Ekonomi China Melambat Pada Kuartal II/2018

Pertumbuhan ekonomi China melambat pada kuartal II/2018. Hal itu disebabkan upaya pemerintah yang ingin mengurangi risiko menggunungnya utang bersamaan dengan meningkatnya tensi perdagangan dari AS.
Dwi Nicken Tari | 16 Juli 2018 16:18 WIB
ilustrasi - jibiphoto

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi China melambat pada kuartal II/2018. Hal itu disebabkan upaya pemerintah yang ingin mengurangi risiko atau deleveraging atas menggunungnya utang bersamaan dengan meningkatnya tensi perdagangan dari AS.

Biro Stasistik Nasional China mencatat, perekonomian China secara tahunan (year-on-year/YoY) turun 0,01% ke level 6,7% pada kuartal II/2018, atau sesuai dengan perkiraan ekonom. Sementara secara kuartalan, ekonomi China naik 0,28% ke level 1,8% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Adapun data aktivitas perekonomian China juga menunjukkan tren perlambatan momentum, yang turut mengindikasikan perlambatan pertumbuhan. Oleh karena itu, analis mengimbau agar pemerintah segera mengambil langkah-langkah yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi China.

"Pemerintah harus mengurangi deleveraging keuangan dan lebih fokus kepada langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan. Misalnya dengan menaikkan likuiditas lewat pemangkasan cadangan minimum perbankan (reserve requirement ratio/RRR)," kata Iris Pang, Ekonom Wilayah China di ING, Hong Kong, seperti dikutip Bloomberg, Senin (16/7/2018).

Menurutnya, otoritas China juga perlu meningkatkan kebijakan pendukung, seperti dari sisi fiskal dan moneter, jika situasi perlambatan semakin memburuk.

Adapun belakangan ini, Pemerintah China masih sibuk menghadapi masalah gundukan utang korporasi akibat ulah pemberi pinjaman berisiko, seperti perbankan bayangan (shadow-banking).

Untuk itu, Bank Sentral China (PBOC) pun mengalirkan lebih banyak dana tunai dengan memotong RRR bagi pemberi pinjaman. Sepanjang tahun berlajan, otoritas moneter dan keuangan China tersebut telah memotong RRR sebanyak tiga kali.

Ekonom dari Nomura menyebutkan di dalam catatannya baru-baru ini, PBOC diharapkan untuk kembali memangkas RRR sekali lagi sebelum akhir tahun sebesar 100 bps dan meningkatkan dana langsung untuk ekonomi ril lewat perangkat injeksi likuiditas, seperti fasilitas peminjaman suplementari.

Sementara itu, tensi dagang dengan Amerika Serikat juga mengancam outlook perekonomian China. Pasalnya, hal itu dapat memengaruhi kinerja ekspor Negeri Panda kendati data pada pekan lalu menunjukkan ekspor China melaju pada Juni. Namun, analis menilai, lonjakan itu terjadi karena eksportir melakukan antisipasi sebelum tarif impor diberlakukan oleh AS.

Adapun yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah China kembali mencatatkan surplus perdagangan dengan AS. Hal itu diperkirakan dapat memicu pengukuran tarif lainnya dari Pemerintahan Trump.

Setelah memberlakukan tarif sebesar 25% untuk produk impor China senilai US$34 miliar, AS kembali mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 10% untuk impor China senilai US$200 miliar.

Adapun data lain yang dirilis NBS adalah pertumbuhan investasi aset tetap (fixed asset investmet) China yang selama tahun berjalan pada kuartal II/2018 turun ke rekor level terendahnya menjadi 6,0% dibandingkan tahun lalu. Sementara hasil produksi industri pada Juni turun ke level 6,0% atau lebih rendah dari perkiraan ekonom di level 6,5%. Selanjutnya, data penjualan ritel berhasil naik 9,0% dari tahun sebelumnya, atau sesuai dengan perkiraan pasar. 

 

Sumber : Bloomberg

Tag : ekonomi china
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top