersyukur bagi siapa pun yang sehat. Tak perlu merasakan bagaimana proses kemo berdampak, mulai dari rasa mual, kebas tak ada rasam nafsu makan hilang dan rasa nyeri dan sesak yang bertubi.

Keluh kesah tampaknya sudah lewat bagi Sutopo yang "memproklamirkan" dirinya sebagai penyintas kanker paru-paru stadium 4B. Lebih dari itu, dari kesiapannya melaporkan setiap bencana, orang tidak akan menyangkan bahwa anak pensiunan guru SD yang bercita-cita menjadi guru dan peneliti ini mengidap penyakit yang mematikan.

Namun, seperti usia, kondisi kesehatan pun tak bisa dibohongi atau dialihkan oleh semangat yang besar. Sutopo pun mafhum soal itu. Semangat untuk senantiasa mengabarkan apa yang sedang terjadi tak bisa selamanya dipenuhi.

"Saat bencana, apalagi jumlah korban dan dampak bencananya besar seperti gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, seperti ini. Pasti media, masyarakat, dan lainnya meminta saya terus menyampaikan update data. Bahkan pihak Istana dan Kementerian lain juga meminta informasinya." ujar Sutopo dalam awal pernyataannya yang memohon maaf kepada media karena belum bisa  melayani dengan prima.

Terkait gempa dan tsunami di Donggala-Palu, Sutopo menyebutkan tentang keterbatasan akses data dan informasi lapangan. Apalagi kondisi listrik dan komunikasi ke Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong juga lumpuh. Sangat sulit kami mengakses data dan update penanganan.

Sutopo meyebutkan ponselnya tak berhenti berdering. Pesan melalui aplikasi whatsapp dari media dan lainnya juga terus masuk.

"Banyak sekali telpon yang saat saya angkat ternyata bukan hanya dari media. Tapi dari staf Kedutaan, Konsuler, Kementerian/Lembaga, dan masyarakat yang menanyakan kondisi di Sulteng sana. Entah memperoleh no telpon dari mana, banyak masyarakat yang menanyakan ke saya tentang orangtuanya, anak, saudara, kerabat, teman dan lainnya yang belum dapat dihubungi sampai saat ini di tempat bencana sana. Orang asing pun banyak yang telpon atau whatsaap menanyakan korban dan penanganan."

Sutopo menyebutkan ia harus melayani dan menjelaskan semuanya. "Harus sabar, telaten dan membesarkan hati masyarakat yang kehilangan saudaranya. Komunikasi memang lumpuh. Saya sendiri kesulitan mencari data."

Arus pertanyaan yang tinggi membuat Sutopo tidak dapat melayani permintaan wawancara satu per satu. "Jika ada update pasti segera saya sampaikan di wag [whatsapp grup] Medkom. Total ada 6 wag medkom, 14 wag wapena (wartawan lokal) dan 1 wag pers BNPB yang harus saya berikan info terus menerus. Ada lebih 3.000an wartawan yang harus saya layani. Saya broadcast melalui wag dan japri semua info bencana."

Berbagai kesibukan menjawab pertanyaan dan memberikan informasi itu membuat Sutopo tak bisa menjawab pertanyaan satu per satu.

"Mohon maaf saya tidak dapat menjawab pertanyaan lisan dan tulisan satu per satu. Mohon maaf tidak bisa wawancara ke studio," ujarnya.

Lebih dari, kondisi fisik yang belum pulih benar membuat Sutopo juga harus menghadapi semua rasa nyeri dan sakit bahkan saat bertugas memberi informasi dan berusaha menenangkan publik.

"Kondisi saya masih sakit. Masih pemulihan dari kanker paru-paru. Fisik rasanya makin lemah. Nyeri punggung dan dada kiri menyakitkan. Rasa mual, ingin muntah, sesak napas, daan lainnya saya rasakan. Bahkan tulang belakang saya sudah bengkok karena tulang terdorong massa kanker, makanya jalan saya miring," ujarnya.

"Tapi saya tetap berusaha melayani rekan-rekan media dengan baik. Setiap hari saya gelar konprensi pers dan saya siapkan bahan paparan yang lengkap agar media tidak salah kutip. Semua data yang saya miliki selalu saya berikan utuh. Tak ada yang saya sembunyikan. Selalu update dan berusaha melayani dengan prima kepada media. Saat konprensi pers jika ada media yang bertanya saya jelaskan dengan panjang, lengkap, dan kadang berulang-ulang kayak saya memberi kuliah mahasiswa. Agar menulis beritanya tidak salah," lanjutnya.

Tak hanya itu, Sutopo juga aktif di medsos, khususnya di twitter dan IG. Di dua media sosial itu Sutopo berusaha untuk terus menghadirkan update informasi. "Karena masyarakat luas menunggu," ujarnya.

"Namun, mohon maaf kondisi fisik saya tidak bisa ditipu. Sakit kanker paru-paru stadium 4B yang telah menyebar di beberapa bagian tubuh menyebabkan saya lemah. Rasa sakit yang mendera juga menyebabkan sulit untuk tidur nyenyak. Sekali lagi, mohon maaf saya tidak dapat melayani dengan prima semua pertanyaan rekan-rekan media. Jika sehat pasti saya lakukan kapanpun, dimana pun, bagaimanapun selama 24 jam 7 hari seminggu," tulis Sutopo.

Dia menambahkan, "dengan keterbatasan yang ada mohon dimaafkan jika ada pertanyaan yang tidak dijawab. Penggilan telpon yang tidak diangkat. Undangan wawancara yang tidak bisa dipenuhi hadirnya."

"Saya akan tetap melakukan konpresensi pers setiap hari selama darurat ini. Materi pasti saya siapkan. Saat konpres silakan tanya sepuasnya. Tapi jangan pertanyaan asal-asalan dan hanya cari-cari kesalahan. Tanyalah yang berkualitas dan bermutu agar saya menjawabnya juga puas. Lebih wawancara bersama-sama agar efektif waktunya. Saya masih bisa menolak wawancara dengan media. Tapi dengan masyarakat yang kehilangan saudaranya saat ini saya harus menjelaskan dan membantu dengan sabar. Kira-kira seperti itu yang ingin saya sampaikan ke teman-teman media. Mohon maaf. Saya juga mohon doanya agar saya segera sehat, sembuh dan bisa beraktivitas normal kembali," tutup Sutopo.

Begitulah kondisi Sutopo, sosok di balik berbagai berita terbaru soal kondisi dan penanganannya di Indonesia. Jadi, ketika membaca berita soal bencana, dan ada nama Sutopo di dalamnya, Anda pun bisa membayangkan betapa besar perjuangan dirinya.  Sutopo berjuang menyampaikan berita yang benar dan apa adanya, sembali melawan rasa sakit yang mendera tubuh.

Sumber : Twitter

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top