Merkel Desak Kesepakatan Isu Migran Sebelum KTT UE

Kanselir jerman Angela Merkel akan mencari kesepakatan langsung dengan pemimpin-pemimpin Uni Eropa terkait isu migrasi. Secara tidak langsung, dia memberikan sinyal bahwa Benua Biru gagal mendapatkan solusi bersama untuk isu yang dapat mengancam pemerintahannya.
Dwi Nicken Tari | 25 Juni 2018 18:07 WIB
Kanselir Jerman Angela Merkel. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Kanselir jerman Angela Merkel akan mencari kesepakatan langsung dengan pemimpin-pemimpin Uni Eropa terkait isu migrasi. Secara tidak langsung, dia memberikan sinyal bahwa Benua Biru gagal mendapatkan solusi bersama untuk isu yang dapat mengancam pemerintahannya.

“Akan ada kesepakatan bilateral dan trilateral, tentang bagaimana kita membantu satu sama lain, tidak harus selalu menunggu seluruh 28 anggota,” katanya, seperti dikutip Reuters, Senin (25/6/2018).

Adapun, sejak masuknya lebih dari sejuta pengungsi dan migran pada 2015 ke kawasan UE, para pemimpin UE telah semakin kesulitan untuk mengendalikan mereka.

Pendapat berbeda yang dimiliki satu sama lain telah melemahkan persatuan UE dan dapat mengancam area bebas atau area Schengen di Eropa.

Untuk itu, sebanyak 16 pemimpin UE telah bertemu di dalam pembicaraan darurat di Brussels pada Minggu (24/6/2018). Mereka berharap dapat membentuk kesepakatan terkait isu migrasi untuk diajukan di KTT UE pada 28-29 Juni 2018.

Mereka akan membentuk pengetatan batas luar dan memberikan sejumlah uang untuk negara asing dalam upaya membatasi warga negara asing memasuki Eropa.Namun, mereka tidak mencapai kesepakatan mengenai siapa yang akan mencari suaka dan menjalankannya.

Adapun Jerman adalah negara yang paling banyak didatangi migran baru-baru ini. Oleh karena itu, Merkel banyak mendapat tekanan untuk mengambil sikap terkait hal tersebut karena koalisi pemerintahannya yang menjadi taruhan.

Sementara itu, Presiden Perancis Emmanuel Macron telah menawarkan dukungannya. Dia mengatakan, solusi migran harus disetujui seluruh “’Eropa’, namun persetujuan beberapa negara Eropa saja sebenarnya sudah cukup.

Data PBB menunjukkan, hanya sekitar 41.000 jiwa yang menembus UE lewat jalur laut pada tahun ini. Namun, jajak pendapat opini memperlihatkan isu migrasi telah menjadi kekhawatiran besar bagi warga negara UE yang berjumlah 500 juta jiwa.

Sejak 2015, migrasi ikut menentukan hasil pemilu di seluruh penjuru Benua Biru, mulai dari Italia hingga Hungaria, di mana para pemilih menginginkan aksi yang nyata terhadap migran.

Sebagai respons, UE telah berubah semakin ketat terhadap pencari suaka dan menekan jumlah kedatangan pengungsi, sebuah strategi yang disuarakan oleh kelompok sayap kanan.

Tag : uni eropa, Brexit
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top