Pemilih Jokowi Ingin Cawapres Orang NU. Muhaimin dan Mahfud MD Teratas, Namun...

Mayoritas pendukung Joko Widodo menginginkan kader Nahdlatul Ulama atau NU mendampingi bakal calon presiden petahana tersebut dalam Pemilihan Umum Presiden 2019.
Samdysara Saragih | 03 Agustus 2018 17:50 WIB
/Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas pendukung Joko Widodo menginginkan kader Nahdlatul Ulama atau NU mendampingi bakal calon presiden petahana tersebut dalam Pemilihan Umum Presiden 2019.

Dua warga nahdliyin yang mencuat adalah Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar dan Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud M.D. Kedua sosok bakal calon wakil presiden tersebut dinilai bisa mengikis sentimen primordial yang berpotensi menyerang Jokowi.

“Sebanyak 90% pendukung Jokowi setuju cawapres berlatar NU. Nama Muhaimin dan Mahfud selalu muncul,” kata Direktur Riset Alvara Research Center Harry Nugroho dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (3/8/2018).

Dalam survei Alvara Research Center dari 20-28 Juli 2018, Jokowi masih menjadi bakal calon presiden terkuat menjelang dibukanya masa pendaftaran peserta Pilpres 2019. Sebanyak 48,4% masyarakat mendukung mantan Gubernur DKI Jakarta itu, sementara Prabowo bertenger di posisi kedua dengan tingkat keterpilihan 32,2%.

Muhaimin dan Mahfud konsisten didaulat pendukung Jokowi di peringkat dua besar, baik lewat pertanyaan terbuka maupun simulasi daftar nama. Dalam pertanyaan terbuka, elektabilitas Muhaimin sebagai cawapres Jokowi sebesar 18,7%, sementara Mahfud 18,5%. Lewat simulasi 11 nama cawapres yang disebut masuk dalam ‘kantong’ Jokowi, nama Muhaimin dan Mahfud masing-masing dipilih 28,5% dan 27,6% pendukung sang capres petahana.

Meski demikian, Harry mengingatkan bahwa Muhaimin dan Mahfud mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Muhaimin unggul karena bermodalkan jaringan kuat, tetapi sosok tersebut bisa kontraproduktif karena rentan ditolak petinggi parpol koalisi lain.

Ada pun, Mahfud sebagai sosok nonpartisan bisa menutupi resistensi parpol koalisi. Sayangnya, tambah Harry, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu memiliki kelemahan karena masih diragukan ke-NU-annya.

Harry menilai posisi cawapres berlatar belakang NU penting untuk mendongkrak elektabilitas Jokowi terutama di kalangan pemilih Islam. Apalagi, sang kompetitor, Prabowo Subianto, diprediksi akan diuntungkan dengan isu populisme Islam sebagaimana fenomena Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Isu agama, menurut Harry, menjadi salah satu narasi yang perlu diantisipasi Jokowi selain masalah ekonomi. Saking pentingnya isu ini, survei Alvara mendapati lebih banyak tokoh Islam masuk daftar cawapres ketimbang sosok berlatar belakang ekonomi.

Alvara mengumpulkan data lewat wawancara tatap muka kepada 1.142 responden berusia di atas 17 tahun di seluruh Indonesia dari 20-28 Juli 2018. Marjin kesalahan survei sebesar  2,95% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilpres 2019

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top