LAPORAN DARI JEPANG (10) : Berharap Lebih di Lompatan Kedua

Menariknya, sekitar 87% investasi Jepang sejak 2010 direalisasikan di industri manufaktur dan telah berkontribusi terhadap industrialisasi di Indonesia, menciptakan banyak lapangan kerja, dan mendukung ekspor nasional.
Fatkhul Maskur | 31 Juli 2018 16:50 WIB
Wali Kota Kesennuma, Perfektur Miyagi, Shigeru Sugawara; Utusan Khusus Presiden untuk Jepang Rachmat Gobel; Parliamentery Vice Minister Kementerian Luar Negeri Jepang, Iwao Horii; Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Arifin Tasrif, Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri; Menko Bidang Pembangunan SDM dan Kebudayaan, Puan Maharani; Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga; Wakil Ketua Japan Indonesia Association, Kojiro Shiojiri; Presiden Direktur PT TMMIN, Warih Andang Tjahjono. - Bisnis.com

Hubungan diplomatik Indonesia-Jepang telah berlangsung selama 6 dasawarsa. Tahun ini, persahabatan kedua negara diperingati dengan berbagai kegiatan, termasuk Festival Indonesia di Hibiya Park, Tokyo, 28—29 Juli 2018. Dalam rangka peringatan 60 tahun persahabatan itu, saya dan beberapa jurnalis dari Indonesia berkunjung ke Tokyo atas undangan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia—pabrikan mobil yang 95% sahamnya dimiliki oleh Toyota Motor Corporation (TMC).

Berikut ini laporannya.

Setelah sempat tertunda, seremoni pembukaan secara resmi Festival Indonesia akhir terlaksana di hari kedua, Sabtu (29/7/2018).  Sejumlah pejabat dan tokoh dunia usaha dari kedua negara hadir, termasuk Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

Penundaan seremoni tersebut lantaran pada hari tersebut Badai Topan Jongdari diprakirakan mulai menghantam Tokyo. Memang, pada hari itu beberapa kawasan, seperti di pusat perbelanjaan Ginza, sempat diguyur hujan lebat disertai angin kencang. Beberapa payung para pejalan kaki tampak patah dan rusak terhantam angin.

Sementara di Hibiya Park, ancaman badai dan gerimis pagi rupanya tak menyurutkan para delegasi Indonesia untuk melakukan persiapan festival. Stan-stan yang berjumlah sekitar 150-an unit sudah berdiri. Bahkan, materi dan alat pameran sudah tertata, juga para petugasnya yang berdandan rapi.

Masyarakat juga bersemangat datang. Wajah Jepang, wajah Indonesia, juga wajah bule mulai menyesaki taman penuh pepohonan yang sudah disulap menjadi arena pameran. Tua, muda, hingga anak-anak.

Meski belum dibuka resmi, beberapa delegasi spontan mengambil inisiatif menggelar atraksi untuk menyambut pengunjung, seperti Tarian Sisingaan dan Silat Karawang yang dibawa Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Antraksi yang sesekali melibatkan penontonnya sukses membuat riuh gelak tawa, dan tepuk tangan. Kegembiraan itu sepertinya membuat mereka yakin badai pasti (akan) berlalu.

Nyatanya, hingga hari kedua stan, dan anjungan masih berdiri kokoh. Bahkan, panggung utama sudah berhias. Meski beberapa media mengabarkan akan adanya badai susulan di Tokyo, para pejabat kedua negara, dan tokoh dunia usaha dari kedua negara tetap hadir pagi itu.

Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan; Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM; Arifin Tasrif, Duta Besar Indonesia untuk Jepang; dan Rachmat Gobel, Utusan Khusus Presiden untuk Jepang; dan pejabat Kedubes Jepang untuk Indonesia. Bahkan, presiden kelima Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Adapun pejabat pemerintah Jepang yang hadir yakni Iwao Horii, Parliamentery Vice Minister Kementerian Luar Negeri Jepang; dan Shigeru Sugawara, Wali Kota Kesennuma, Perfektur Miyagi.

Dunia usaha Jepang diwakili oleh Wakil Ketua Japan Indonesia Association Kojiro Shiojiri, adapun dari Indonesia diwakili Warih Andang Tjahjono, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Festival Indonesia di Hibiya Park, Tokyo, adalah rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia—Jepang, yang digelar oleh kedutaan besar kedua negara sepanjang tahun ini.

Perayaan pertama dilakukan di Jakarta (19 Januari), dilanjutkan di Medan dan Surabaya (23 Januari), Bali (26 Januari), dan Makassar (11 Februari 2018). Setelah di Tokyo, perayaan akan dilanjutkan di beberapa kota di Jepang, seperti Osaka, Fukuoka, Nagoya, Hiroshima, dan Hokkaido.

“Kami membawa delegasi kesenian dan budaya Indonesia dari Jawa, Sumatera, hingga Papua,” ujar Dubes Arifin Tasrif. Festival ini juga melibatkan penampilan kesenian dan budaya Jepang, dan serta kolaborasi penampilan kesenian Indonesia dan Jepang. “Hubungan Indonesia-Jepang telah berjalan baik, dan meningkat sejak 60 tahun terakhir. Kami berharap ke depan akan semakin erat dan kuat.”

INDUSTRI MANUFAKTUR

Hubungan diplomatik Indonesia – Jepang dimulai sejak ditandatanganinya Perjanjian San Francisco pada 20 Januari 1958.  Sejak saat itu, kedua mitra strategis ini terus memperkuat kerja sama di berbagai bidang, tidak hanya ekonomi namun juga sosial dan budaya.

Investasi di Jepang di Indonesia terus meningkat, dan saat ini menjadi investor terbesar kedua. Jepang merupakan investor terbesar kedua di Indonesia dengan nilai investasi mencapai US$5 miliar pada 2017, sedangkan total perdagangan kedua negara naik 13,54% menjadi US$33,03 miliar. (lihat table)

Investasi Jepang di Indonesia

Tahun

Nilai

2010

US$713 miliar

2011

US$1,5 miliar

2012

US$2,3 miliar

2013

US$4,7 miliar

2014

US$2,7 miliar

2015

US$2,8 miliar

2016

US$5,4 miliar

2017

US$5,0 miliar

Sumber: BKPM, 2018

Menariknya, sekitar 87% investasi Jepang sejak 2010 direalisasikan di industri manufaktur dan telah berkontribusi terhadap industrialisasi di Indonesia, menciptakan banyak lapangan kerja, dan mendukung ekspor nasional.

Saat ini ada 1.800 perusahaan Jepang di Indonesia, dan sejak 1978 Indonesia telah mengirimkan tenaga kerja di sektor nurse dan careworker ke Jepang. "Terjalin juga kerja sama bidang pendidikan dan pertukaran pelajar, riset, seni dan budaya, hingga perfilman," ujar Puan Maharani.

Saat ini ada 42.000 warga negara Indonesia di Jepang, dan 5.600 orang di antaranya adalah pelajar. Wisatawan Jepang yang ke Indonesia mencapai 500.000 orang per tahun, sedangkan wisatawan Indonesia yang ke Jepang sebanyak 300.000 orang.

Tahun ini, Indonesia akan kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games, setelahpesta olahraga Asia itu terakhir kali digelar pada 1962. Puan menyampaikan apresiasi kepada Jepang atas partisipasinya dalam Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.

Ajang olahraga ini akan menjadi pembuktian bagi Indonesia setelah sebelumnya sejumlah negara gagal menjadi tuan rumah.

Seperti Indonesia, Jepang juga memiliki pengalaman menjadi tuan rumah perhelatan olahraga dunia. Iwao Horii mengatakan bahwa telah berhasil mencapai masa keemasan secara ekonomi dan menjadi tuan rumah Olimpiade pada 1964.

Untuk menyambut Olimpiade Tokyo itu, Jepang bahkan berhasil meluncurkan Shinkansen, kerete tercepat di dunia untuk pertama kalinya pada 1 Oktober 1964. Ini membuktikan bahwa Jepang mampu membangun kembali negaranya dengan cepat akibat kehancuran akibat Perang Dunia II, atau pun dalam waktu 10 tahun setelah hubungan persahabatan Indonesia-Jepang dijalin.

Horii mengatakan bahwa peringatan 60 tahun hubungan Indonesia-Jepang ini memiliki makna yang sangat penting. "Setelah 60 tahun berjalan hubungan persahabatan dan kerja sama yang erat, peringatan tahun ini batu lompatan berikutnya untuk kerja sama dan persahabatan 6o tahun ke depan yang lebih erat."

Menurut Rachmat Gobel, Indonesia memiliki sumber daya yang berlimpah. Salah satu hal yang penting bagi Indonesia adalah bagaimana membangun Industrinya semakin maju dan berkembang. Kata kuncinya ialah daya saing, sehingga tetap menarik bagi investor. Lebih utama lagi adalah menjalin hubungan baik investor yang mau membangun industri di Indonesia.

Oleh karena itu, strategi kebijakan pemerintah perlu diarahkan untuk membangun dan memperkuat industri secara konsisten dan berkelanjutan. “Adanya perubahan global, kata dia, tentu harus disikapi dengan tetap mempertimbangkan kemajuan industri, yang memberi nilai tambah tinggi dan menyerap tenaga kerja.”

Andang Warih Tjahjono mengatakan bahwa bahwa ada empat faktor yang perlu disiapkan untuk menyongsong perubahan industrialisasi, yakni regulasi, infrastruktur,masyarakat konsumen, danjaringan pasokan, sehingga Indonesia tetap memiliki daya saing dan mengambil peran lebih besar dalam era persaingan global.

“Semua pihak harus mengambil peran masing-masing untuk memberi kontribusi pada Indonesia. Jangan malah nggondeli sehingga Indonesia tidak bisa maju,” ujarnya.

Sejak awal masuk Indonesia pada 1971, Toyota telah membenamkan investasi lebih dari Rp50 triliun. Bemula dari importir mobil, merek otomotif Jepang ini membangun perakitan di Indonesia dan kini telah menjadi eksportir mobil ke lebih dari 80 negara di dunia.

Sejak awal kehadirannya, Toyota berkeinginan kuat menjadi lokomotif penggerak perkembangan  industri  otomotif  Indonesia.

Seperti perjalanan hubungan diplomatik Indonesia-Jepang yang segera memasuki lompatan 60 tahun kedua, Toyota dan pelaku industri lainnya di Indonesia akan terus berupaya lebih keras lagi untuk bisa memberikan sumbangsih yang jauh lebih besar dan lebih berarti kepada negara dan bangsa Indonesia.

Dengan komitmen hubungan persahabatan antarkedua negara yang lebih erat, rasanya tidak mustahil keberhasilan berikutnya akan diraih bersama-sama. ()

Tag : Festival Indonesia di Tokyo
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top